Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cerita Nadin Amizah Diproduseri Feby Putri, Lewati 5 Kali Revisi

5 min read
Cerita Nadin Amizah Diproduseri Feby Putri, Lewati 5 Kali Revisi
potret Nadin Amizah (dok. Sorai)
  • Nadin Amizah berkolaborasi perdana dengan Feby Putri untuk “Tamu Berwajah Itu”, yang mengalami lima revisi setelah draft awalnya terlalu bernuansa elektronik dan EDM.
  • Album Laika, yang Ditinggalkan, dirilis 28 Agustus 2026 dengan 11 lagu dan 10 produser, dipilih Nadin berdasarkan karakter suara yang dibutuhkan tiap lagu.
  • Nadin juga bekerja dengan Jay Ragsdale dan Baskara Putra; ia menjelaskan konteks budaya “durhaka” kepada Ragsdale, sementara lagu bersama Baskara selesai relatif cepat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Nadin Amizah menghadirkan sejumlah kolaborasi menarik dalam album penuh ketiganya berjudul Laika, yang Ditinggalkan. Resmi dirilis pada 28 Agustus 2026, album tersebut menggandeng 10 produser untuk 11 track berbeda.

Feby Putri pun menjadi salah satunya. Dalam wawancara eksklusif via Zoom bersama IDN Times, Selasa (15/9/2026), Nadin menceritakan bahwa ini merupakan pengalaman pertamanya diproduseri oleh pelantun lagu “Runtuh” tersebut.

Kolaborasi mereka pun melahirkan lagu “Tamu Berwajah Itu”. Namun, sebelum akhirnya bisa didengar di berbagai platform musik, Nadin mengungkapkan bahwa lagu tersebut sempat melewati lima kali revisi. Kok bisa?

  1. 1. Cerita Nadin Amizah perdana diproduseri Feby Putri, lewati lima kali revisi

    Potret Nadin Amizah dalam dokumentasi Sorai dengan fokus pada sosoknya sebagai subjek utama dalam bingkai.
    potret Nadin Amizah (dok. Sorai)

    Kepada IDN Times, Nadin Amizah menceritakan bahwa kolaborasinya dengan Feby Putri berawal dari ketertarikannya dengan karakter musik yang selama ini dibangun oleh penyanyi asal Makassar tersebut melalui karya-karyanya.

    Menurut Nadin, awalnya Feby sempat merasa ragu menerima tawaran tersebut karena belum pernah memproduseri lagu seorang diri. Selama ini, Feby biasa menggarap musik bersama sang suami, Adam Febrian. Setelah berkenalan, Nadin pun mengetahui bahwa selama ini Adam berperan sebagai produser, sementara Feby terlibat sebagai co-producer.

    Meski begitu, Nadin tetap ingin bekerja sama dengan Feby dan menyampaikan berbagai arahan kreatifnya secara langsung kepadanya. Apalagi, Nadin juga merasa lebih dekat dengan Feby sehingga lebih nyaman menjelaskan seperti apa warna musik yang ingin ia hadirkan dalam lagu “Tamu Berwajah Itu.”

    “Masalahnya, pada saat itu kita belum pernah kenalan dan aku gak tahu suaminya biasa nge-produce sejauh apa. Terus akhirnya kita kenalan, terus ternyata memang sejauh ini, Adam yang nge-produce, Feby tuh co-produce gitu. Tapi aku tetap ngejelasin semuanya ke Feby karena aku lebih dekat sama Feby,” kata Nadin Amizah.

    Meskipun memiliki karakter musik yang serupa, Nadin mengaku tetap menemukan dinamika tersendiri saat menggarap lagu bersama Feby. Ia menceritakan, draft awal “Tamu Berwajah Itu” terkesan cukup berbeda dari bayangannya karena terasa lebih kental dengan unsur elektronik dan nuansa EDM. Dari situlah proses eksplorasi mereka dimulai hingga lagu tersebut melewati lima kali revisi bentuk. Nadin bahkan sempat merasa tak enak hati ke Feby Putri karena harus beberapa kali menyampaikan masukan demi menemukan warna lagu yang benar-benar sesuai.

    “Aku sampai agak gak enak untuk nge-revisi. Waktu awalnya, lagunya lebih kayak EDM. Jadi kayak lebih banyak unsur-unsur electronical yang menurut aku, ini bukan ini yang mau gue sampaikan. Akhirnya yang ‘Tamu Berwajah Itu’, 5 kali revisi,” lanjut penyanyi kelahiran Bandung tersebut.

    Kendati demikian, Nadin menegaskan bahwa pengalaman perdana diproduseri oleh Feby Putri ini meninggalkan kesan mendalam baginya. Hal ini karena Feby selalu terbuka dan memberinya ruang untuk mengeksplorasi lagu tersebut hingga menemukan versi yang dirasa pas.

  2. 2. Alasan Nadin Amizah gandeng 10 produser untuk album Laika, yang Ditinggalkan

    Potret penyanyi Nadin Amizah yang didokumentasikan oleh Sorai untuk kebutuhan materi publikasi resmi.
    potret Nadin Amizah (dok. Sorai)

    Nadin Amizah menyebut bahwa ia merupakan tipe musisi yang memilih produser berdasarkan karakter suara yang ingin ia sampaikan lewat setiap lagu. Ia merasa warna musik tersebut tidak selalu bisa dihadirkan oleh satu produser saja.

    Menurut Nadin, meski ada beberapa produser yang versatil, seperti Lafa Pratomo dan Baskara Putra (Hindia), setiap produser tetap memiliki kekuatan dan pendekatannya masing-masing. Karena hal tersebut, ia pun mantap melibatkan 10 produser sekaligus dalam Laika, yang Ditinggalkan.

    “Aku tipe orang yang mencari produser sesuai sama suara apa yang ingin aku sampaikan di lagunya. Nah, kebetulan suara-suara tersebut menurut aku tidak bisa dilakukan oleh satu produser. Walaupun kita kenal gak banyak produser yang versatil, kayak ada salah satunya lafa, Baskara, tapi aku merasa mereka punya kekuatan masing-masing. Makanya aku berani untuk pilih si 10 produser itu.”

    Selain beberapa nama seperti Feby Putri, Lafa Pratomo, Baskara Putra (Hindia), Enrico Octaviano, dan Otta Tarego, album Laika, yang Ditinggalkan juga melibatkan seorang produser asal Amerika Serikat, Jay Ragsdale lewat lagu “Reservasi untuk Dua.”

    Bagi Nadin, pengalaman diproduseri Ragsdale tersebut menjadi salah satu yang berkesan baginya. Bukan karena proses produksinya, tetapi karena Nadin harus menjelaskan konteks budaya Indonesia yang begitu kuat di dalam lagu tersebut. Salah satunya soal kata ‘durhaka’ hingga ia harus menjelaskan kepada sang produser tentang seberapa berat makna kata tersebut bagi masyarakat Indonesia.

    “Itu susah banget karena aku harus ngejelasin durhaka itu apa. Sedangkan aku baru sadar ternyata durhaka tuh cultural banget. Karena bahkan sama orang muslim, mungkin kalau kamu tinggal di Amerika, durhaka itu sebenarnya gak ada direct translation-nya.”

    Nadin melanjutkan, “Untuk mengerti lagunya seberat apa kan harus mengerti dulu durhaka itu bagi orang Indonesia, seberat apa? Rasanya kalau seorang anak udah dibilang, ‘Durhaka kamu. Nah, itu rasanya dunia udah hancur bagi dia. Bayangin itu baru satu kata, gue harus ngejelasinnya berapa puluh kata, berapa ratus kata sepenuh lirik itu.”

    Meski gak mudah, Nadin tak menampik bahwa proses tersebut juga menjadi pengalaman yang menarik baginya. Saat menjelaskan makna di balik setiap bagian lagu, ia merasa menemukan kembali kedalaman cerita yang sebelumnya mungkin belum ia sadari.

    “Rasanya aku sendiri saat proses menjelaskan, aku jadi lebih berkaca lagi terhadap lagunya.”

  3. 3. Pengerjaan lagu bareng Baskara Putra jadi yang salah satu yang tercepat

    Potret Nadin Amizah dalam dokumentasi Sorai, dengan wajahnya menjadi fokus utama pada komposisi visual.
    potret Nadin Amizah (dok. Sorai)

    Nadin Amizah juga mengungkapkan proses di balik pengerjaan salah satu lagu dalam album Laika, yang Ditinggalkan” bersama Baskara Putra. Menurutnya, kolaborasi mereka juga tetap melewati proses revisi. Namun, proses pengerjaannya terbilang singkat, bahkan lagu tersebut menjadi salah satu lagu yang paling cepat selesai karena tidak memakan waktu hingga dua bulan.

    Kendati demikian, Nadin menceritakan bahwa sebenarnya mereka sudah mulai mengerjakan lagu tersebut sejak tahun lalu, namun sempat ditunda karena ia masih fokus menyelesaikan lagu-lagu lainnya.

    “Kita udah ngerjain ini dari tahun lalu, tapi ditunda karena aku masih ngerjain nulis yang lain. Lagu ini salah satu yang bukan prioritas untuk diproduksi segera. Jadi kurang lebih kalau dihitung dari itu setahun lebih prosesnya.”

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More