Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Perkembangan Film Resident Evil, dari Kritik hingga Dipuji

5 min read
Perkembangan Film Resident Evil, dari Kritik hingga Dipuji
Bryan dalam Resident Evil terbaru (dok. Columbia Pictures/Resident Evil)
  • Adaptasi live-action Resident Evil dimulai pada 2002 lewat karakter orisinal Alice, memicu respons terbelah karena jauh dari game, tetapi berkembang menjadi enam film berpendapatan sekitar 1,23 miliar dolar AS.
  • Film animasi CGI seperti Degeneration, Damnation, Vendetta, dan Death Island menawarkan cerita yang lebih terhubung dengan semesta game serta menampilkan karakter ikonik seperti Leon, Chris, Jill, Claire, dan Rebecca.
  • Reboot Welcome to Raccoon City dikritik karena cerita terburu-buru dan visualnya, sementara Resident Evil karya Zach Cregger mendapat respons lebih positif lewat atmosfer permainan meski tanpa tokoh ikonik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jika ditanya franchise game yang paling terkenal, bisa jadi orang akan langsung menjawab Resident Evil. Ia bukan sekadar franchise game horor, melainkan salah satu franchise game paling ikonik sepanjang masa. Berawal dari debut di PlayStation (PS1), Resident Evil terus berkembang hingga menghadirkan visual yang semakin realistis di konsol generasi terbaru (next-gen).

Popularitas Resident Evil ternyata tidak berhenti di industri game saja, bahkan sampai merambah ke perfilman. Jauh sebelum film Resident Evil (2026) karya Zach Cregger tayang dan mendapat respons positif, franchise ini telah berkali-kali diadaptasi menjadi film. Sayangnya, tidak sedikit dari adaptasi tersebut gagal memenuhi ekspektasi fans.

Mari kita flashback dan melihat bagaimana film adaptasi Resident Evil berevolusi dari masa ke masa.

  1. 1. Resident Evil pertama kali diadaptasi pada 2002 dengan karakter orisinal Alice

    Resident Evil
    Alice dalam film Resident Evil pertama (dok. Constantin Film/Resident Evil)

    Perjalanan Resident Evil di dunia perfilman dimulai tatkala Paul W.S. Anderson menggarap Resident Evil (2002), dibintangi oleh Milla Jovovich yang kelak menjadi istrinya. Meski memiliki judul yang sama dengan game pertamanya yang dirilis pada 1996, film ini sama sekali tidak mengambil cerita game tersebut secara langsung. Alih-alih menampilkan Jill Valentine dan Chris Redfield sebagai karakter utama, film Resident Evil justru memperkenalkan karakter orisinal bernama Alice (Jovovich) yang merupakan petugas keamanan Umbrella Corporation.

    Ketika pertama kali dirilis, film Resident Evil yang sebagian besar menjalani proses syuting di Berlin mendapat respons yang cukup terbelah. Sebagian penonton menikmati pendekatan aksi yang disuguhkan Anderson, tetapi tidak sedikit juga dari mereka yang merasa kecewa karena ceritanya melenceng jauh dari materi asli gamenya. Terlepas dari pro dan kontranya, film ini melahirkan salah satu adegan ikonik yang terus dikenang dalam sejarah film horor, yaitu ketika tim Umbrella terjebak dan dicincang oleh perangkap sinar laser milik kecerdasan buatan Red Queen.

  2. 2. Kesuksesan seri film Resident Evil tetap tak terlepas dari pro dan kontra

    Resident Evil
    Resident Evil: The Final Chapter (dok. Constantin Film/Resident Evil: The Final Chapter)

    Film Resident Evil yang digarap oleh Paul W.S. Anderson akhirnya berkembang menjadi sebuah franchise yang memiliki total enam film. Setelah Resident Evil, kiprah Alice pun berlanjut dalam Resident Evil: Apocalypse (2004), Resident Evil: Extinction (2007), Resident Evil: Afterlife (2010), Resident Evil: Retribution (2012), dan berakhir dengan Resident Evil: The Final Chapter (2016). Tak hanya menyajikan aksi yang epik, franchise film tersebut telah mendatangkan karakter-karakter ikonik dari semesta game Resident Evil.

    Dilansir Forbes, franchise film Resident Evil berhasil meraup pemasukan sekitar 1,23 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp22,93 triliun jika menggunakan kurs Rp17.830 per dolar Amerika Serikat. Meskipun begitu, tak dapat dipungkiri kalau franchise ini juga mendapat banyak kritikan, terutama dari fans setia Resident Evil. Di antara kritikannya adalah kemunculan Alice yang dianggap terlalu OP hingga karakter-karakter yang memiliki persona jauh berbeda dari versi gamenya.

  3. 3. Film animasi Resident Evil menawarkan pendekatan yang setia dengan game

    Resident Evil
    Resident Evil: Death Island (dok. Quebico/Resident Evil: Death Island)

    Pada saat franchise film Resident Evil terus memperluas lore-nya, fans turut disuguhkan Resident Evil: Degeneration (2008), yaitu film animasi Computer-Generated Imagery (CGI) yang diproduseri oleh Hiroyuki Kobayashi dari Capcom. Mengisahkan wabah T-Virus yang menyebar di bandara Harvardville, film ini menjadi jawaban bagi fans yang menginginkan film adaptasi yang lebih dekat dengan cerita game. Apalagi, Resident Evil: Degeneration tak sekadar menampilkan karakter ikonik, melainkan juga berlatar di semesta yang sama dengan versi gamenya, tepatnya setelah peristiwa Resident Evil 4 (2005).

    Seri film animasi Resident Evil kemudian berlanjut melalui Resident Evil: Damnation (2012) yang berlatar setelah Resident Evil 5 (2009) dan mengikuti perjalanan Leon saat menyelidiki keberadaan Bio-Organic Weapon (B.O.W.) di negara fiktif Slavia Timur. Setelah Resident Evil 6 (2012) dan sebelum Resident Evil 7: Biohazard (2017), Leon kembali beraksi bersama Chris dan Rebecca dalam Resident Evil: Vendetta (2017) untuk menghentikan penyebaran virus mematikan yang dikembangkan oleh seorang mantan anggota CIA. Lanjutan film ini, Resident Evil: Death Island (2023), mempersatukan Leon, Chris, Jill, Claire, dan Rebecca bak Avengers: Endgame (2019) untuk menyelidiki wabah baru yang berpusat di San Francisco dan pulau Alcatraz.

  4. 4. Resident Evil: Welcome to Raccoon City masih terjebak masalah lama

    Resident Evil
    Leon dan Claire dalam Resident Evil: Welcome to Raccoon City (dok. Constantin Film/Resident Evil: Welcome to Raccoon City)

    Mengadaptasi game ke dalam film live action tentu menjadi tantangan besar bagi para sineas, apalagi jika game yang diangkat memiliki fanbase yang sangat kuat. Setelah perjalanan Alice berakhir, Resident Evil kembali diadaptasi ke layar lebar lima tahun kemudian melalui sebuah proyek reboot. Berjudul Resident Evil: Welcome to Raccoon City (2021), film ini mengisahkan Claire (Kaya Scodelario), Chris (Robbie Amell), Jill (Hannah John-Kamen), dan Leon (Avan Jogia) yang berusaha membongkar rahasia Umbrella Corporation setelah wabah T-Virus menyebar di Raccoon City.

    Resident Evil: Welcome to Raccoon City sejatinya mencoba setia dengan materi asli dari game, tetapi eksekusinya masih jauh dari kata memuaskan. Film garapan Johannes Roberts tersebut mendapat banyak komentar negatif karena penceritaannya terasa terburu-buru serta efek visual yang seolah mengingatkan penonton pada game jadul era PlayStation 2 (PS2). Berisi banyak referensi dan easter egg, Resident Evil: Welcome to Raccoon City seolah hanya menjadi bahan nostalgia bagi fans sejati yang mengenal gamenya.

  5. 5. Tanpa tokoh ikonik, Resident Evil (2026) karya Zach Cregger tampil solid

    Resident Evil
    Bryan dalam Resident Evil (dok. Columbia Pictures/Resident Evil)

    Dalam beberapa tahun terakhir, nama Zach Cregger memang sedang tenar-tenarnya. Sutradara sekaligus produser berkebangsaan Amerika Serikat tersebut telah menggarap Barbarian (2022) dan Weapons (2025), dua film horor yang menawarkan konsep berbeda dari kebanyakan film sejenis. Cregger akhirnya dipercaya untuk menggarap reboot Resident Evil live action untuk kedua kalinya setelah kegagalan Resident Evil: Welcome to Raccoon City.

    Sekilas, Cregger mengambil pendekatan yang mirip dengan film Resident Evil karya Paul W.S. Anderson, yaitu sama-sama menghadirkan karakter orisinal sebagai tokoh utama. Alih-alih membuatnya OP macam Alice, Cregger memilih menampilkan Bryan (Austin Abrams) sebagai manusia biasa yang belum terlalu memahami seluk-beluk dunia Resident Evil. Lagi-lagi, film ini tidak lolos dari kritik sebab absennya Leon dkk., tetapi kekurangan tersebut berhasil ditutup lewat berbagai elemen yang membuat penonton seakan sedang bermain game Resident Evil, mulai dari persediaan yang sangat terbatas hingga perspektif kamera yang kadang beralih ke over-the-shoulder maupun first-person.

    Setelah berkali-kali mendapat kritikan, film adaptasi Resident Evil akhirnya mulai mendapat respons yang jauh lebih positif tanpa harus terpaku pada cerita gamenya. Menurutmu, apakah film Resident Evil garapan Zach Cregger sudah layak disebut sebagai salah satu film adaptasi game terbaik sepanjang masa seperti yang disebut oleh banyak kritikus?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More