Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Deddy Corbuzier Bagikan Tips Bikin Podcast, Kualitas Suara Jadi Kunci
Potret Deddy Corbuzier saat dijumpai usai press conference di Jakarta Selatan, Kamis (20/8/2026) (IDN Times/Juan Dwi)
  • Deddy Corbuzier meminta kreator tidak terpaku pada jumlah penonton, melainkan mengangkat pengetahuan dan keahlian unik lewat podcast untuk membuka peluang.

  • Menurut Deddy, kualitas audio dan cara berbicara menentukan kenyamanan audiens; ia memakai headphone untuk memantau serta mengontrol suaranya saat rekaman.

  • Deddy terbiasa podcast tanpa question list dan membiarkan percakapan mengalir setelah mempelajari narasumber, sementara Coach Tom menekankan pentingnya bintang tamu ahli dan topik relevan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Artis Deddy Corbuzier berbagi sejumlah tips bagi para kreator yang ingin membuat podcast. Sebagai pendiri podcast Close The Door yang populer di Tanah Air, YouTuber 49 tahun itu ternyata memiliki cara agar sebuah podcast tak sekadar ditonton, tetapi juga membuat audiens betah menyimak sampai selesai.

Ternyata, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat membuat konten siniar, mulai dari memperhatikan kualitas suara hingga memanfaatkan pengetahuan yang dimiliki kreator itu sendiri. Lalu, apa saja tips membuat podcast dari Deddy Corbuzier?

1. Jangan terpaku pada jumlah audiens, buat podcast sesuai knowledge

Potret Deddy Corbuzier dalam press conference Indonesian Podcast Festival yang digelar di Jakarta, Kamis (20/8/2026) (IDN Times/Juan Dwi)

Deddy Corbuzier mengingatkan para kreator agar tidak terlalu terpaku pada besaran angka penonton saat membuat podcast. Menurutnya, jumlah audiens yang belum terlalu besar bukan berarti konten tersebut tidak memiliki nilai. Bagi Deddy, angka sebesar 800-1.000 penonton sebenarnya sudah cukup besar jika dilihat dari perspektif yang berbeda.

"Sekarang banyak yang stres, 'Yang nonton saya cuma 800 orang.' Kalau 800 orang demo di Bundaran HI, rame lho itu. 800 orang dikumpulin, satu Senayan, lho itu. Nah, ya karena mereka cuma lihat number-nya. 800 orang, gimana caranya ngumpulin 800 orang?" kata Deddy dalam press conference di Jakarta Selatan, Kamis (20/8/2026).

Alih-alih terpaku pada jumlah audiens, Deddy lebih menyarankan kreator memanfaatkan podcast sebagai media untuk memperkenalkan pengetahuan dan keahlian yang mereka miliki. Ia bahkan mendorong orang-orang membuat konten sendiri berdasarkan knowledge yang belum tentu dimiliki orang lain.

"Make your own content. Make your own podcast one day, karena kamu punya knowledge yang orang lain belum tentu punya. Dari situ akan membuka peluang-peluang, pintu yang luar biasa yang mungkin tidak pernah berpikir bahwa itu bisa terjadi. The more people knowing you, with your knowledge, with your ability, with your skill, the more people will get attached to you, the more business you will have, the more money you will have," imbuhnya.

2. Bagi Deddy, kualitas suara dan cara bicara jadi kunci

Potret press conference Indonesian Podcast Festival yang digelar di Jakarta Selatan, Kamis (20/8/2026) (IDN Times/Juan Dwi)

Kualitas suara dan cara berbicara menjadi salah satu hal penting bagi Deddy dalam membuat podcast. Ia menilai, kedua aspek tersebut dapat memengaruhi kenyamanan audiens saat mengikuti pembahasan dalam durasi panjang. Terlebih lagi, seorang podcaster perlu memastikan suara yang dihasilkan tetap nyaman didengar audiens.

Deddy pun mengaku masih menggunakan headphone ketika membuat podcast. Menurutnya, perangkat tersebut sangat membantu untuk memantau kualitas audio selama podcast sehingga ia bisa langsung mengetahui dan mengontrol perubahan suara yang berpotensi mengganggu pendengar.

"Makanya saya mungkin salah satu podcaster yang masih pakai headphone sampai sekarang karena saya bisa kontrol. Ketika saya ketawa, saya denger suara saya, saya bisa mundur sedikit. Saya bisa menengok ke kanan suara saya hilang. Saya bisa kontrol itu. Kalau saya denger suara saya aja saya gak suka, gimana penonton denger suara saya?" terang Deddy.

3. Deddy terbiasa tak pakai question list, biarkan podcast mengalir

Potret Deddy Corbuzier saat dijumpai usai press conference di Jakarta Selatan, Kamis (20/8/2026) (IDN Times/Juan Dwi)

Selain itu, Deddy juga memiliki cara tersendiri dalam menjaga percakapan di podcast agar tetap natural. Ia mengaku, tidak pernah menggunakan question list atau daftar pertanyaan saat berbincang dengan bintang tamu. Walau demikian, bukan berarti Deddy datang tanpa persiapan.

Sebelum podcast dimulai, Deddy terlebih dahulu mempelajari sosok yang akan diundang. Setelah mengetahui siapa narasumbernya, ia kemudian membiarkan percakapan berkembang secara spontan tanpa terpaku pada daftar pertanyaan.

"Kalau saya pribadi, ketika podcast tidak pernah ada question list. Jadi saya pelajari dulu orangnya, saya tahu ini siapa. Nah begitu mulai, sudah, tidak punya question list. Makanya kadang-kadang, peak-nya tuh setelah 5 menit, 10 menit, karena di awal-awal pasti bercanda dulu, ngobrol dulu, dan sebagainya," ucapnya.

4. Bintang tamu dan topik yang relevan juga penting

Potret press conference Indonesian Podcast Festival yang digelar di Jakarta Selatan, Kamis (20/8/2026) (IDN Times/Juan Dwi)

Sementara bagi founder Top Coach Indonesia, Coach Tom MC Ifle, pemilihan bintang tamu dan topik yang relevan turut menjadi faktor penting. Pasalnya, kehadiran narasumber ahli untuk membahas topik yang relevan membuat audiens bertahan menyaksikan podcast dalam durasi panjang.

"Gimana caranya orang bisa stay lama di podcast? Kalau dari saya adalah bintang tamunya. Orang mau dengar pendapat mereka. Kedua adalah topik yang dibahas harus relevan dengan isu yang ada sekarang, bisa relate dengan orang-orang yang mau nonton. Kalau ada ahlinya yang akan menjelaskan, mereka bisa menonton sampai panjang," kata Coach Tom.

Curated For You

Editorial Team

Related Article