Pada 2012, sebuah lagu rap yang catchy berjudul "Thrift Shop" menggemparkan dunia musik pop. Diciptakan oleh rapper asal Seattle bernama Macklemore, bersama rekan produsernya, Ryan Lewis, lagu ini menarik perhatian banyak orang dengan tema barang-barang keren yang bisa ditemukan di toko barang bekas (thrift shop). Bisa dibilang, lagu ini merupakan bentuk penolakan yang cukup tegas terhadap over consumption dan gaya hidup hedonisme berbalut merek-merek mewah yang kala itu mendominasi dunia musik rap. "Thrift Shop" berhasil menduduki peringkat pertama di tangga lagu Billboard Hot 100 dan bertahan di posisi itu selama 6 minggu.
Tahun berikutnya, duo ini kembali meraih posisi puncak di tangga lagu yang sama lewat lagu "Can't Hold Us", yang bertahan selama 5 minggu di peringkat pertama Billboard. Kesuksesan mereka terasa semakin mengesankan mengingat status mereka sebagai artis independen yang gak bernaung di bawah label besar. Jadi, mereka berhasil membangun basis penggemar lewat upaya akar rumput di luar mekanisme industri musik, yang memang lazim dalam mencetak bintang.
Seperti yang dijelaskan Macklemore dalam wawancaranya dengan podcast Nerdist. "Bukan hanya soal 'Thrift Shop', ada sikap mandiri (do it yourself) di balik musik yang kami ciptakan, dan sikap itu juga hadir dalam lagu 'Thrift Shop' ini."
Meskipun gak mengulangi kesuksesan tangga lagu seperti karya-karya awalnya, Macklemore tetap menjadi sosok yang patut diperhitungkan di dunia musik hingga saat ini. Bahkan, pada 4 September 2026, Macklemore tampil di "Loop Tour" Ed Sheeran di Stadion MetLife di New Jersey. Namun, penampilannya ini berujung kontroversi karena pernyataannya terkait dukungannya terhadap Palestina. Dilansir Billboard, Macklemore pun dikeluarkan dari "Loop Tour" setelah hanya tampil di dua pertunjukan. Pencopotannya ini diumumkan oleh promotor tur AS, Messina Touring Group, pada 14 September.
Nah, kamu pasti penasaran, kan, siapa Macklemore sebenarnya? Bagaimana ia bisa sukses dan kenapa ia sangat mendukung Palestina?
