- Genre: coming of age, drama
- Pemain: Anaïs Reboux, Roxane Mesquida
- Sutradara: Catherine Breillat
5 Film Garapan Perempuan yang Menolak Tradisi Male Gaze

- Artikel menyoroti lima film garapan sutradara perempuan yang menolak male gaze dengan menghadirkan karakter perempuan sebagai subjek beragensi, bukan objek fantasi pria.
- Fat Girl, Fish Tank, Morvern Callar, dan Mossane membedah tekanan patriarki, standar kecantikan, relasi timpang, serta stigma sosial yang membatasi pilihan hidup perempuan.
- Revenge menempatkan Jen sebagai penyelamat dirinya sendiri setelah mengalami kekerasan, tanpa mengeksploitasi adegan tersebut atau menunggu pahlawan pria.
Pernahkah kamu dibuat kesal saat melihat film yang dilabeli progresif, tetapi ternyata masih menggunakan male gaze di dalamnya? Misalnya, dengan tidak menyertakan agensi yang kuat dalam karakter perempuan (masih mengandalkan pria sebagai penyelamat), tidak menyensor adegan kekerasan seksual, atau bahkan secara sengaja mengarahkan fokus kamera ke bagian tubuh tertentu dari karakter perempuan seolah memang hendak memikat penonton pria heteroseksual.
Gak perlu disebut filmnya, tetapi kamu mungkin sudah risih sendiri mengingatnya. Sebagai bentuk perlawanan, kamu bisa nonton film garapan perempuan yang secara langsung maupun tidak sedang menolak male gaze. Alih-alih membiarkan karakter perempuan menjadi sosok yang sesuai dengan fantasi pria, mereka dibuat untuk mendobrak segala stigma yang biasa melekat.
1. Fat Girl (2001)

Fat Girl (dok. IFC Films/Fat Girl) Fat Girl adalah film yang mempolarisasi penonton. Meski berani menantang tradisi male gaze dan melontarkan kritik terhadap sistem patriarki, banyak yang gak setuju kalau film ini masuk kategori feminis. Premisnya tentang dua kakak beradik yang masih remaja, tetapi harus bergulat dengan dunia yang kejam terhadap perempuan tanpa arahan orangtua. Si kakak, Elena, adalah tipikal gadis populer yang memenuhi standar kecantikan normatif.
Ini bertolak belakang dengan si adik, Anais, yang dianggap kelebihan berat badan dan gak semenarik Elena. Berbeda, tetapi keduanya tak bisa lepas dari bayang-bayang ekspektasi gender yang pada akhirnya merugikan mereka.
Fat Girl dibuat oleh Breillat dengan pendekatan brutal, tragis, dan pesimistis, yang membuatnya memang kurang elemen pemberdayaan dan cenderung fokus pada viktimisasi perempuan. Namun, kamu tidak akan menemukan adegan yang sengaja mengeksploitasi tubuh perempuan tanpa tujuan seperti di beberapa film coming of age buatan sutradara pria.
2. Revenge (2017)

Revenge (dok. MUBI/Revenge) Film fitur debut Coralie Fargeat ini berpusat pada Jen, perempuan simpanan yang diajak pacar kayanya, Richard, berlibur di sebuah vila di lokasi terpencil. Tanpa persetujuannya, si pacar membawa serta dua rekan laki-lakinya untuk menginap dan berburu di lokasi itu. Di situlah kengerian terjadi. Jen diperkosa oleh salah satu rekan Richard dan mengalami syok berat.
Richard sempat marah besar kepada pelaku, tetapi berbalik membela rekannya setelah Jen menolak menerima uang bungkam. Drama kejar-kejaran antara Jen dan tiga pria yang hendak menghabisinya pun dimulai.
Revenge menolak untuk menggunakan male gaze dan memperlihatkan adegan kekerasan seksual. Ia juga menjadikan Jen sebagai penyelamat dirinya sendiri, ketimbang menanti pahlawan pria datang seperti di beberapa film masa lalu.
- Genre: thriller, revenge
- Pemain: Matilda Lutz, Kevin Janssens
- Sutradara: Carolie Fargeat
3. Fish Tank (2009)

Fish Tank (dok. Criterion/Fish Tank) Coba tonton Fish Tank untuk melihat bagaimana male gaze dicerabut dari sebuah film. Andrea Arnold dengan saksama meletakkan fokus kameranya kepada protagonis utama, Mia. Ia diceritakan sebagai putri tertua dari seorang ibu yang sebenarnya tak siap jadi orangtua sekaligus korban kemiskinan struktural.
Ketika Mia diceritakan terjebak dalam hubungan dengan pria lebih tua yang sebelumnya adalah kekasih ibunya, Arnold berhasil memotretnya tanpa elemen romantisasi. Lewat mikroekspresi Mia, kita justru disuguhi keraguan dan ketidaknyamanan yang ia rasakan selama hubungan tersebut berlangsung.
- Genre: drama, coming of age
- Pemain: Katie Jarvis, Michael Fassbender
- Sutradara: Andrea Arnold
4. Morvern Callar (2002)

Morvern Callar (dok. Roxy Cinema/Morvern Callar) Film lain yang menolak male gaze adalah Morvern Callar karya Lynne Ramsay. Judulnya diambil dari nama si protagonis, perempuan muda yang menemukan pacarnya bunuh diri pada malam Natal. Namun, tidak seperti karakter perempuan yang biasa dipotret di film-film garapan pria, Morvern tak merasakan kepedihan mendalam yang membuatnya hancur lebur.
Beberapa film dengan trope serupa bahkan meromantisasi kesetiaan karakter perempuan. Lynne Ramsay menolaknya, dan justru menceritakan bagaimana Morvern menemukan celah dari kematian itu. Ia menjual naskah novel sang mendiang kepada penerbit dan menggunakan uang itu untuk liburan.
- Genre: coming of age, drama
- Pemain: Samantha Morton
- Sutradara: Lynne Ramsay
5. Mossane (1996)

Mossane (dok. Trigon Film/Mossane) Mossane, seperti Fat Girl, berusaha memperlihatkan bagaimana perempuan dipandang dari kacamata male gaze. Bukannya meromantisasinya, Safi Faye justru menyuguhkan fakta betapa tak beruntungnya menjadi cantik di tengah masyarakat patriarkis. Mossane, contohnya, gadis 14 tahun yang pada usia sebelia itu sudah dipinang beberapa pria dan mau tak mau harus memilih salah satu. Orang berdalih ini demi kebaikannya karena banyak yang akan berkonflik dan cemburu bila ia tak segera jadi istri orang. Di sisi lain, Mossane juga harus melihat bagaimana ibunya terus disalahkan karena kondisi yang diidap adik laki-lakinya, seolah semua masalah berasal dari perempuan.
- Genre: coming of age, etnofiksi
- Pemain: Isseu Niang, Magou Seck
- Sutradara: Safi Faye
Menghindari male gaze saat mengonsumsi produk hiburan memang tak mudah. Sudah berakar kuat dan mirisnya masih dipertahankan sampai sekarang, satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah bijak menonton. Ungkap saja rasa gak nyamanmu sebagai bahan diskusi dan bekal berbenah. Walaupun gak bisa dimungkiri, banyak male gaze yang justru dipopulerkan oleh sutradara yang punya penggemar fanatik. Berani sebut?






















