Aktivisme memang diperlukan dan pantas diapresiasi. Lewat para pelaksananya, kamu bisa menikmati berbagai privilese yang mungkin dulu belum ada seperti hak cuti, kesetaraan gaji tanpa pandang gender, perlindungan privasi, dan lain sebagainya. Namun, ada juga aktivisme yang ternyata hanya bersifat performatif, yakni hanya dilakukan untuk kepentingan pembentukan reputasi atau citra belaka. Namun, performative activism bisa juga terjadi karena ketidaktahuan dan kesadaran yang belum utuh.
Pelakunya sering disebut dengan istilah hipokrit alias munafik. Masih sulit membayangkannya? Langsung tonton contoh konkretnya dalam 5 film tentang performative activism berikut. Langsung jelas, deh.
