Performative activism adalah bentuk dukungan terhadap isu sosial yang lebih banyak terlihat sebagai upaya menunjukkan kepedulian daripada benar-benar mendorong perubahan. Istilah ini sering digunakan untuk membicarakan unggahan, pernyataan, atau aksi yang tampak mendukung suatu gerakan, tetapi berhenti pada apa yang bisa dilihat orang lain tanpa diikuti kepedulian yang konsisten.
Tanda Dukunganmu mulai Terlihat seperti Performative Activism

- Performative activism terjadi ketika dukungan sosial lebih mengejar tampilan kepedulian daripada pemahaman dan upaya nyata mendorong perubahan.
- Tandanya meliputi ikut bersuara tanpa memahami isu, hanya peduli saat viral, serta lebih fokus pada penilaian, respons, dan citra diri di media sosial.
- Dukungan yang bertanggung jawab melibatkan keterbukaan terhadap kritik, kemauan belajar, serta tindakan di luar unggahan digital sesuai kemampuan dan kebutuhan isu.
Masalahnya, tidak semua bentuk dukungan yang dibagikan di ruang publik otomatis bisa disebut performative activism, karena menyebarkan informasi atau menunjukkan sikap juga dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran. Lalu, kapan dukungan yang kamu tunjukkan mulai lebih berfokus pada citra diri daripada isu yang sedang diperjuangkan? Yuk, kenali tanda dukunganmu mulai terlihat seperti performative activism berikut ini!
1. Lebih sibuk menunjukkan dukungan daripada memahaminya

ilustrasi media sosial (unsplash.com/Swello) Ketika sebuah isu sedang ramai, kamu mungkin merasa perlu ikut bersuara agar tidak dianggap apatis. Kamu mengganti foto profil, membagikan infografik, mengunggah tulisan panjang, atau memasang simbol tertentu di media sosial karena banyak orang melakukan hal serupa. Masalahnya muncul ketika semua itu dilakukan tanpa benar-benar mengetahui persoalan yang sedang dibicarakan.
Misalnya, kamu ikut menyebarkan sebuah campaign hanya karena melihatnya berulang kali di media sosial, tetapi tidak tahu kelompok yang terdampak, apa tuntutan gerakannya, atau masalah apa yang sebenarnya ingin diselesaikan. Akibatnya, dukungan yang diberikan lebih berhenti pada tindakan yang mudah terlihat daripada usaha untuk memahami persoalannya. Padahal, isu sosial sering kali tidak sesederhana satu unggahan atau satu kalimat yang sedang ramai digunakan.
Coba perhatikan apakah setelah mengunggah dukungan kamu juga tertarik mencari informasi lebih lanjut. Kalau perhatianmu berhenti begitu unggahan selesai dibuat atau tren sudah berganti, ada alasan untuk mengevaluasi kembali cara kamu menunjukkan kepedulian. Dukungan tidak harus selalu besar, tetapi setidaknya ada keinginan untuk memahami hal yang sedang kamu bela.
2. Kamu hanya peduli ketika isunya sedang viral

ilustrasi melihat berita viral (pexels.com/Andrea Piacquadio) Satu isu bisa memenuhi media sosial selama beberapa hari, lalu perlahan menghilang ketika muncul berita atau peristiwa lain. Pada saat perhatian publik masih tinggi, kamu ikut membagikan informasi dan menyatakan dukungan. Namun, setelah pembahasannya tidak lagi muncul di linimasa, kamu juga tidak pernah memikirkan persoalan tersebut lagi.
Perubahan perhatian seperti ini sebenarnya wajar karena tidak mungkin seseorang mengikuti semua isu setiap saat. Karena yang perlu diperhatikan adalah ketika kepedulianmu selalu bergantung pada seberapa ramai sebuah persoalan dibicarakan. Kamu mungkin sangat vokal ketika banyak orang melihat, tetapi sama sekali tidak tertarik ketika isu tersebut sudah tidak menghasilkan perhatian yang sama.
Performative activism bukan berarti seseorang harus terus membicarakan satu isu setiap hari. Persoalannya lebih pada jarak antara dukungan yang ditunjukkan ketika isu sedang populer dan kepedulian yang tersisa setelah perhatian publik berkurang. Kalau kamu hanya muncul ketika sebuah isu sedang menjadi topik besar, ada baiknya bertanya apakah yang membuatmu peduli memang persoalannya atau suasana di sekitarnya.
3. Lebih memikirkan penilaian orang

ilustrasi penilaian orang lain (pexels.com/Karolina Grabowska) Dukungan terhadap isu sosial tentu bisa menjadi bagian dari cara seseorang menyatakan nilai yang diyakininya. Namun, kalau pertimbangan terbesar sebelum bersuara justru bagaimana orang lain akan melihatmu, niat awal tersebut mulai patut dipertanyakan. Kamu mungkin tidak lagi bertanya, “Apa yang bisa aku lakukan?” tetapi lebih sibuk memikirkan, “Kalau aku tidak ikut upload, orang bakal menganggap aku apa?”
Hal seperti ini mudah terjadi di media sosial karena sikap seseorang dapat dilihat dalam hitungan detik. Ketika teman-teman sudah membagikan dukungan, tidak ikut berbicara bisa terasa seperti pilihan yang salah. Akhirnya, seseorang ikut mengunggah sesuatu bukan karena benar-benar ingin menyampaikan sikap, melainkan karena khawatir dianggap tidak peduli.
Keinginan untuk terlihat berada di pihak yang benar juga bisa membuat dukungan kehilangan maknanya. Kamu mungkin lebih memperhatikan jumlah orang yang menyukai unggahan, komentar yang masuk, atau apakah orang lain menganggapmu cukup vokal. Kalau perhatian terhadap respons tersebut jauh lebih besar daripada perhatian terhadap persoalan yang sedang dibicarakan, bentuk dukunganmu bisa mulai bergeser menjadi pencitraan.
4. Cepat membela diri ketika dikritik

ilustrasi dikritik (pexels.com/Yan Krukau) Dukungan terhadap sebuah isu tidak selalu diberikan dengan cara yang tepat. Kamu bisa saja membagikan informasi yang keliru, menggunakan istilah yang tidak sesuai, atau menyampaikan sesuatu dengan cara yang justru merugikan kelompok yang ingin kamu dukung. Ketika hal itu dikritik, respons pertama yang muncul mungkin bukan keinginan untuk memperbaiki kesalahan, melainkan usaha menjelaskan bahwa niatmu sebenarnya baik.
Kalimat seperti “Aku kan cuma mau membantu” atau “Yaudah, sih, yang penting aku sudah ikut bersuara” memang bisa muncul begitu saja. Namun, niat baik tidak otomatis membuat sebuah tindakan menjadi tepat. Kalau kamu langsung menghapus kritik, menyerang orang yang mengoreksi, atau memusatkan pembicaraan pada betapa baiknya niatmu, persoalan yang sebenarnya justru tidak pernah dibahas.
Dukungan yang lebih bertanggung jawab membutuhkan kesediaan untuk menerima bahwa kamu bisa salah. Tidak semua kritik berarti orang lain sedang menyuruhmu diam; terkadang kritik justru membantu menunjukkan bagian yang belum kamu pahami. Kemauan untuk belajar dan memperbaiki cara bersikap menjadi pembeda penting antara kepedulian yang sungguh-sungguh dan sekadar keinginan untuk terlihat peduli.
5. Dukunganmu berhenti di level media sosial

ilustrasi media sosial (unsplash.com/Sweet Life) Terakhir, tanda dukunganmu mulai terlihat seperti performative activism adalah bantuan yang berhenti di level media sosial. Sebenarnya, media sosial memang bisa menjadi tempat penting untuk menyebarkan informasi dan membuat sebuah isu diketahui lebih banyak orang. Namun, ketika seluruh dukungan hanya berupa unggahan, repost, atau penggunaan tagar, kontribusinya bisa berhenti pada ruang digital. Setelah membagikan sesuatu, tidak ada tindakan lain yang kamu lakukan meskipun sebenarnya ada banyak cara untuk terlibat sesuai kemampuan.
Bentuk dukungan tidak selalu harus berupa donasi besar atau keterlibatan langsung dalam aksi. Kamu bisa membaca sumber yang kredibel, membeli produk dari kelompok yang terdampak, menghadiri kegiatan edukasi, membantu menyebarkan informasi yang benar, atau memberikan dukungan kepada organisasi yang memang bekerja pada isu tersebut. Pilihannya tentu berbeda untuk setiap persoalan dan tidak semuanya harus dilakukan.
Sebab yang perlu diperhatikan adalah apakah unggahan menjadi tujuan akhir atau hanya salah satu cara untuk melakukan sesuatu yang lebih berarti. Kalau setelah menekan tombol unggah kamu merasa sudah menyelesaikan kewajiban terhadap sebuah isu, padahal tidak ada usaha lain untuk memahami atau membantu, dukungan tersebut layak diperiksa kembali. Sebab kepedulian tidak selalu membutuhkan penonton untuk bisa tetap dilakukan.
Sebenarnya sulit menentukan apakah seseorang benar-benar peduli terhadap sebuah isu atau tidak. Seseorang bisa saja salah memahami persoalan, terlalu terbawa suasana, atau baru mulai belajar, tanpa berarti seluruh dukungannya palsu. Hal terpenting adalah melihat kembali alasan di balik tindakanmu, terutama ketika tidak ada yang memperhatikan apakah kamu ikut bersuara atau tidak.




















