5 Film Klasik dengan Lakon Bocil selain The 400 Blows

- Shoeshine (1946) - Film klasik Italia garapan Vittorio de Sica, mengorbitkan karier Franco Interlenghi.
- Experience (1973) - Salah satu film terawal Abbas Kiarostami, memotret sosok bocah 14 tahun yang jatuh cinta pada remaja tak setara dengannya.
- The Traveler (1974) - Berlakon bocil bernama Qassem yang ingin nonton pertandingan sepak bola di Teheran dengan kondisi keuangan keluarganya yang cekak.
Tahun 2025 adalah eranya aktor cilik bersinar. Tengok kembali beberapa performa ciamik mereka, seperti Owen Cooper di serial Adolescence, Cary Christopher yang memerankan Alex di film horor laris Weapons, Sora Wong dan Jonah Wren Phillips di Bring Her Back, dan Alfie Williams selaku Spike dalam film 28 Years Later. Tentu mereka bukan aktor cilik pertama dalam sejarah yang mencuri perhatian.
Pada masa lalu, aktor cilik sudah sering menghiasi layar perak. Mereka biasanya sengaja dipilih sutradara untuk memperkuat kesan alamiah dan realistis dari sebuah film. The 400 Blows (1959) dan Stand by Me (1986) adalah dua contoh film dengan lakon bocil yang sukses berat dan melegenda. Mendapuk aktor pendatang baru, penonton dibuat terkesima dengan gaya akting para bocil yang natural.
Selain The 400 Blows dan Stand by Me, apakah ada film dengan lakon bocil yang tak kalah apik? Rupanya ada dan patut untuk kamu saksikan. Akting mereka mengagumkan! Berikut lima film klasik dengan lakon bocil selain The 400 Blows.
1. Shoeshine (1946)

Shoeshine adalah film klasik Italia garapan maestro neorealisme, Vittorio de Sica. Kali ini ia akan mengajak kita melihat ambisi dua bocah penyemir sepatu yang bermimpi beli kuda dengan uang mereka sendiri. Dengan bantuan sang kakak dan beberapa rekannya, dua bocah ini berhasil dapat uang yang mereka butuhkan. Namun, karena curang, mereka harus berurusan dengan polisi. Film ini mengorbitkan karier Franco Interlenghi yang menekuni akting hingga akhir hayatnya.
2. Experience (1973)

The Experience adalah satu dari beberapa film terawal Abbas Kiarostami. Sebelum dikenal luas Where’s the Friend’s House? (1987), Kiarostami pernah membuat beberapa proyek film fitur berdurasi 60-70 menitan. Salah satunya film ini yang memotret sosok bocah 14 tahun bernama Mamad (Hossein Yarmohammadi) yang bekerja jadi asisten di sebuah studio foto. Satu hari, ia jatuh cinta pada sesosok remaja perempuan sebayanya. Masalahnya, si pujaan hati berasal dari keluarga berada alias tak setara dengannya.
3. The Traveler (1974)

The Traveler gak kalah seru. Masih dari Kiarostami, film hitam putih ini berlakon bocil bernama Qassem (Hassan Darabi). Gila bola, Qassem bersikukuh ingin nonton pertandingan sepak bola di Teheran. Namun, dengan kondisi keuangan keluarganya yang cekak, mimpi itu tentu bukan hal yang mudah diwujudkan. Bersama salah satu rekannya, Qassem mencoba beberapa cara baik legal dan tidak untuk mengumpulkan uang. Kocak, tapi berakhir membagongkan, cocok dikategorikan film tragicomedy.
4. A Wedding Suit (1976)

Film underrated lain milik Kiarostami berjudul A Wedding Suit. Dirilis tahun 1976, premis film ini cukup unik dan sebenarnya sederhana, yakni seorang penjahit remaja yang tiba-tiba didatangi dua bocah. Dua bocil ini bermaksud meminjam satu jas yang sedang digarap si lakon untuk keperluan mendesak. Mereka berjanji akan segera mengembalikannya sebelum si pemilik jas tahu dan mengambilnya keesokan hari. Dari sini kepelikan demi kepelikan pun terjadi.
5. The Runner (1984)

Bukan komedi, The Runner adalah film klasik berlakon bocil yang bakal bikin kamu terenyuh dan sedih. Amiro (Madjid Niroumand) sang lakon adalah bocah yatim piatu yang hidup terlunta-lunta di jalanan. Ia bertahan hidup dengan jadi pemungut sampah botol kaca. Tak jarang ia harus berebut dan bertengkar dengan sesama anak terlantar lain. Berkali-kali ia hanya bisa menatap nanar ke arah perahu dan laut berharap suatu saat bisa kabur dari hidupnya yang sulit ini. The Runner adalah salah satu film klasik Iran yang berhasil tayang di berbagai festival bergengsi dunia. Ia digarap sutradara Amir Naderi yang seperti Amiro hidup di kota pelabuhan dan harus bekerja serabutan sejak kecil untuk bertahan hidup.
Masa kanak-kanak adalah fase krusial untuk manusia. Sayang, pengalaman tiap anak bisa amat beragam. Film klasik dengan lakon bocil selain The 400 Blows adalah bukti kalau tidak semua anak punya masa kecil yang menyenangkan. Sebuah pengingat untuk tak lupa berempati.