Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Film Klasik yang Idenya Sering Dijiplak oleh Hollywood
Gone with the Wind (dok. MGM/Gone with the Wind)
  • Gone with the Wind memopulerkan romansa berlatar sejarah berskala epik, sementara Taxi Driver menjadi rujukan karakter antihero yang kesepian, ambigu, dan dekat dengan kekerasan.
  • Halloween menyatukan formula slasher populer lewat pembunuh misterius, karakter muda, dan final girl; Die Hard membentuk pola aksi tentang orang biasa melawan penjahat di lokasi terbatas.
  • When Harry Met Sally... memengaruhi romcom dengan fokus pada chemistry, dialog, dan perkembangan hubungan bertahap, menunjukkan bahwa lima film klasik ini menjadi blueprint bagi karya Hollywood berikutnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Hollywood sudah menghasilkan begitu banyak film sepanjang sejarah. Namun, tidak sedikit film baru yang sebenarnya terinspirasi dari karya-karya lama. Ada film klasik yang akhirnya menjadi blueprint bagi banyak film setelahnya. Pengaruh tersebut bahkan bisa terasa puluhan tahun kemudian, ketika pembuat film generasi baru kembali menggunakan konsep serupa dengan kemasan yang berbeda.

Menariknya, film yang dianggap sebagai "jiplakan" tidak selalu menyalin cerita secara mentah. Terkadang yang diambil adalah formula dasarnya, seperti karakter utama, dinamika hubungan, jenis antagonis, hingga konsep lokasi yang terbatas.

Lima film klasik berikut menjadi contoh karya yang pengaruhnya begitu besar hingga berbagai film Hollywood setelahnya terasa memiliki jejak yang sama. Apakah kamu menyadarinya?

1. Gone with the Wind (1939)

Gone with the Wind (dok. MGM/Gone with the Wind)

Gone with the Wind karya Victor Fleming merupakan salah satu film paling berpengaruh. Film yang diangkat dari novel karya Margaret Mitchell ini berhasil memadukan kisah cinta, drama keluarga, dan latar sejarah dalam skala yang sangat besar. Visual Technicolor yang megah serta karakter Scarlett O'Hara yang kuat membuat film ini menjadi standar baru untuk film epik pada masanya.

Vivien Leigh dan Clark Gable juga membentuk gambaran pasangan utama yang karismatik dan kemudian banyak ditiru dalam film-film romantis berikutnya. Pengaruh Gone with the Wind tidak berhenti pada film berlatar Perang Saudara Amerika. Formula kisah cinta yang dibalut konflik sejarah dan produksi berskala besar kemudian terlihat dalam berbagai film, seperti Lawrence of Arabia, Doctor Zhivago, dan Ben-Hur.

Film romantis sejarah yang lebih modern, seperti Moulin Rouge!, The English Patient, hingga Titanic, juga memiliki kemiripan dalam hal menghadirkan cinta dan tragedi dalam skala epik. Jadi, meski tidak semuanya meniru ceritanya secara langsung, jejak Gone with the Wind terasa dalam cara Hollywood membuat kisah cinta menjadi tontonan spektakuler.

2. Taxi Driver (1976)

Taxi Driver (dok. Sony Pictures/Taxi Driver)

Martin Scorsese mengubah cara Hollywood menggambarkan sosok antihero melalui Taxi Driver. Travis Bickle (Robert De Niro) bukanlah pahlawan dengan moral sederhana. Ia merupakan laki-laki kesepian dan frustrasi yang semakin terasing dari lingkungan sekitarnya. Perjalanan mentalnya membuat penonton terus mempertanyakan apakah ia seorang korban keadaan, calon penjahat, atau seseorang yang mencoba menciptakan keadilan dengan caranya sendiri.

Karakter seperti Travis kemudian muncul dalam berbagai bentuk dalam film-film Hollywood berikutnya. Will Munny dalam Unforgiven, Tyler Durden dalam Fight Club, hingga Arthur Fleck dalam Joker sama-sama menghadirkan karakter utama yang berada di wilayah abu-abu antara korban, pemberontak, dan pelaku kekerasan. Film ini membuktikan bahwa cerita kriminal tidak selalu membutuhkan pahlawan konvensional untuk menjadi menarik.

3. Halloween (1978)

Halloween (dok. Universal Pictures/Halloween)

John Carpenter memang bukan orang pertama yang membuat film slasher. Sebelum Halloween, sudah ada film seperti Black Christmas dan The Texas Chain Saw Massacre yang lebih dulu memperkenalkan elemen-elemen penting dalam genre tersebut. Namun, Halloween berhasil menyatukan berbagai unsur itu menjadi formula yang begitu populer dan mudah dikenali.

Sosok Michael Myers, dengan wajah tanpa ekspresi dan dorongan membunuh yang misterius, kemudian menjadi salah satu ikon terbesar dalam sejarah film horor. Kesuksesan film ini segera melahirkan banyak karya yang menggunakan formula serupa. Friday the 13th, A Nightmare on Elm Street, Prom Night, dan berbagai film slasher lainnya ikut memanfaatkan pola pembunuh misterius, sekelompok karakter muda, serta ancaman yang terus mengintai.

Di sisi lain, Laurie Strode (Jamie Lee Curtis) menjadi salah satu contoh paling terkenal dari karakter final girl. Halloween menunjukkan bahwa horor tidak harus memiliki konsep yang rumit karena karakter yang relatable dan ancaman sederhana pun sudah cukup untuk membuat penonton ketakutan.

4. Die Hard (1988)

Die Hard (dok. 20th Century Studios/Die Hard)

Die Hard merupakan film arahan John McTiernan yang menawarkan konsep sederhana tetapi efektif. Filmnya tentang pria biasa yang terjebak di lokasi tertutup dan harus menghadapi kelompok penjahat yang jauh lebih siap darinya.

John McClane bukanlah pahlawan super yang tidak terkalahkan. Ia justru terasa lebih manusiawi karena harus mengandalkan kecerdikan, keberanian, dan kemampuan beradaptasi untuk bertahan hidup.

Formula tersebut kemudian menjadi semacam cetak biru bagi film action Hollywood. Speed bisa digambarkan sebagai Die Hard di dalam bus, sementara Con Air memindahkan formula tersebut ke pesawat dan Under Siege ke kapal. Air Force One bahkan menempatkan konsep serupa di dalam pesawat kepresidenan, sedangkan The Rock membawa elemen pahlawan terjebak bersama para penjahat ke Alcatraz.

5. When Harry Met Sally... (1989)

When Harry Met Sally (dok. MGM/When Harry Met Sally)

When Harry Met Sally... membuktikan bahwa film romantis tidak harus bergantung pada premis yang terlalu rumit. Film arahan Rob Reiner dengan skenario Nora Ephron ini mengikuti hubungan Harry dan Sally selama bertahun-tahun. Keduanya terus bertemu, berpisah, menjadi teman, dan perlahan mempertanyakan perasaan masing-masing. Pendekatan tersebut membuat kisahnya terasa dekat dengan kehidupan nyata.

Pengaruh film ini kemudian bisa dilihat dalam banyak film romcom yang mengutamakan chemistry dan percakapan dibandingkan dengan konflik besar. Film-film Nora Ephron berikutnya, seperti Sleepless in Seattle dan You've Got Mail, meneruskan pendekatan tersebut. Formula serupa juga dapat ditemukan dalam Notting Hill, The Big Sick, dan About a Boy, yang sama-sama mengandalkan karakter yang relatable dan perkembangan hubungan secara bertahap.

Kelima film klasik tersebut memperlihatkan betapa besarnya pengaruh sebuah karya terhadap generasi film berikutnya. Menurutmu, film mana yang pengaruhnya paling sering terasa dalam film-film Hollywood setelahnya?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article