Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Film Klasik yang Status Masterpiece-nya Dipertanyakan

4 min read
5 Film Klasik yang Status Masterpiece-nya Dipertanyakan
Shakespeare in Love (dok. Miramax/Shakespeare in Love)
  • Lima film klasik dinilai memiliki reputasi besar berkat pengaruh sejarah, waralaba, penghargaan, atau nama pembuatnya, tetapi kualitasnya dianggap tidak selalu tetap istimewa bagi penonton masa kini.
  • Dracula, The Pink Panther, dan Friday the 13th disebut berpengaruh bagi genre atau franchise, namun film pembukanya dinilai lambat, kurang kuat, atau belum menampilkan identitas ikonik seri.
  • The Wind and the Lion serta Shakespeare in Love dipertanyakan status mahakaryanya karena pacing, akting, dan romansa yang dinilai kurang meyakinkan; reputasinya turut ditopang nama besar serta kontroversi Oscar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Film klasik biasanya mendapat tempat khusus dalam sejarah perfilman. Usianya yang sudah puluhan tahun, pengaruhnya terhadap film-film setelahnya, serta statusnya sebagai tontonan legendaris membuat banyak judul dianggap sebagai mahakarya. Namun, reputasi besar tidak selalu berarti film tersebut masih terasa luar biasa saat ditonton kembali oleh penonton masa kini.

Ada film yang memang menjadi pelopor dan punya pengaruh besar, tetapi kualitasnya belum tentu seistimewa karya lain pada zamannya. Bahkan, beberapa di antaranya justru lebih terkenal karena warisan franchise, penghargaan, atau nama besar orang-orang di baliknya. Berikut lima film klasik yang predikat masterpiece-nya kini dipertanyakan. Kenapa?

  1. 1. Dracula (1931)

    Dracula
    Dracula (Dok. Universal Pictures/Dracula)

    Dracula merupakan salah satu film penting dalam sejarah horor Hollywood karena menjadi adaptasi besar dari novel Bram Stoker. Sebelumnya, ada Nosferatu (1922) yang jelas terinspirasi dari kisah tersebut, tetapi tidak bisa menggunakan nama dan karakter aslinya karena persoalan hak cipta. Oleh karena itu, versi Tod Browning sering dianggap sebagai tonggak awal bagi berbagai adaptasi Dracula yang muncul setelahnya.

    Bela Lugosi juga memberikan penampilan yang kemudian menjadi gambaran klasik tentang sosok Count Dracula. Masalahnya, status bersejarah tersebut tidak otomatis membuat filmnya terasa sebagai tontonan yang luar biasa. Ritmenya cukup lambat dan atmosfer horornya kini terasa jauh lebih jinak jika dibandingkan dengan film-film vampir yang datang kemudian.

    Dibandingkan dengan Frankenstein yang juga dirilis oleh Universal pada tahun yang sama, Dracula terasa kurang kuat dari segi visual maupun dramatis.

  2. 2. The Pink Panther (1963)

    The Pink Panther
    The Pink Panther (dok. MGM/The Pink Panther)

    Nama The Pink Panther saat ini hampir tidak bisa dipisahkan dari Inspector Jacques Clouseau. Peter Sellers berhasil menjadikan karakter polisi Prancis yang kikuk tersebut sebagai salah satu ikon komedi paling terkenal dalam sejarah film. Namun, ada fakta menarik yang sering terlupakan: Clouseau sebenarnya bukan tokoh utama dalam film pertama The Pink Panther.

    Sebagian besar cerita justru berpusat pada karakter yang diperankan oleh David Niven dan Robert Wagner. Hal itu membuat film pertamanya terasa cukup berbeda dari gambaran The Pink Panther yang dikenal penonton sekarang. Banyak elemen ikonik dari waralaba tersebut baru berkembang melalui film-film berikutnya, termasuk A Shot in the Dark yang memberi ruang jauh lebih besar kepada Sellers untuk mengeksplorasi kekonyolan Clouseau.

    Film pertama tetap menghibur dan punya pesona komedi khas Blake Edwards, tetapi reputasi franchise secara keseluruhan terasa jauh lebih besar daripada kualitas film pembukanya. Kalau hanya menilai film ini sebagai karya tunggal, rasanya sulit menempatkannya di jajaran terbaik Sellers maupun Edwards.

  3. 3. Friday the 13th (1980)

    Friday the 13th
    Friday the 13th (dok. Paramount Pictures/Friday the 13th)

    Bagi penggemar horor, Friday the 13th merupakan salah satu judul yang hampir mustahil dilewatkan. Film ini membantu mempopulerkan formula slasher yang kemudian melahirkan banyak film serupa sepanjang dekade 1980-an. Namun, ketika ditonton sekarang, film pertamanya justru terasa cukup lambat dan karakternya tidak terlalu menarik.

    Bahkan, beberapa penonton mungkin lebih mengingat adegan pembunuhan tertentu daripada perkembangan ceritanya. Menariknya lagi, berbagai elemen yang sekarang dianggap sebagai identitas utama Friday the 13th belum sepenuhnya terbentuk di film pertama. Jason Voorhees baru menjadi sosok pembunuh utama pada Friday the 13th Part II, sementara topeng hoki ikoniknya baru muncul di Part III.

    Unsur humor yang kemudian menjadi ciri khas seri ini juga baru terasa lebih kuat dalam film-film selanjutnya, terutama Jason Lives.

  4. 4. The Wind and the Lion (1975)

    The Wind and the Lion
    The Wind and the Lion (dok. Warner Bros./The Wind and the Lion)

    The Wind and the Lion menjadi salah satu proyek penting Sean Connery setelah periode karier yang kurang mengesankan, sementara musik garapan Jerry Goldsmith memberikan nuansa epik yang kuat. John Milius sendiri merupakan sosok yang cukup dihormati di Hollywood, terutama karena kemampuannya menulis dialog yang berkesan. Dengan kombinasi nama-nama tersebut, tidak mengherankan jika film ini memiliki reputasi cukup tinggi.

    Namun, kekuatan film ini lebih terasa pada elemen-elemen pendukungnya daripada keseluruhan penyajiannya. Pacing-nya terkadang terasa canggung sehingga cerita yang seharusnya megah justru berjalan kurang mulus. Aksen Connery sebagai karakter asal Maroko juga terasa kurang meyakinkan bagi penonton masa kini dan menjadi salah satu aspek yang sulit diabaikan.

  5. 5. Shakespeare in Love (1998)

    Shakespeare in Love
    Shakespeare in Love (dok. Miramax/Shakespeare in Love)

    Shakespeare in Love merupakan salah satu film yang paling sering dibicarakan ketika membahas kontroversi penghargaan Oscar. Film ini memenangkan Best Picture pada 1999, mengalahkan Saving Private Ryan yang hingga kini dianggap banyak orang sebagai karya perang yang jauh lebih berpengaruh. Meski begitu, masalah film ini bukan sekadar karena memenangkan penghargaan atas pesaing yang lebih populer.

    Sebagai komedi romantis, Shakespeare in Love sendiri sebenarnya memiliki sejumlah kelemahan yang membuat reputasinya sebagai film besar terasa berlebihan. Hubungan romantis antara karakter Gwyneth Paltrow dan Joseph Fiennes juga tidak selalu memiliki chemistry yang kuat. Warisan Shakespeare in Love justru lebih banyak berkaitan dengan kemenangan Oscar dan kampanye penghargaan yang kontroversial di baliknya.

    Film klasik memang tidak selalu harus dianggap sempurna hanya karena memiliki status legendaris. Dari lima film klasik tersebut, mana yang menurutmu paling tidak layak disebut sebagai masterpiece?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More