6 Film Non-Horor yang Menyeramkan dan Menghantui Pikiran

- The Zone of Interest (2023) menghadirkan kehantian Holocaust tanpa menampilkan kekerasan visual, melainkan suara-suara mengerikan yang sulit dilupakan.
- Oldboy (2003) meninggalkan luka psikologis dengan twist gelap yang membuat penonton merasa ngeri dan sadar akan kekejamannya.
- The Elephant Man (1980) menghantui lewat tatapan, bisikan, dan rasa ingin tahu yang kejam tentang pandangan masyarakat terhadap Merrick.
Tidak semua film yang menyeramkan membutuhkan hantu, darah, atau jump scare. Ada jenis film lain yang justru terasa lebih menghantui karena bermain di ranah psikologis, emosi, dan rasa bersalah manusia. Film-film seperti ini pelan-pelan masuk ke pikiran, lalu menetap lama setelah kredit penutup selesai.
Yang membuat film non-horor terasa lebih menakutkan adalah kedekatannya dengan realitas. Ceritanya mungkin sunyi, minim dialog, bahkan terlihat tenang, tapi dampak emosionalnya bisa sangat berat. Enam film non-horor berikut membuktikan bahwa rasa takut paling dalam sering kali datang dari hal-hal yang terasa nyata dan tak bisa dihindari.
1. The Zone of Interest (2023)

Film ini mengambil sudut pandang yang tidak biasa dalam membahas Holocaust. Ceritanya mengikuti sebuah keluarga Nazi yang hidup nyaman di rumah dengan taman indah, tepat di samping kamp konsentrasi Auschwitz. Mereka menjalani kehidupan sehari-hari seperti keluarga normal, sementara kekejaman terjadi hanya di balik tembok rumah mereka.
Yang membuat film ini sangat menghantui adalah keputusan sutradara Jonathan Glazer untuk hampir tidak pernah menampilkan kekerasan secara visual. Sebaliknya, suara-suara mengerikan dari kejauhan terus terdengar dan sulit dilupakan. Film ini memaksa penonton berada di posisi yang tidak nyaman dan justru di situlah horor terbesarnya muncul.
2. Oldboy (2003)

Oldboy mengikuti kisah seorang pria yang diculik dan dikurung selama 15 tahun tanpa alasan yang jelas. Setelah tiba-tiba dibebaskan, ia diberi waktu lima hari untuk menemukan siapa yang menghancurkan hidupnya. Awalnya, film ini terasa seperti kisah balas dendam yang brutal dan penuh kemarahan.
Namun seiring cerita berjalan, arah film berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap dan mengganggu. Tanpa membocorkan twist-nya, Oldboy meninggalkan luka psikologis yang dalam bagi penontonnya. Alih-alih kepuasan, yang tersisa hanyalah rasa ngeri dan kesadaran bahwa kebenaran bisa jauh lebih kejam daripada kekerasan fisik.
3. The Elephant Man (1980)

Film ini menceritakan John Merrick, seorang pria dengan kondisi fisik ekstrem yang diperlakukan sebagai tontonan sirkus. Seorang dokter kemudian berusaha melindunginya dan memperkenalkan Merrick pada kehidupan yang lebih manusiawi. Di permukaan, ini adalah kisah kemanusiaan yang lembut dan penuh empati.
Namun, justru pandangan masyarakat terhadap Merrick-lah yang terasa paling mengerikan. Film ini menghantui bukan lewat kejutan, melainkan lewat tatapan, bisikan, dan rasa ingin tahu yang kejam. Ketika penonton menyadari bahwa monster sesungguhnya adalah cara manusia memperlakukan sesamanya, rasa tidak nyaman itu bertahan lama.
4. A Ghost Story (2017)

Film ini secara harfiah menghadirkan hantu, tapi pendekatannya jauh dari film horor konvensional. Seorang pria meninggal dan kembali sebagai arwah berwujud kain putih sederhana, terjebak di rumah lamanya. Ia hanya bisa menyaksikan istrinya berduka dan hidup terus berjalan tanpa dirinya.
Dengan tempo lambat dan dialog minimal, film ini terasa seperti meditasi tentang waktu dan kehilangan. Rasa seramnya muncul dari kesadaran bahwa segalanya akan berlalu dan kita mungkin akan dilupakan. A Ghost Story bukan film yang mudah ditonton, tapi sulit sekali untuk dilupakan.
5. Under the Skin (2013)

Scarlett Johansson memerankan sosok misterius yang berkeliling Skotlandia, menggoda pria-pria kesepian dengan cara dingin dan tanpa emosi. Film ini minim dialog dan lebih mengandalkan atmosfer serta visual yang asing. Penonton sering dibiarkan bingung, tapi justru itu bagian dari pengalamannya.
Under the Skin terasa menghantui karena caranya memandang manusia dari sudut yang tidak biasa. Film ini membuat penonton merasa terasing, seolah sedang melihat kemanusiaan dari luar. Rasa tidak nyaman itu terus menempel, bahkan setelah film berakhir.
6. Manchester by the Sea (2016)

Film ini mengikuti seorang pria pendiam yang harus kembali ke kampung halamannya setelah kematian sang kakak. Di sana, ia dipaksa menghadapi masa lalu yang penuh rasa bersalah dan kehilangan besar. Tidak ada dramatisasi berlebihan, semuanya terasa sunyi dan jujur.
Kengerian film ini terletak pada kenyataan bahwa tidak semua luka bisa disembuhkan. Film ini menolak memberikan penonton kelegaan atau penutup manis. Manchester by the Sea menghantui karena menunjukkan bahwa hidup bisa tetap berjalan, meski seseorang sudah hancur dari dalam.
Film-film non-horor seperti ini membuktikan bahwa rasa takut paling kuat tidak selalu datang dari kegelapan atau makhluk menyeramkan. Justru rasa bersalah, kehilangan, dan keheningan sering kali jauh lebih menakutkan. Dari keenam film ini, mana yang paling membuatmu merasa tidak nyaman dan terus teringat setelah menontonnya?


















