Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
All About My Mother (dok. Criterion/All About My Mother)
  • La Bola Negra (2026), film historical epic queer karya Javier Ambrossi dan Javier Calvo, disebut meraih penghargaan di Cannes serta Toronto dan sedang tayang global.
  • Beau Travail dan And Then We Danced menyoroti hasrat serta konflik identitas queer di lingkungan maskulin: militer kolonial Prancis di Djibouti dan sanggar tari tradisional Georgia.
  • All About My Mother, Crossing, dan My Own Private Idaho mengikuti tokoh-tokoh marginal melalui duka, pencarian keluarga, perjalanan lintas kota, serta relasi yang berubah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kalau bisa mencomot satu judul dari sekian film yang diprediksi bakal jadi primadona pada Oscar 2027, La Bola Negra (2026) bisa jadi jawabannya. Mengusung genre historical epic dengan elemen queer, film Spanyol garapan Javier Ambrossi dan Javier Calvo ini sudah meraih beberapa penghargaan bergengsi di Cannes Film Festival dan Toronto International Film Festival.

La Bola Negra sudah dan sedang tayang di bioskop di seluruh dunia dan telah dibeli hak siarnya oleh salah satu raksasa layanan streaming. Kalau kamu salah satu yang beruntung sudah nonton dan ingin menjelajahi film queer lain dari skena independen, bolehlah coba tonton kelima film berikut ini. Buat yang belum kebagian tiket, nonton mereka juga bisa jadi penghiburan tersendiri.

1. Beau Travail (1999)

Beau Travail (dok. Janus Films/Beau Travail)

Beau Travail adalah cerita Galoup yang mengingat masa baktinya sebagai tentara kolonial Prancis di Djibouti, Afrika Timur, beberapa dekade lalu. Dari sekian banyak anak buahnya, Gilles adalah sosok yang paling ia ingat. Alasannya tak dijelaskan secara tersirat, tetapi lewat koreografi dan ekspresi yang penuh simbol, persis seperti Galoup sendiri yang tak tahu bagaimana mengejawantahkan perasaannya selama bertugas. Dengan backdrop yang amat maskulin, penuh tekanan untuk jadi sempurna dan patriotik, kita sebenarnya sedang membedah sejumlah kontradiksi yang direpresi.

  • Genre: drama, queer

  • Pemain: Denis Lavant, Gregoire Colin

  • Sutradara: Claire Denis

2. And Then We Danced (2019)

And Then We Danced (dok. French Quarter Film/And Then We Danced)

Seperti film sebelumnya, And Then We Danced menggunakan backdrop maskulin, tepatnya sebuah sanggar balet tradisional Georgia. Tidak seperti balet pada umumnya, gerakan balet tradisional Georgia sangat energik dan lekat dengan maskulinitas. Salah satu pegiatnya adalah Merab, mahasiswa yang juga bekerja sebagai pramusaji untuk membantu ekonomi keluarga.

Meski sebenarnya tak didukung untuk jadi penari, Merab yang sudah menekuni balet sejak kecil tak sudi meninggalkannya. Sampai posisinya sebagai penari andalan di sanggar terancam sejak kehadiran anggota baru bernama Irakli. Awalnya bersaing, Merab justru menemukan koneksi dengan rivalnya ini.

  • Genre: drama, queer

  • Pemain: Levan Gelbakhiani, Bachi Valishvili

  • Sutradara: Levan Akin

3. All About My Mother (1999)

All About My Mother (dok. Criterion/All About My Mother)

Masih berduka atas kematian sang putra, ibu tunggal bernama Manuela memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya di Barcelona. Ia berniat mencari ayah biologis putranya saat itu, tetapi justru menemukan fakta mencengangkan bahwa mantan suaminya itu sudah menjadi pekerja seks transgender yang membawa kabur uang sahabatnya yang sesama transgender.

Tak tega melihat nasib sahabatnya, tak pula punya tanggungan, Manuela memutuskan untuk tinggal di Barcelona. Ia membentuk koneksi dengan sekelompok orang yang tersisih dari masyarakat, termasuk pacar terbaru mantan suaminya yang hamil di luar nikah dan terusir dari rumah serta beberapa pekerja seks transpuan lain.

  • Genre: drama, queer

  • Pemain: Penelope Cruz, Cecilia Roth

  • Sutradara: Pedro Almodovar

4. Crossing (2024)

Crossing (dok. MUBI/Crossing)

Setelah bertahun-tahun hilang tanpa kabar, Lia akhirnya bertekad mencari kemenakannya. Orang-orang berkata sang keponakan sudah jadi transpuan dan kabur ke Istanbul, Turki. Lia yang tak percaya akhirnya bertekad membuktikannya sendiri.

Lia “ditemani” Tekla, remaja yang merasa tak ada harapan di Georgia dan memaksa Lia untuk mengangkutnya sekalian. Di sinilah keduanya mengalami fase penemuan diri sendiri. Lewat mereka pula, kita disuguhi sisi lain Istanbul yang dihuni kaum marginal dan mungkin belum pernah kamu selami.

  • Genre: drama, queer

  • Pemain: Mzia Arabuli, Lucas Kankava

  • Sutradara: Levan Akin

5. My Own Private Idaho (1991)

My Own Private Idaho (dok. Criterion/My Own Private Idaho)

Kalau suka La Bola Negra, jangan lewatkan untuk nonton film queer lain berjudul My Own Private Idaho. Kamu akan disuguhi perjalanan dua sekawan bernama Mike dan Scott yang sehari-hari bekerja sebagai pekerja seks di jalanan Portland. Bedanya, Scott sebenarnya anak konglomerat yang memberontak, sementara Mike adalah pemuda tunawisma yang tak lagi punya siapa-siapa untuk diandalkan.

Suatu hari, berbekal petunjuk dan keyakinan, Mike mengajak Scott membantunya mencari jejak ibunya. Namun, perjalanan ini justru jadi awal mula keretakan hubungan pertemanan mereka.

  • Genre: avant-garde, queer, tragikomedi

  • Pemain: River Phoenix, Keanu Reeves

  • Sutradara: Gus van Sant

Film queer itu beragam, kok. Apalagi kalau kamu mau menyelami skena film independen, opsinya akan sangat beragam dan tak terhingga. Seperti lima film di atas, gak kalah epik, meski secara desain produksi tak semegah La Bola Negra (2026). Tertarik menontonnya?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article