- Genre: drama kolosal, biografi
- Pemain: Peter O'Toole, Alec Guiness
- Sutradara: David Lean
- Sebagai perbandingan, tonton: Palestine 36 (2025)
5 Film untuk Memahami Apa itu Colonial Gaze

- Artikel membahas konsep colonial gaze dalam film Barat yang menampilkan negara non-Barat secara stereotip, seperti terbelakang dan eksotis, untuk melanggengkan pandangan kolonial.
- Lima film legendaris—Lawrence of Arabia, Conrack, Walkabout, Indiana Jones, dan The Last Samurai—diulas sebagai contoh bagaimana narasi white savior dan orientalisme muncul di layar lebar.
- Penulis mendorong penonton menonton ulang film-film tersebut dengan perspektif kritis serta menjajaki alternatif sinema yang menawarkan sudut pandang lebih berimbang terhadap budaya non-Barat.
Dahulu kamu mungkin setuju-setuju saja saat sineas Barat mengeklaim diri sebagai adalah kiblat industri film dunia. Kita bahkan menerima dan menikmati narasi-narasi buatan mereka seolah tak ada yang salah. Namun, seiring dengan kemajuan zaman dan terbukanya akses lebih luas terhadap narasi alternatif, kita seolah disadarkan kalau banyak hal dalam film legenda Barat yang rasanya ganjil dan tak akurat.
Kebanyakan dalam bentuk colonial gaze, yakni sebuah upaya untuk melanggengkan dan meromantisasi kolonialisme. Misal dengan memotret negara non-Barat dengan stereotip-stereotip tertentu, seperti terbelakang, primitif, eksotis, dan belum terjamah. Susah membayangkannya? Enam film berikut adalah gambaran akurat colonial gaze yang dimaksud.
1. Lawrence of Arabia (1962)

Sesuai judulnya, film ini berlakonkan tentara bernama T. E. Lawrence yang ditugaskan di Asia Barat pada akhir abad 19 sampai Perang Dunia I. Ia diberi mandat membantu para pemimpin Arab yang dulu terpecah-pecah untuk bersatu melawan Kekaisaran Otoman.
Meski narasinya pro-Arab, film ini dinilai tetap sarat colonial gaze karena memberikan impresi bahwa negara-negara Arab baru bisa memperoleh kebebasannya dengan bantuan Inggris. Istilah kerennya white savior, yakni keyakinan bahwa orang kulit putihlah yang menyelamatkan peradaban.
2. Conrack (1974)

Narasi white savior juga jadi nyawa film legenda berjudul Conrack yang dibintangi ayah Angelina Jolie, Jon Voight. Di film itu, Voight memerankan Pat, guru kulit putih yang berdinas di sebuah kota terpencil di South Carolina. Mayoritas penduduk di sana adalah warga kulit hitam kelas bawah yang terisolasi dari peradaban Barat. Saat berdinas, Pat menemukan banyak tantangan dan penolakan.
Namun, parahnya dalam film ini warlok diwakili dengan cara yang kurang berimbang. Mereka dipotret sebagai orang-orang yang tidak mengenal kebersihan diri dan menolak kemajuan. Sementara, Pat adalah orang kulit putih yang menawarkan perubahan progresif tanpa sedikit pun mau memahami apa yang membuat warlok punya prinsip dan gaya hidup berbeda dengannya.
- Genre: biografi
- Pemain: Jon Voight, Paul Winfield
- Sutradara: Martin Ritt
- Sebagai perbandingan, tonton: Stand and Deliver (1988)
3. Walkabout (1971)

Film ini menuai kontroversi karena dianggap tidak akurat ketika membahas tradisi walkabout yang dianut warga pribumi Australia. Tradisi ini pada dasarnya dilakukan dengan melepas anak laki-laki yang memasuki usia pubertas untuk melakoni perjalanan napak tilas seorang diri kurang lebih selama 6 bulan.
Dalam film, kita bakal diajak mengikuti perjalanan itu, tetapi lewat kacamata dua anak kulit putih yang ditelantarkan orangtuanya di tengah gurun. Ini tak hanya mengembalikan peran lakon pada karakter kulit putih, tetapi juga mengonfirmasi kalau budaya warga non-Barat kerap dianggap sebagai tontonan atau hiburan belaka, tanpa esensi dan makna.
- Genre: drama, petualangan
- Pemain: David Gulpilil, Jenny Agutter
- Sutradara: Nicolas Roeg
- Sebagai perbandingan, tonton: Rabbit-Proof Fence (2002)
4. Indiana Jones (1981—2023)

ndiana Jones juga salah satu contoh film legenda yang bisa kamu lihat untuk memahami apa itu colonial gaze. Formulanya sudah dipakai berkali-kali, yakni penjelajahan yang dilakukan orang kulit putih di tempat-tempat yang menurutnya belum terjamah dan menyimpan berlian tersembunyi seperti Afrika, Amerika Selatan, dan Asia.
Di sana, sang penjelajah harus menghadapi tantangan dan halang rintang yang akhirnya berhasil ia selesaikan. Ini sesuai dengan narasi kolonial yang selalu berhasil mendapat apa yang mereka mau, mengekstraksi sumber daya alam dan mencuri peninggalan bersejarah/berharga untuk kepentingan mereka sendiri.
- Genre: petualangan
- Pemain: Harrison Ford, John Rhys-Davies
- Sutradara: Steven Spielberg, James Mangold
- Sebagai perbandingan, tonton: Deliverance (1972)
5. The Last Samurai (2003)

Film The Last Samurai juga bisa dibedah pakai kacamata colonial gaze. Ia mengikuti petualangan seorang veteran perang asal Amerika Serikat yang dapat tugas ke Jepang pada abad ke-19. Saat itu Jepang diceritakan mengalami krisis gara-gara menguatnya kekuatan samurai. Otoritas setempat meminta bantuan AS untuk melatih tentara mereka menggunakan persenjataan dan taktik modern. Namun, di tengah pekerjaannya, sang veteran justru jatuh cinta pada gaya berkelahi samurai yang menurutnya unik dan filosofis.
Meski berusaha melihat kultur asing sebagai sesuatu yang unik dan layak diapresiasi, cara Zwick memotretnya sering dianggap sebagai bentuk orientalisme. Yakni, konsep yang diperkenalkan Edward Said dan secara spesifik mengkritik bagaimana orang Barat sering menggunakan stereotip-stereotip tertentu saat menggambarkan kultur asing, terutama yang berasal dari bagian Bumi Selatan dan Timur.
- Genre: aksi, drama kolosal
- Pemain: Tom Cruise, Ken Watanabe
- Sutradara: Edward Zwick
- Sebagai perbandingan, tonton: Seven Samurai (1954)
Lima film tadi memang melegenda, tetapi ternyata tak luput dari narasi kolonial. Bukan berarti tak boleh ditonton, kok, justru ia bisa kamu tonton ulang untuk tahu letak masalahnya. Kamu juga bisa memperkaya wawasan dengan coba melirik film alternatif yang sudah disebut sebagai perbandingan.


















