Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Film yang Terlalu Kelam untuk Ditonton Lebih dari Sekali

4 min read
5 Film yang Terlalu Kelam untuk Ditonton Lebih dari Sekali
The Act of Killing (dok. Piraya Films/The Act of Killing)
  • Lima film ini menampilkan tema kelam seperti kekerasan brutal, perang nuklir, kekerasan seksual, dan penyalahgunaan kekuasaan, sehingga pengalaman menontonnya terasa berat.
  • Irreversible, Threads, dan The War Zone menggambarkan tragedi melalui pendekatan intens atau realistis, menyoroti dampak kekerasan pada individu, keluarga, serta masyarakat sipil.
  • The Act of Killing dan Salò mengangkat kekejaman politik serta kuasa yang tak terkendali, dengan rekonstruksi pelaku dan penggambaran penghinaan terhadap korban.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tidak semua film dibuat untuk menjadi tontonan yang nyaman. Ada film yang sengaja menghadirkan cerita yang begitu gelap, menyakitkan, atau mengganggu hingga penonton membutuhkan waktu untuk mencerna apa yang baru saja mereka lihat. Film-film seperti ini mungkin sangat kuat secara artistik, tetapi bukan berarti mudah untuk ditonton kembali.

Beberapa di antaranya bahkan meninggalkan kesan yang sulit hilang setelah film berakhir. Bukan karena ceritanya buruk, justru sebaliknya, kekuatan film tersebut dalam menggambarkan sisi tergelap manusia membuat pengalaman menontonnya terasa sangat berat. Jika sedang mencari tontonan ringan, lima film berikut mungkin sebaiknya dihindari karena cukup sekali saja untuk membuat penonton terdiam lama.

  1. 1. Irreversible (2002)

    Irreversible
    Irreversible (dok. Studio Canal/Irreversible)

    Irreversible merupakan salah satu film Gaspar Noé yang terkenal karena pendekatan yang sangat ekstrem dalam menggambarkan kekerasan dan penderitaan manusia. Ceritanya mengikuti dua pria yang mencari pelaku setelah kejadian mengerikan menimpa orang terdekat mereka. Film ini menggunakan alur cerita terbalik, sehingga penonton diperlihatkan akibat dari sebuah tragedi sebelum memahami sepenuhnya bagaimana semuanya bermula.

    Selain ceritanya, penggunaan kamera yang bergerak agresif dan desain suara yang intens membuat suasana film semakin sulit diikuti dengan santai. Beberapa adegannya juga mengandung kekerasan seksual dan fisik yang sangat berat. Irreversible memang sengaja mendorong penonton untuk berhadapan dengan sisi manusia yang paling brutal, bukan sekadar memberikan hiburan.

  2. 2. Threads (1984)

    Threads
    Threads (dok. BBC/Threads)

    Jika ingin melihat gambaran perang nuklir tanpa sentuhan romantisasi, Threads adalah salah satu film yang sangat sulit dilupakan. Film garapan Mick Jackson ini mengambil latar di Sheffield, Inggris, dan memperlihatkan kehidupan masyarakat biasa ketika konflik nuklir antara negara-negara besar berubah menjadi bencana global. Alih-alih berfokus pada para pemimpin atau strategi militer, film ini justru menempatkan keluarga dan masyarakat sipil sebagai pusat perhatian.

    Threads begitu suram karena film ini menggambarkan kehidupan setelah ledakan nuklir terjadi. Kehancuran tidak berhenti pada momen serangan, tetapi terus berlanjut melalui kelaparan, penyakit, runtuhnya sistem sosial, dan hilangnya harapan untuk kembali ke kehidupan normal. Film ini juga tidak memberikan akhir yang terasa melegakan bagi penonton.

  3. 3. The Act of Killing (2012)

    The Act of Killing
    The Act of Killing (dok. Piraya Films/The Act of Killing)

    The Act of Killing merupakan dokumenter yang menghadirkan sisi mengerikan dari sejarah Indonesia melalui sudut pandang para pelaku pembunuhan dalam tragedi politik 1965–1966. Joshua Oppenheimer mengikuti sejumlah mantan anggota kelompok paramiliter, termasuk Anwar Congo, yang terlibat dalam pembunuhan orang-orang yang dituduh berkaitan dengan komunisme.

    Film ini terasa begitu mengganggu karena cara para pelaku menceritakan kembali tindakan mereka dengan sikap yang terkadang jauh dari rasa penyesalan. Mereka bahkan diminta merekonstruksi pengalaman masa lalu dalam berbagai gaya seperti film gangster dan adegan teatrikal. Setelah menyaksikannya, banyak hal yang mungkin terus terbayang meskipun film sudah lama selesai.

  4. 4. The War Zone (1999)

    The War Zone
    The War Zone (dok. Film4/The War Zone)

    The War Zone menjadi debut penyutradaraan Tim Roth dan mengangkat tema kekerasan seksual serta rahasia mengerikan di dalam sebuah keluarga. Ceritanya berpusat pada seorang remaja yang perlahan mengetahui bahwa keluarganya tidak seharmonis seperti yang terlihat dari luar. Ia kemudian menemukan rahasia besar yang melibatkan ayahnya dan saudara perempuannya.

    Film ini memilih pendekatan yang tenang dan realistis, sehingga kengerian dalam ceritanya justru terasa semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tidak ada banyak upaya untuk membuat kisah tersebut terasa lebih mudah diterima penonton. Sebaliknya, The War Zone membiarkan situasi yang tidak nyaman itu berkembang secara perlahan hingga membuat penonton merasa sesak.

  5. 5. Salò, or the 120 Days of Sodom (1975)

    Salò, or The 120 Days of Sodom
    Salò, or The 120 Days of Sodom (dok. CSC/Salò, or The 120 Days of Sodom)

    Pier Paolo Pasolini menjadikan Salò, or the 120 Days of Sodom sebagai kritik yang sangat keras terhadap fasisme, kekuasaan, dan penyalahgunaan manusia oleh mereka yang memiliki kendali. Film ini berlatar pada masa Republik Sosial Italia di penghujung era Mussolini dan mengikuti sekelompok orang yang menjadi korban kekuasaan sekelompok elite. Sepanjang cerita, mereka mengalami berbagai bentuk penghinaan, penyiksaan, dan kekerasan.

    Pasolini menggunakan ekstremitas tersebut bukan sekadar untuk mengejutkan penonton, tetapi untuk menunjukkan bagaimana kekuasaan yang tidak terkendali dapat menghilangkan kemanusiaan. Meski memiliki nilai sejarah dan artistik yang kuat, Salò bukan film yang mudah ditonton. Beberapa adegannya sangat ekstrem dan sengaja dibuat untuk menimbulkan rasa jijik serta ketidaknyamanan.

    Kelima film tersebut menunjukkan bahwa film yang bagus tidak selalu berarti film yang menyenangkan untuk ditonton. Nah, mana yang menurutmu paling sulit untuk ditonton lebih dari sekali?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More