Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sutradara Clayface Bahas Ending dan Nasib Matt Hagen

5 min read
Sutradara Clayface Bahas Ending dan Nasib Matt Hagen
Clayface (dok. Warner Bros. Pictures/Clayface)
  • Matt Hagen selamat setelah ditembak Caitlyn, bersembunyi di saluran pembuangan Gotham, dan obsesinya terhadap Caitlyn tetap kuat meski telah berubah menjadi Clayface.
  • Berlatar sebelum Superman, Clayface memperkenalkan Gotham dan dunia kriminalnya tanpa keterkaitan langsung dengan pahlawan lain, sambil membuka peluang konflik Matt dengan Batman di DCU.
  • James Watkins menggambarkan Matt sebagai korban yang berubah menjadi villain: balas dendamnya mula-mula memancing simpati, lalu melewati batas moral melalui kekerasan dan obsesinya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di titik mana sosok protagonis bertransformasi menjadi villain? Pertanyaan tersebut menjadi tema besar Clayface (2026), film body horror terbaru dari DCU yang disutradarai James Watkins (Speak No Evil, Eden Lake). Film yang awalnya dikembangkan oleh Mike Flanagan ini membawa cerita Matt Hagen ke arah yang lebih gelap, mempertemukan cerita balas dendam dengan kisah asal-usul villain dari Kota Gotham.

Setelah menjalani operasi rekonstruksi wajah, kehidupan aktor Hollywood Matt Hagen (Tom Rhys Harries) perlahan berubah menjadi mimpi buruk. Di akhir film, rasa sakit, cinta, dan amarah membuat Matt sepenuhnya menyerah pada sisi gelapnya hingga akhirnya menjadi Clayface. Lantas, apa sebenarnya yang terjadi pada Matt dan bagaimana ending Clayface mempersiapkan masa depan DCU?

Spoiler alert! Artikel ini akan membahas tuntas ending Clayface (2026).

  1. 1. Apakah Clayface mati di akhir film?

    Clayface 2.jpeg
    Clayface (dok. Warner Bros. Pictures/Clayface)

    Menjelang akhir film, Matt berhasil membalas dendam kepada orang-orang yang menghancurkan hidupnya, termasuk Markos Szabo dan Mia Torrez. Namun, aksinya tidak berhenti sampai di sana. Matt malah membunuh John Borrelli, tunangan Dr. Caitlyn Corr (Naomi Ackie). Dari titik ini, ia ingin menyingkirkan orang yang dianggap menghalangi hubungannya dengan sang dokter.

    Setelah melakukan pembunuhan tersebut, transformasi Matt memasuki tahap terakhir. Tubuhnya berubah menjadi versi klasik Clayface, dengan tubuh berukuran besar, warna cokelat keabu-abuan, serta wajah yang mengerikan. Matt kemudian meminta Caitlyn untuk mengakhiri penderitaannya. Caitlyn memenuhi permintaan tersebut dan menembak Matt. Lalu, apakah ia benar-benar sudah mati?

    Dalam adegan terakhir, Caitlyn berjalan menyusuri jalanan Gotham dan mulai memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Ia kemudian didekati seorang tunawisma, dan langsung curiga bahwa sosok tersebut adalah Matt. Rupanya ia masih hidup dan kini tinggal di saluran pembuangan Gotham. Dengan kemampuan Clayface, ia bahkan mampu memainkan kembali percakapan antara dirinya dan Caitlyn.

    Adegan tersebut menunjukkan bahwa meskipun tubuh Matt telah berubah menjadi monster, obsesinya terhadap Caitlyn masih sangat kuat. Bahkan, ia sampai "memerankan" Caitlyn, meski kita tahu Caitlyn yang asli takkan pernah mau menemuinya lagi. Matt Hagen tidak benar-benar mati di akhir Clayface, membuka kemungkinan bagi kemunculannya kembali dalam proyek DCU berikutnya.

  2. 2. Bagaimana Clayface terhubung dengan proyek DCU lainnya?

    Apakah Clayface Punya Post-credit Scene.jpeg
    Clayface (dok. Warner Bros. Pictures/Clayface)

    Clayface memiliki posisi unik dalam DCU karena cerita film ini berlatar sebelum Superman (2025). Dengan demikian, film tersebut menjadi cerita paling awal dalam kronologi semesta baru DC Studios. Karakter Clayface sendiri sebelumnya sudah muncul dalam serial animasi Creature Commandos (2024).

    Menariknya, Clayface terlihat berdiri sendiri. Tidak ada referensi besar terhadap Superman, Green Lantern, atau superhero DCU lainnya sepanjang film. Bahkan, Batman tidak muncul maupun disebut secara langsung sebagai bagian penting dari cerita. Namun, bukan berarti film ini tidak mempersiapkan dunia DCU.

    Salah satu kontribusi terbesar Clayface adalah memperkenalkan Gotham versi DCU secara lebih lengkap. Kehadiran Szabo juga memberikan gambaran awal mengenai struktur dunia kriminal Gotham. Hal tersebut dapat menjadi fondasi bagi kemunculan kelompok kriminal atau karakter seperti Carmine Falcone dan Salvatore Maroni dalam proyek DCU mendatang.

    Lebih jauh lagi, keberadaan Clayface di Gotham membuka kemungkinan bahwa ia dapat menjadi salah satu villain yang nantinya berhadapan dengan Batman ketika sang vigilante akhirnya diperkenalkan dalam DCU. Dengan Matt yang masih hidup di akhir film, kemungkinan tersebut semakin terbuka.

  3. 3. Apakah Clayface villain atau anti-hero?

    Clayface.jpeg
    Clayface (dok. Warner Bros. Pictures/Clayface)

    Pertanyaan mengenai posisi moral Matt Hagen sebenarnya sudah muncul sejak awal film. Matt awalnya adalah korban. Wajahnya dirusak oleh Szabo dan kehidupannya hancur. Setelah mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki wajahnya, ia justru mengalami degradasi. Penonton pun diajak memahami alasan di balik tindakan Matt. Namun, simpati tersebut perlahan berubah ketika aksi balas dendamnya semakin brutal.

    Dalam wawancara dengan Steve Weintraub dari Collider, James Watkins membahas bagaimana Clayface sengaja membuat penonton ikut menikmati perjalanan balas dendam Matt sebelum akhirnya mempertanyakan batas moral karakter tersebut.

    "Dalam kehidupan nyata, jika seseorang menyakiti Anda atau jika Anda diperlakukan tidak adil atau apa pun, Anda mengalami frustrasi dalam kehidupan nyata, dan umumnya dalam kehidupan nyata, kita tidak bisa membalas. Kita mendapatkan sensasi mendebarkan secara tidak langsung dengan menonton film di mana orang-orang melakukan balas dendam, bukan?," ucapnya dilansir Collider (25/10/2026).

    Menurut Watkins, Clayface membawa penonton melewati batas tersebut. Pada awalnya, aksi Matt terasa seperti pembalasan yang bisa dipahami. Namun, ketika jumlah korbannya bertambah, penonton mulai dipaksa mempertanyakan apakah mereka masih bisa mendukungnya. Ia kemudian menyoroti perjalanan Matt ketika kembali dari klub dan bagaimana penonton ikut merasakan kegembiraan gelap dari tindakan yang dilakukannya.

    "Dan kemudian yang menurut saya sangat menarik adalah membawa penonton melewati batas dan membuat mereka mempertanyakan hal itu, dan berkata, 'Oh, bagaimana perasaan saya tentang ini?' dari sudut pandang moralitas. Saya hanya berpikir itu menciptakan dinamika yang menarik dalam hal percakapan yang Anda lakukan dengan penonton. Pada titik mana sang pahlawan menjadi anti-hero?," lanjutnya.

    Namun, Watkins juga menegaskan bahwa tindakan Matt tidak sepenuhnya lahir dari kejahatan. Ia masih digerakkan oleh perasaan yang sangat manusiawi, terutama cintanya kepada Caitlyn. Namun tentu saja, pada akhirnya ia adalah villain yang dikenal dengan nama Clayface.

    "Aku tahu dia sudah keterlaluan dan sebagainya, tapi dia didorong oleh cinta, dan dia benar-benar dikuasai oleh, kurasa, dorongan naluriahnya," pungkasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More