Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ini Arti Piala Citra Bagi Prilly Latuconsina dan Morgan Oey!

4 min read
Ini Arti Piala Citra Bagi Prilly Latuconsina dan Morgan Oey!
potret Morgan Oey dan Prilly Latuconsina di kantor IDN, Jakarta, Jumat (4/9/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)
  • Prilly Latuconsina memaknai Piala Citra sebagai penyemangat untuk terus berkembang serta bukti bahwa dirinya layak memiliki tempat di industri perfilman Indonesia.
  • Setelah menghadapi stigma sebagai pemain sinetron dan keraguan atas kemampuan aktingnya, Prilly menjadikan Piala Citra dari film Budi Pekerti sebagai pengingat untuk terus berkarya.
  • Morgan Oey menganggap nominasi FFI 2025 untuk Pengepungan di Bukit Duri sebagai apresiasi karya dan penegasan bahwa ia memiliki tempat di industri film Indonesia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Mata Prilly Latuconsina dan Morgan Oey tampak berkaca-kaca ketika mengungkapkan arti Piala Citra dalam perjalanan mereka sebagai aktor. Dalam sesi roundtable interview bersama IDN Times, keduanya tak hanya berbicara tentang sebuah penghargaan, tetapi juga tentang perjalanan panjang untuk membuktikan diri, menghadapi keraguan, hingga akhirnya merasa bahwa mereka benar-benar punya tempat di industri perfilman Indonesia.

Lantas, seberapa penting Piala Citra bagi Prilly Latuconsina dan Morgan Oey? Yuk, ikuti cerita mereka di bawah ini.

  1. 1. Piala Citra jadi penyemangat bagi Prilly karena membuatnya merasa layak dan memiliki tempat di industri perfilman

    Prilly Latuconsina berpose dalam sesi pemotretan untuk sebuah potret di kantor IDN, Jakarta, Jumat, 4 September 2026.
    potret Prilly Latuconsina di kantor IDN, Jakarta, Jumat (4/9/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

    Dalam roundtable interview yang berlangsung sekitar 30 menit, Prilly Latuconsina mengungkapkan bahwa Piala Citra bukan sekadar bentuk apresiasi atas sebuah karya. Penghargaan tersebut menjadi penyemangat baginya untuk terus berkembang dalam setiap kesempatan sebagai aktor. Lebih dari itu, Piala Citra juga membuat Prilly merasa layak memiliki tempat di industri perfilman Indonesia.

    “Buat aku sebagai aktor, dapet Piala Citra tuh sebagai penyemangat untuk kita terus lebih baik lagi dan ngerasa, ‘Oke, kita punya tempat disini. Kita pantes ada disini,’” kata Prilly dengan nada antusias.

    Prilly sendiri telah membawa pulang satu Piala Citra lewat kategori Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik. Penghargaan tersebut diraihnya berkat penampilannya di film Budi Pekerti (2023).

  2. 2. Sempat hadapi stigma soal kemampuan akting, Prilly juga jadikan Piala Citra sebagai pengingat

    Prilly Latuconsina berpose untuk potret di kantor IDN, Jakarta, pada Jumat, 4 September 2026, dalam ruangan.
    potret Prilly Latuconsina di kantor IDN, Jakarta, Jumat (4/9/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

    Perjalanan karier Prilly sebagai aktor ternyata tidak selalu berjalan mulus. Di balik pencapaiannya di industri film, aktris kelahiran 1996 tersebut sempat menghadapi berbagai stigma yang membuatnya meragukan kemampuan diri sendiri.

    Salah satunya muncul karena Prilly lebih dulu dikenal sebagai pemain sinetron, khususnya lewat Ganteng-Ganteng Serigala (GGS). Menurut Prilly, citra yang saat itu melekat padanya membuat sebagian orang meragukan kemampuannya ketika mulai terjun ke layar lebar.

    “Orang biasa ngelihat aku di sinetron GGS, ngata-ngatain aku alay, ‘Kayaknya gak akan (bisa) deh,” lanjutnya.

    Dengan mata berkaca-kaca, Prilly juga mengaku pernah mendapat anggapan bahwa dirinya bisa terjun ke dunia film hanya karena memiliki banyak pengikut, bukan karena kemampuan akting atau kesesuaian dengan karakter yang diperankan. Berbagai pandangan tersebut bahkan sempat membuatnya mempertanyakan kemampuan diri sendiri. Namun, setelah berhasil meraih Piala Citra, Prilly pun menjadikan penghargaan tersebut sebagai pengingat bahwa ia memang memiliki tempat di industri film.

    “Aku mendapatkan kayak omongan, ‘Ya, Prilly ada di film karena followers-nya banyak, bukan karena emang bisa akting atau emang cocok karakternya.’ Nah, karena aku punya banyak pengalaman seperti itu, jadi Piala Citra itu sebagai pengingat dan penyemangat aku bahwa aku pantes ada di sini. Aku berhak untuk terus belajar kayak yang lain, berhak untuk terus berkarya, gak down sama stigma-stigma yang udah ada di luar sana, dan aku bisa patahkan,” lanjut Prilly.

    Pernyataan tersebut disampaikan Prilly dengan mata berkaca-kaca, membuat suasana roundtable interview bersama IDN Times terasa emosional. Pengalaman panjang menghadapi stigma itu pula yang membuat Piala Citra memiliki arti lebih dari sekadar penghargaan bagi Prilly. Prilly pun berharap pengalamannya tersebut bisa menginspirasi aktor lain, terutama mereka yang berasal dari dunia sinetron dan ingin terjun ke industri film, tetapi masih menghadapi stigma atau keraguan terhadap kemampuan sendiri.

  3. 3. Morgan Oey juga merasa punya tempat di industri film setelah masuk nominasi Festival Film Indonesia (FFI)

    Morgan Oey berpose untuk sesi potret di kantor IDN Times, Jakarta, pada Jumat, 4 September 2026.
    potret Morgan Oey di kantor IDN, Jakarta, Jumat (4/9/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

    Sementara itu, Morgan Oey akhirnya mencatat pencapaian penting dalam kariernya setelah untuk pertama kalinya masuk nominasi Festival Film Indonesia (FFI) 2025. Ia dinominasikan sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik berkat perannya sebagai Edwin di film Pengepungan di Bukit Duri.

    Nominasi tersebut juga sangat berarti bagi Morgan. Menurutnya, pengakuan itu membuatnya merasa bahwa karya dan kerja kerasnya mendapat apresiasi, sekaligus menegaskan bahwa ia pun juga memiliki tempat di industri film Indonesia.

    “Setelah sekian lama akhirnya saya bisa dapat nominasi FFI, itu kan saya merasa kayak, ‘Oh ternyata saya belong ya.’ Ternyata karya saya juga bisa diapresiasi,” kata Morgan Oey sambil tersenyum kecil.

    Morgan menjelaskan bahwa nominasi FFI tidak hanya dinilai dari penampilan aktor saja, tetapi juga bagaimana karakter yang dibawakan serta cerita dan pesan film dapat tersampaikan ke penonton. Oleh karena itu, Morgan menganggap kesempatan untuk masuk nominasi saja sudah menjadi sebuah kehormatan baginya.

    “Masuk nominasi kan pasti banyak sekali faktor yang dilihatkan. Misalnya, apakah performance-nya sebagai aktor sudah cukup mewakili karakter atau pesan yang ingin disampaikan ataupun dalam film itu? Apakah film itu berbicara tentang relevansi cerita yang mungkin relate sama masyarakat? Itu kan banyak faktor. Tapi untuk mendapatkan satu nominasi atau membawa pulang Piala Citra itu kayak bentuk apresiasi tertinggi.”

    Tahun ini, perjalanan Morgan bersama FFI pun berlanjut. Setelah tahun lalu untuk pertama kalinya masuk nominasi, kini ia dipercaya menjadi Duta FFI 2026 bersama Nirina Zubir.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More