Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Review Resident Evil, Reboot Zach Cregger yang Ngeri, Full Easter Egg!

5 min read
Review Resident Evil, Reboot Zach Cregger yang Ngeri, Full Easter Egg!
Resident Evil (dok. Sony Pictures Releasing/Resident Evil)
  • Resident Evil (2026) mengikuti Bryan, kurir medis biasa yang terjebak wabah T-virus di Raccoon City dan harus bertahan hidup sambil menyelesaikan pengantaran penting.
  • Zach Cregger mengutamakan perspektif warga biasa, dengan kamera dekat, ruang sempit, POV orang pertama, jumpscare, aksi berdarah, serta desain makhluk grotesk bergaya gameplay.
  • Film memadukan thriller survival, horor, dan humor melalui Bryan yang kikuk; easter egg visual-auditori hadir bagi penggemar, sementara cerita tetap dapat dinikmati penonton baru.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ketika adaptasi film Resident Evil cenderung terasa repetitif dan mulai kehilangan daya tarik, Zach Cregger (Weapons, Barbarian) datang dengan pendekatan yang lebih segar. Alih-alih kembali mengandalkan karakter ikonik dari video game, film ini memilih untuk melihat kekacauan Raccoon City dari perspektif orang biasa atau NPC di gim.

Hasilnya? Film horor survival yang terasa seperti perpaduan cutscene dan gameplay. Resident Evil (2026) memang tidak selalu serius, tetapi justru berhasil memadukan ketegangan, humor, aksi berdarah, dan sejumlah easter egg yang membuat pengalaman menonton selama 90 menit terasa menyenangkan. Berikut ulasannya!

  1. Sinopsis Resident Evil (2026)

    Resident Evil (2026) mengikuti Bryan (Austin Abrams), seorang kurir medis yang mendapatkan tugas untuk mengantarkan paket medis atau organ penting ke sebuah rumah sakit di Raccoon City pada malam yang dingin dan bersalju.

    Namun, perjalanan tersebut berubah menjadi mimpi buruk ketika wabah T-virus menyebar di kota. Warga mulai terinfeksi dan bermutasi menjadi makhluk mengerikan, sementara situasi Raccoon City semakin tidak terkendali.

    Tanpa persenjataan canggih ataupun pelatihan militer, Bryan hanya mengandalkan kemampuan seadanya untuk bertahan hidup. Ia harus mencari jalan keluar sekaligus menyelesaikan tugasnya di tengah kota yang telah berubah menjadi neraka.

    Berbeda dari adaptasi sebelumnya, film garapan Zach Cregger ini tidak menjadikan Leon S. Kennedy atau Chris Redfield sebagai pusat cerita. Resident Evil justru menawarkan sudut pandang baru melalui karakter biasa yang terjebak dalam salah satu peristiwa besar di dunia waralaba tersebut.

    Resident Evil
    2026
    4/5
    Directed by Zach Cregger
    Producer

    Zach Cregger, Robert Kulzer, Roy Lee

    Writer

    Zach Cregger, Shay Hatten

    Age Rating

    D17

    Genre

    Horror, psychological thriller, sci-fi

    Duration

    94 Minutes

    Release Date

    16 September

    Theme

    Survival horror, zombie horror,  zombie apocalypse

    Production House

    Columbia Pictures, Constantin Film,  PlayStation Productions, Sony Pictures Releasing

    Where to Watch

    Cinema XXI, CGV, Cinépolis Indonesia

    Cast

    Austin Abrams, Zach Cherry, Kali Reis, Paul Walter Hauser

  2. Trailer Resident Evil (2026)

    Cuplikan film Resident Evil (2026)

  3. 1. POV orang biasa yang membuat Resident Evil terasa segar

    Salah satu keputusan paling menarik dari Resident Evil adalah tidak menghadirkan karakter ikonik seperti Leon S. Kennedy, Ada Wong, atau Jill Valentine sebagai protagonis. Cregger memilih Bryan, seorang kurir medis biasa yang kebetulan berada di tempat dan waktu yang salah.

    Pendekatan ini membuat film terasa lebih dekat dengan konsep survival horror. Bryan bukan seorang tentara dengan kemampuan luar biasa. Ia bukan pula karakter yang sejak awal sudah siap menghadapi gerombolan zombie. Ia hanyalah orang biasa yang berusaha bertahan hidup.

    Pilihan tersebut mengingatkan kita pada pendekatan Resident Evil 7: Biohazard, ketika pemain mengendalikan Ethan Winters, sosok yang relatif biasa dan tidak memiliki kemampuan seperti karakter veteran dalam seri sebelumnya. Cregger kemudian memanfaatkan perspektif tersebut untuk membuat penonton ikut merasakan kebingungan Bryan. Kita tidak selalu tahu apa yang sedang terjadi, sementara ancaman bisa muncul dari mana saja.

    Hasilnya terasa seperti sedang menyaksikan sebuah gim survival horror dimainkan dalam format film, lengkap dengan momen yang terasa seperti cutscene, eksplorasi, hingga sudut pandang (POV) orang pertama yang menjadi salah satu suguhan menarik bagi penggemar gim.

  4. 2. Horornya langsung ngegas, visualnya seperti gameplay

    Resident Evil tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk menunjukkan taringnya. Film langsung melempar penonton ke dalam situasi kacau dan mempertahankan tensinya sepanjang durasi sekitar 94 menit. Cregger menggunakan kamera yang terasa dekat dengan karakter, ruang-ruang sempit, pencahayaan ekspresif, dan desain suara yang cukup minimalis untuk menciptakan ketegangan spasial. Rasa takut tidak hanya muncul dari apa yang terlihat, tetapi juga dari sesuatu yang mungkin berada di luar frame.

    Jumpscare-nya pun sangat efektif. Tidak semuanya terasa seperti tempelan untuk sekadar membuat penonton terkejut. Beberapa momen justru bekerja karena film terlebih dahulu membangun situasi yang membuat kita menebak-nebak apa yang akan terjadi. Di sisi lain, visualnya terasa sangat video game. Ada beberapa adegan yang seolah mengambil bahasa visual dari gameplay, tetapi tidak terasa seperti cosplay semata.

    Menariknya, film juga tidak pelit memberikan aksi berdarah dan desain makhluk yang grotesk. Beberapa creature bahkan memiliki tampilan yang mengingatkan kita pada film body horror ala The Thing (1982). Di tengah semua itu, Cregger tetap menyelipkan humor. Kadang porsinya memang berlebihan, tetapi justru menjadi bagian dari identitas film. Austin Abrams juga sangat cocok sebagai Bryan yang kikuk dan terlihat kewalahan ketika harus membunuh zombie.

  5. 3. Bukan horor serius, tetapi justru tahu cara menghibur

    Jika kamu datang dengan ekspektasi kalau Resident Evil akan menjadi horor edgy sepanjang film, mungkin ada beberapa bagian yang terasa mengejutkan. Film ini memilih genre thriller survival yang berdarah, tegang, sekaligus lucu. Bryan bisa berada dalam situasi yang benar-benar mengerikan, lalu beberapa saat kemudian melakukan hal-hal lucu. Salah satunya saat dia tidak bisa berhenti mengumpat.

    Kombinasi tersebut sebenarnya masih sejalan dengan DNA Resident Evil. Gimnya sendiri sering mempertemukan suasana horor dengan situasi yang absurd, dialog yang unik, dan aksi yang semakin lama semakin bombastis. Cregger tampaknya memahami bahasa tersebut. Ia tidak hanya mengambil nama Resident Evil, zombie, T-virus, dan sejumlah referensi, tetapi juga mencoba menerjemahkan cara sebuah gim survival horror membuat pemain merasa terlibat. Kamu akan merasakannya saat adegan first-person gameplay, ketika Bryan membawa senapan sembari menyalakan senter.

    Banyak easter egg dari segi visual maupun auditori yang juga tersebar sepanjang film. Penggemar setia gim Resident Evil kemungkinan akan menemukan sejumlah detail yang terasa menyenangkan, sementara penonton baru masih bisa menikmati ceritanya sebagai film survival horror.

    Memang, Resident Evil tidak sepenuhnya sempurna. Humor sempilan dan sejumlah keputusan cerita bisa membuat penonton mengernyitkan dahi. Namun, ketika sedang berada dalam mode survival horror, film ini benar-benar tahu bagaimana membuat penonton ikut tegang dan panik.

  6. 4. Apakah Resident Evil recommended untuk ditonton?

    Resident Evil sangat direkomendasikan bagi penggemar survival horror dan kamu yang ingin melihat adaptasi video game dengan pendekatan berbeda. Film ini mungkin tidak memberikan apa yang sebagian penggemar harapkan karena tidak membawa Leon S. Kennedy atau karakter ikonik lain sebagai pusat cerita. Namun, keputusan tersebut justru membuka ruang bagi Cregger untuk membangun cerita baru di dalam dunia Resident Evil.

    Kekuatan utamanya ada pada pengalaman menonton. Visual bergaya video game, jumpscare yang efektif, aksi berdarah, creature design, humor, dan POV karakter biasa membuat film ini terasa seperti perjalanan bertahan hidup yang menyenangkan. Austin Abrams juga menjadi salah satu alasan film ini bekerja. Bryan bukan pahlawan sempurna yang hebat, dan justru kekikukannya membuat perjuangannya terasa lebih relevan sekaligus menghibur.

    Resident Evil bukanlah film yang ingin mengulang formula lama. Cregger mengambil dunia yang sudah dikenal, lalu memindahkannya ke sudut pandang seseorang yang sama sekali tidak siap menghadapi wabah zombie. Bagi para penggemar gim, ada banyak easter egg untuk diburu. Bagi penonton kasual, ada horor, darah, tawa, dan ketegangan yang cukup untuk membuat perjalanan 94 menit ini terasa sekejap mata.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More