Avatar: Fire and Ash (dok. 20th Century Studios/Avatar: Fire and Ash)
Cameron, yang selama ini dikenal sebagai pembela garis keras layar lebar, menilai, jika Warner Bros. benar-benar jatuh ke tangan Netflix, nilai artistik film akan tergerus dan berubah jadi sekadar "konten." Dalam salah satu pernyataannya, Cameron menegaskan bahwa perjuangannya bukan semata-mata soal bisnis.
"Saya yakin sekali rencana penjualan Warner Bros. Discovery ke Netflix bakal jadi bencana buat bisnis film bioskop, dunia yang sudah saya dedikasikan seluruh hidup saya di sana. Tentu, film-film saya juga tayang di platform digital nantinya, tapi cinta pertama saya tetaplah bioskop," ujarnya, seperti dilansir Variety (19/2/2026).
Ia juga mengingatkan pemerintah AS bahwa dirinya bukan hanya pembuat film komersial, melainkan pionir teknologi sinema modern. Dari 3D digital, VFX mutakhir, hingga eksperimen high frame rate, semua ia kembangkan untuk pengalaman layar raksasa, bukan untuk ditonton di ponsel atau laptop sambil rebahan.
Menurut Cameron, jika film-film besar Warner Bros. nantinya diproduksi dengan orientasi streaming sejak awal, maka ruh sinema akan menghilang.