"Saya tahu bahwa kesempatan ini akan menjadi pengalaman yang jauh lebih berharga daripada sekadar mendapatkan ijazah. Saya tidak pernah meragukannya sedetik pun. Saya hampir terlalu impulsif. Saya berpikir: 'Tidak, inilah yang telah saya perjuangkan dan saya telah diberi kesempatan luar biasa ini dengan para pemain yang luar biasa, dengan naskah yang indah ini.' Saya tidak bisa menolak dan saya tidak bisa membiarkan rasa takut dan kecemasan karena tidak menyelesaikan sekolah menghantui saya, karena itu akan menggagalkan seluruh tujuan saya untuk berhenti sekolah," ucapnya, dikutip Vogue.
Jatuh Bangun Milly Alcock, Pemeran Supergirl Baru dari DCU

- Milly Alcock meninggalkan sekolah seni bergengsi di Sydney demi mengejar karier akting, keputusan berani yang membawanya ke serial Upright dan membuka jalan menuju proyek besar berikutnya.
- Selama pandemik COVID-19, Alcock sempat kesulitan ekonomi hingga bekerja paruh waktu sebagai pencuci piring sebelum akhirnya melejit lewat perannya sebagai Rhaenyra Targaryen di House of the Dragon.
- Setelah menghadapi tekanan popularitas, Alcock terpilih oleh James Gunn sebagai Supergirl di DCU dan akhirnya debut sebagai pemeran utama dalam film Supergirl (2026).
Dari seorang ratu penunggang naga hingga menjadi pahlawan dari planet Krypton. Kalimat inilah yang tepat buat menggambarkan Milly Alcock yang tengah naik daun berkat penampilannya dalam film Supergirl (2026). Jauh sebelum dipercaya memerankan salah satu superhero ikonis DC ini, Alcock harus melewati berbagai jatuh bangun dalam memulai kariernya.
Milly Alcock, yang memiliki nama lengkap Amelia May Alcock, lahir pada 11 April 2000 di Sydney, Australia. Aktris yang kini berusia 26 tahun tersebut tumbuh di lingkungan keluarga yang menggemari olahraga. Seiring berjalannya waktu, Alcock justru menemukan passion-nya di dunia seni peran.
1. Alcock tidak melanjutkan pendidikan demi mengejar karier akting

Milly Alcock memulai debut aktingnya melalui serial drama Wonderland (2014). Walau tampil sebanyak satu episode saja, serial ini menjadi sebuah pintu pembuka bagi serial-serial berikutnya, seperti Janet King (2017) dan Pine Gap (2018). Alcock juga mencicipi debut layar lebarnya lewat film horor The School (2018), meski saat itu dirinya cuma memperoleh peran kecil.
Setahun kemudian, sebuah keputusan penting mengubah hidupnya ketika Alcock memilih berhenti mengeyam pendidikan di Newtown High School of the Performing Arts, SMA seni bergengsi di Sydney, setelah mendapat kabar kalau dirinya lolos audisi serial drama komedi Upright (2019—2022). Dia rela meninggalkan bangku sekolah karena jadwal syuting yang berbenturan dengan ujian akhirnya. Dalam wawancaranya dengan Vogue, Alcock mengaku kalau dirinya tidak pernah menyesali keputusan yang dinilai berisiko ini.
2. Pandemik COVID-19 membuat Alcock mengambil pekerjaan sambilan

Walau menjadi impian, bekerja sebagai seorang aktris tidaklah semudah seperti yang dibayangkan banyak orang. Selepas membintangi Upright, Alcock mulai mendapat banyak tawaran untuk berperan dalam berbagai proyek, seperti serial drama kriminal The Gloaming (2020). Sayangnya, pandemik COVID-19 menghambat produksi film dan serial yang mengakibatkan tawaran proyek yang diterima Alcock pun ikut menurun.
Usut punya usut, Alcock sempat menghadapi masa-masa sulit selama pandemik. Demi memenuhi kebutuhan hidupnya, dia bekerja paruh waktu (part time) sebagai pencuci piring di sebuah restoran, lho. Aktris berambut pirang ini bahkan mengaku sempat tinggal di loteng rumah ibunya, seperti yang diceritakannya kepada The List.
3. Alcock mengalami lonjakan karier berkat serial House of the Dragon

Kehidupan Milly Alcock berubah drastis setelah dipercaya untuk memerankan Rhaenyra Targaryen, putri Raja Viserys I Targaryen (Paddy Considine) sekaligus pewaris Iron Throne, dalam serial House of the Dragon (2022— ). Diadaptasi dari novel Fire & Blood (2018) karya George R.R. Martin, serial ini dimaksudkan sebagai prekuel yang mengambil latar sekitar 200 tahun sebelum peristiwa Game of Thrones (2011—2019). Rhaenyra diketahui merupakan leluhur dari Daenerys Targaryen (Emilia Clarke), salah satu tokoh penting dalam perebutan Iron Throne di King's Landing.
Alcock memang hanya tampil sebanyak tujuh episode pertama sebelum perannya diestafetkan kepada Emma D'Arcy yang membawakan Rhaenyra dewasa. Meski demikian, aktris bermata biru ini berhasil membuat penonton terkesima berkat pembawaannya sebagai Rhaenyra muda yang anggun, cerdas, dan ambisius. Saking melekatnya, tak sedikit dari mereka yang sulit move on karena sudah terlanjur terpikat dengan karisma Alcock dalam House of the Dragon.
4. Alcock merasa tertekan setelah popularitasnya mulai melambung

Dari aktris lokal menjadi aktris internasional, perjalanan Milly Alcock tidak sepenuhnya mulus. Dirinya mengaku sempat dihantui perasaan cemas setelah namanya mulai dikenal luas. Alcock bahkan menyebut dirinya mengalami impostor syndrome karena merasa belum pantas berada di proyek ambisius sekelas House of the Dragon.
Di balik ketenaran yang ia dapatkan, Alcock merasa kesulitan beradaptasi dengan sorotan publik. Melalui wawancara dengan Nylon, aktris yang kini menjalin hubungan asmara dengan koki Inggris Jo Powell sengaja menghindari media sosial karena merasa tertekan melihat wajahnya yang terus-menerus muncul di berbagai platform. Ironisnya, semua itu harus dia hadapi seorang diri karena tidak memiliki orang terdekat yang mengalami perubahan hidup serupa.
"Ini seperti pekerjaan paruh waktu, sungguh. Entahlah. Aku berusaha untuk tidak melihatnya dan berusaha untuk tidak terlibat dengannya karena itu tidak menguntungkanku. Itu hanya membuatku sangat cemas. Melihat wajahku terus-menerus membuatku tegang. Tidak seharusnya ada orang yang harus melakukan itu. Ini benar-benar menyebalkan. Aku tidak tahu bagaimana orang-orang sosialita di dunia ini bisa melakukannya. Ini membuatku hampir gila. Ini adalah situasi yang sangat sulit untuk dihadapi. Hanya sedikit orang yang memiliki pengalaman seperti yang aku alami, dan menemukan mereka sangat sulit. Aku tidak benar-benar mengenal siapa pun yang pernah mengalami hal yang sama seperti yang aku alami. Semua temanku sangat normal, kuliah, dan melakukan hal-hal yang sangat biasa, dan keluargaku sama sekali tidak berkecimpung di bidang seni, jadi ini aneh. Rasanya seperti seseorang telah membuka kotak Pandora dan kau hanya melihat melalui cerminnya. Agak seperti Alice in Wonderland. Ini benar-benar aneh," ungkap Alcock kepada Nylon.
5. Alcock terpilih sebagai Supergirl atas kepercayaan James Gunn

Diliputi ketidakpastian, Milly Alcock sempat mempertimbangkan untuk meninggalkan dunia seni peran dengan melamar pekerjaan di sebuah toko roti, sebagaimana dilaporkan oleh Excélsior. Beberapa waktu kemudian, nasib aktris asal Australia ini kembali memasuki titik balik ketika terpilih sebagai Kara Zor-El alias Supergirl usai mengungguli Emilia Jones (CODA), Meg Donnelly (Zombies), dan Cailee Spaeny (Alien: Romulus) dalam proses screen test. Sebagai arsitek utama DCU, James Gunn menilai Alcock merupakan pilihan yang tepat untuk menghidupkan sang Girl of Steel sesuai dengan visinya.
Walaupun mendapat dukungan penuh dari Gunn, Alcock tetap tidak luput dari kritik dan komentar negatif sebagian fans. Menurut Fox News, dia sudah mengantisipasi reaksi tersebut jauh sebelum terpilih sebagai Supergirl. Hidup di bawah bayang-bayang Melissa Benoist dan Sasha Calle, dia memilih tidak meminta nasihat dari kedua pendahulunya dan fokus memberikan penampilan terbaik sebagai sepupu Superman di DCU.
6. Lewat Supergirl, Alcock debut sebagai pemeran utama di layar lebar

Tiba waktunya untuk pembuktian tatkala DCU memulai debutnya di layar lebar melalui film Superman (2025). Film ini memang berfokus memperkenalkan Clark Kent alias Superman (David Corenswet) sebagai sosok pahlawan yang hangat dan optimis. Namun, kemunculan singkat Milly Alcock sebagai Kara Zor-El alias Supergirl pada adegan akhir film sudah berhasil mencuri perhatian penonton dan fans DC.
Alcock akhirnya mendapat kesempatan menjadi pemeran utama melalui film Supergirl, 42 tahun sejak Helen Slater membintangi film solonya pada 1984. Film ini menuai reaksi yang beragam, tetapi pembawaan Girl of Steel versi Alcock dengan vibes remaja rebel berhasil mendapat tempat di hati penonton. Meski dibayangi luka masa lalu, Supergirl tetap berusaha menjadi pahlawan dengan caranya sendiri tanpa harus menjadi pribadi yang sempurna.
“Film ini adalah pengingat yang sangat baik bahwa dunia bisa runtuh di sekitarmu, tetapi kamu bisa menjadi pahlawan dalam kisahmu sendiri," kata Alcock saat menggambarkan versi Supergirl yang diperankannya, seperti dikutip dari Vanity Fair.
Kisah Milly Alcock yang penuh lika-liku ini menjadi pengingat bahwa setiap kesuksesan diraih melalui perjuangan dan kerja keras yang jarang disorot oleh kamera. Tanpa kedua hal tersebut, kita mungkin tidak akan melihat penampilan Alcock yang gemilang sebagai pewaris Iron Throne dalam House of the Dragon sebelum akhirnya dipercaya untuk memerankan Supergirl di DCU.



















