Soal Demo, Joko Anwar: Bukan Mau Chaos, Ini karena Rakyat Sulit Hidup

- Joko Anwar menilai aksi demonstrasi hasil dari kekecewaan rakyat terhadap DPR dan pemerintah yang tidak mewakili mereka.
- Sutradara ini mendorong untuk lebih bersuara di tengah ketidakadilan.
- Jokan menyatakan bahwa kematian Affan Kurniawan tak bisa digantikan dengan apapun
Jakarta, IDN Times – Gelombang aksi demonstrasi terhadap DPR RI berujung duka setelah seorang pengemudi ojek online (ojol), Affan Kurniawan, meninggal dunia, karena dilindas rantis pada Kamis (28/8/2025). Tak hanya memicu gelombang demonstrasi yang lebih besar keesokan harinya, tragedi ini juga memicu kemarahan publik, termasuk di kalangan pekerja seni.
Sutradara ternama Joko Anwar ikut menanggapi situasi tersebut. Dalam wawancara singkat usai konferensi pers di CGV Pacific Place, Jakarta Selatan, pada Jumat (29/8/2025), ia menilai, kemarahan rakyat bukanlah hal yang muncul secara tiba-tiba.
1. Joko Anwar: DPR dan pemerintah tidak mewakili rakyat

Menurut sutradara yang akrab dipanggil Jokan ini, aksi besar-besaran yang terjadi belakangan adalah hasil dari akumulasi panjang dari kekecewaan rakyat. Ia menegaskan kondisi tersebut tidak "ujug-ujug" muncul.
"Yang pasti, kan kita sampai pada kondisi ini tidak ujug-ujug, ya, tidak tiba-tiba. Jadi sudah lama sekali, baik pemerintah maupun DPR itu tidak bekerja untuk rakyat, tidak berpihak kepada rakyat," ujarnya.
Dengan raut wajah serius, ia juga menyinggung sikap para pejabat yang dianggap tone deaf, lantaran terlihat bersenang-senang di tengah kesengsaraan rakyat. "Setiap hari kita bisa melihat bagaimana rakyat semakin lama semakin susah untuk mencari kerja. Banyak yang kelaparan, banyak juga yang mendapatkan kesulitan untuk hidup, hanya untuk menghidupi keluarganya."
Jokan pun terlihat kecewa saat mengatakan, "Seharusnya kan mereka bisa lebih mendengarkan dan lebih punya empati, tidak menunjukkan bahwa mereka sedang bersenang-senang di antara kesengsaraan rakyat gitu, ya. Masih ada kekuatan dan keberanian untuk bisa tertawa, berjoget, sementara rakyat juga teriak. Itu menandakan bahwa mereka tone deaf banget."
Menurutnya, kritik warga juga sering dipelintir seolah sebagai serangan politik dari pihak yang berseberangan dengan mereka. Padahal, itu murni jeritan hidup sehari-hari.
"Bukan karena ada yang berusaha untuk membuat chaos seperti kata presiden, ada yang berusaha untuk membuat keributan karena latar belakang politis. Ini simply rakyat yang berteriak, karena rakyat kesulitan untuk hidup. As simple as that," tutur sutradara Pengepungan di Bukit Duri ini.
2. Sudah lama rakyat memaklumi gestur minta maaf pejabat

Ketika ditanya siapa yang layak disalahkan, Jokan menilai akar masalah terletak pada sistem dan kultur politik di Indonesia.
"Salahnya sistem, salahnya sistem. Kalau kita ngomong sistem, ya orang-orang yang menjalankan sistem siapa. Dan seperti yang aku bilang ini berhubungan sama kultur yang sudah lama banget. Kita rakyat diminta untuk maklum, rakyat diminta untuk memaafkan kalau misalnya ada gestur minta maaf dari para pejabat yang sudah berbuat kesalahan hanya sekedar minta maaf," imbuhnya.
Ia merasa hal itu tidak boleh lagi dijadikan tameng, karena pada akhirnya rakyat sudah muak. Jokan pun mendorong untuk lebih bersuara lagi di tengah ketidakadilan yang terjadi.
"Enggak lah, pada saat ini kayaknya kita sudah harus bersuara, harus bangkit, dan harus melawan lebih keras. Baik itu secara fisik maupun secara bersuara, di manapun kita bisa. Termasuk lewat sosial media," katanya.
3. Joko Anwar sebut kematian Affan menyesakkan

Menanggapi insiden ojol Affan Kurniawan, Jokan berkata kalau hilangnya nyawa takkan bisa digantikan dengan apa pun.
"Ya, satu nyawa rakyat itu enggak ada gantinya, gitu. Apapun yang dicoba untuk dilakukan sebagai usaha untuk meredakan kesedihan, penderitaan dari orang yang terdampak langsung termasuk keluarga dan kerabat. Saya rasa itu enggak ada, enggak ada, enggak bisa dibandingkan dengan dengan nyawa yang sudah melayang. Itu harus harus dihentikan dan enggak boleh terjadi lagi," ucapnya.
Ketika ditanya wartawan perihal potongan video terkait insiden Affan, Jokan mengaku sudah melihatnya meski merasa perih.
"Oh, saya merasa bersyukur bahwa orang bisa melihat, walaupun menyesakkan, ya. Supaya orang tahu bahwa ternyata ini real gitu, bukan sesuatu yang dibesar-besarkan oleh orang," akunya.
Jokan pun menutup dengan menyinggung pembatasan sosmed saat demo. "Sekarang kita enggak bolehlah TikTok kalau demo. Berarti itu adalah satu hal untuk membungkam rakyat dan usaha-usaha untuk meredam kemarahan rakyat, dan apa namanya? Kekecewaan rakyat. Saya sih di media sosial selalu retweet, repost, karena itu yang bisa dilakukan."