Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenapa Film Drama Keluarga Kelas Menengah Jadi Tren di Indonesia?

Kenapa Film Drama Keluarga Kelas Menengah Jadi Tren di Indonesia?
poster film Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya? dan Tunggu Aku Sukses Nanti (Instagram.com/kuntzagus | Instagram.com/filmtungguakusuksesnanti)
Intinya Sih
  • Film drama keluarga kelas menengah makin diminati karena kisahnya dekat dengan realitas hidup, menampilkan hubungan dan tekanan ekonomi yang relatable bagi penonton Indonesia.
  • Sutradara Hadrah Daeng Ratu menyebut Gen Z lebih suka cerita jujur dan apa adanya, dipengaruhi tontonan seperti drama Korea yang sederhana tapi emosional.
  • Hadrah menjelaskan pembuatan film drama butuh pendalaman emosi dan psikologi karakter, berbeda dengan horor yang menekankan kekuatan audiovisual untuk membangun suasana.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times – Di tengah dominasi film horor yang masih menguasai layar bioskop Indonesia, drama keluarga tentang kehidupan kelas menengah perlahan menunjukkan daya tarik yang semakin kuat. Film-film yang mengangkat persoalan sehari-hari, mulai dari hubungan orangtua dan anak, tekanan ekonomi, hingga mimpi yang harus tertunda karena tuntutan hidup, kini tampak lebih mudah menemukan tempat di hati penonton.

Berdasarkan data Cinepoint, film drama keluarga kelas menengah menunjukkan performa yang menjanjikan di box office sepanjang tahun ini. Sejumlah judul berhasil meraih jutaan penonton. Di antaranya ada film Tunggu Aku Sukses Nanti yang melewati angka 3 juta penonton dan Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? yang mengumpulkan lebih dari 1,6 juta penonton. Bahkan belum lama ini, film Semua Akan Baik-Baik Saja arahan Baim Wong juga berhasil melewati angka 1,2 juta penonton.

Tentu saja, fenomena ini menunjukkan bahwa penonton Indonesia masih memiliki ketertarikan besar terhadap cerita yang dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari di tengah banyaknya film yang menawarkan ketegangan dan kejutan. Lantas, apa yang membuat film drama keluarga kelas menengah semakin diminati? Yuk, mari kita bedah!

1. Penonton muda lebih menyukai cerita yang jujur dan relatable

Seorang perempuan berhijab berpose di depan poster film berjudul Jangan Buang Ibu yang menampilkan adegan keluarga dan kursi roda.
Hadrah Daeng Ratu, sutradara film Jangan Buang Ibu (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Fenomena bersinarnya film-film drama keluarga yang mengangkat kehidupan kelas menengah di box office Indonesia juga dirasakan oleh sutradara Hadrah Daeng Ratu. Ia menilai saat ini terjadi pergeseran selera penonton, terutama di kalangan Generasi Z atau Gen Z yang lebih tertarik pada cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari ketimbang drama yang berlebihan.

“Behavior-nya Gen Z itu senang sama sesuatu yang dekat sama kehidupan mereka, dan sesuatu yang jujur,” kata Hadrah dalam wawancara eksklusif bersama IDN Times, Kamis (11/6/2026).

Menurut Hadrah, kecenderungan tersebutlah yang kemudian membuat film-film drama keluarga menjadi lebih mudah diterima penonton. Apalagi ketika pendekatan yang digunakan dibuat apa adanya, tanpa berusaha dilebih-lebihkan, baik dari segi emosi maupun penyajiannya. Ia pun mencontohkan kesuksesan film Home Sweet Loan yang sempat populer pada 2024 sebagai salah satu buktinya.

“Pada akhirnya film-film drama keluarga, kayak misalnya yang kemarin Home Sweet Loan, itu jadi jauh lebih diterima karena memang mereka bicara apa adanya, jujur dalam semua hal, dari set, makeup, sampai akting, tidak ada yang dilebih-lebihkan,” lanjut Hadrah.

2. Jejak drama Korea dalam perubahan selera penonton Indonesia

Poster film Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya? menampilkan keluarga di bak mobil, dan poster Tunggu Aku Sukses Nanti memperlihatkan sekelompok orang di ruang tamu.
poster film Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya? dan Tunggu Aku Sukses Nanti (Instagram.com/kuntzagus | Instagram.com/filmtungguakusuksesnanti)

Dalam wawancara yang berlangsung sekitar 10 menit, Hadrah juga menilai bahwa perubahan selera penonton Indonesia saat ini tak lepas dari pengaruh tontonan Asia, khususnya drama Korea, yang selama ini banyak dikonsumsi oleh penonton muda Indonesia.

Menurutnya, drama Korea terbiasa menghadirkan cerita yang sederhana, natural, tetapi kuat secara emosional. Pola penceritaan tersebut kemudian ikut membentuk ekspektasi penonton Indonesia, sehingga jadi terbiasa dengan emosi yang dibangun secara perlahan, bukan ledakan dramatis yang berlebihan.

“Aku melihat kita ini juga ter-influence sama drama Korea, sama drama Asia. Jadi akhirnya penonton itu terbiasa dengan cerita yang dekat, yang jujur, tidak terlalu dibuat-buat,” kata Hadrah.

3. Lebih sulit mana: garap film horor atau drama?

Seorang perempuan berhijab berpose di depan poster film berjudul Jangan Buang Ibu yang menampilkan kursi roda dan dua tokoh lanjut usia.
Hadrah Daeng Ratu, sutradara film Jangan Buang Ibu (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Hadrah Daeng Ratu sendiri bukanlah nama baru di industri film Tanah Air. Ia adalah sutradara di balik kesuksesan film-film horor, seperti Makmum (2019), Pemandi Jenazah (2024), Kitab Sijjin dan Illiyin (2025), dan masih banyak lagi. Bahkan belum lama ini, karya horor terbarunya, Alas Roban berhasil meraih lebih dari 2,2 juta penonton.

Di samping itu, Hadrah pun juga kerap menyutradarai film drama keluarga yang menceritakan tentang kehidupan kelas menengah, termasuk Jangan Buang Ibu yang dijadwalkan tayang di bioskop pada 25 Juni 2026 mendatang.

Saat ditanya IDN Times mengenai mana yang lebih sulit antara mengarahkan film horor atau drama, Hadrah menjelaskan bahwa keduanya memiliki tantangan masing-masing. Menurutnya, film drama memang terlihat sederhana. Namun di balik itu, tim produksi justru membutuhkan pendalaman yang lebih detail pada lapisan emosi dan psikologi karakter.

“Drama terlihatnya sederhana tapi pendalaman layer-layernya itu yang kita tuh butuh detail. Kedalaman perasaan, akhirnya kita membicarakan tentang psikologi manusia, behavior manusia, relationship, hubungan antara keluarga tuh seperti apa,” ungkap Hadrah.

Sementara itu, dalam film horor, tantangannya berbeda karena harus menghadirkan pengalaman audiovisual yang kuat. Menurut Hadrah, film horor tidak bisa hanya mengandalkan cerita, tetapi juga harus membangun suasana dan pengalaman yang dapat dirasakan langsung oleh penonton.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Triadanti N
EditorTriadanti N

Related Articles

See More