Minimal Sekali Seumur Hidup Kamu Harus Nonton Konser King Nassar

Konser tunggal perdana King Nassar “Lost in the Jungle” di Istora Senayan menghadirkan atmosfer pesta hutan selama sekitar tiga jam, didukung antusiasme penonton sejak sebelum pertunjukan.
Nassar membuka penampilan dengan bergelantungan di panggung, mengenakan kostum serta properti unik, sementara tata panggung bernuansa hutan dan Erwin Gutawa Orchestra memperkuat kemegahan konser.
Lagu-lagu dangdut dan pop mengajak penonton bernyanyi serta berjoget bersama; penampilan Raisa, Siti Nurhaliza, Lesti Kejora, dan Elvi Sukaesih menambah keragaman hiburan.
Jakarta, IDN Times - Menghilangkan stres gak harus selalu dengan pergi berlibur. Menonton konser dangdut dan berjoget bersama ribuan orang juga bisa menjadi cara menyenangkan untuk melepas penat. Apalagi kalau yang tampil adalah King Nassar. Penyanyi bernama asli Nassar Fahad Ahmad Sungkar ini memang punya daya tarik tersendiri di atas panggung. Bukan cuma karena lagu-lagunya yang familier, tetapi juga aksi panggungnya yang penuh kejutan dan sering kali di luar dugaan.
Saya pun berkesempatan merasakan langsung pengalaman tersebut saat menghadiri konser tunggal perdana King Nassar bertajuk “Lost in the Jungle” di Istora Senayan, Sabtu (7/11/2026).
Selama sekitar tiga jam pertunjukan, suasana konser benar-benar terasa seperti pesta besar di tengah hutan karena tata panggung yang dipenuhi ornamen pepohonan, dedaunan menjuntai, serta visual bernuansa hijau yang memperkuat atmosfer jungle. Penonton pun tampak asyik bernyanyi, berjoget, dan tertawa bersama menikmati setiap penampilan King Nassar yang penuh kejutan.
Setidaknya, sekali seumur hidup kamu harus nonton konser King Nassar, deh. Apa yang membuat konser King Nassar disebut bisa menjadi salah satu cara mengurangi stres? Yuk, mari kita bedah!
1. Euforia penonton bikin suasana hati ikutan happy

potret konser King Nassar “Lost in the Jungle” di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (7/11/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida) Saya tiba di Istora Senayan sekitar pukul 16.22 WIB. Dari kejauhan, backdrop bertema “Lost in the Jungle” sudah berdiri megah di depan venue. Suasana konser pun sudah mulai terasa karena satu per satu penonton mulai berdatangan, meski gate-nya dijadwalkan dibuka sekitar pukul 18.00 WIB.
Saat semakin mendekati area venue, perhatian saya terus tertuju pada penampilan para penonton yang berlalu-lalang. Bagaimana tidak? Mayoritas yang hadir adalah ibu-ibu dengan dandanan yang supertotalitas. Bak ratu jungle, mereka tampak percaya diri mengenakan berbagai busana bermotif leopard, lengkap dengan aksesori unik seperti bando berbentuk ular hingga gajah. Bahkan, ada juga yang memilih outfit bling-bling yang membuat penampilannya semakin mencolok.
Saya pun sempat berbincang dengan rombongan ibu-ibu asal Cikarang. Mereka mengaku rela meninggalkan suami dan anak demi menyaksikan konser King Nassar. Kebayang, kan, seberapa besar antusiasme mereka?
Nah, di balik euforia tersebut, ternyata ada juga penonton yang mengaku sangat bersyukur bisa menghadiri konser karena sebelumnya sempat kesulitan melakukan war tiket. Meli, salah satu penonton asal Jakarta, menceritakan bahwa ia bersama teman-temannya sampai mengerahkan beberapa perangkat untuk mengamankan empat tiket. Mereka membagi tugas dengan menggunakan beberapa perangkat agar peluang mendapatkan tiket lebih besar. Meski tiga orang di antara mereka gagal, beruntungnya ada salah satu yang berhasil mendapatkan tiket sehingga mereka bisa menonton konser King Nassar bersama-sama.
“Jadi kita berempat dan masing-masing kita coba war tiket. Aku war di dua device. Temenku juga, tapi gak ada yang nyangkut. Untungnya hoki ini sudah diambil sama Restu jadi kita dapet empat tiket konser Nassar,” cerita Meli dengan nada antusias sambil menunjuk satu-satunya teman yang mendapatkan tiket.
Melihat antusiasme tersebut, saya pun merasa konser King Nassar ini memang bukan sekadar tempat untuk menikmati musik. Ada kegembiraan tersendiri sejak sebelum pertunjukan dimulai. Mulai dari berdandan dengan outfit unik, berkumpul bersama teman, hingga perjuangan mendapatkan tiket, semuanya menjadi bagian dari pengalaman menyenangkan yang bisa membantu penonton melepas penat.
2. Aksi panggung King Nassar yang selalu penuh gebrakan dan mengundang tawa

potret konser King Nassar “Lost in the Jungle” di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (7/11/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida) Hiburan yang ditawarkan King Nassar tidak hanya datang dari lagu-lagunya. Aksi panggung yang nyentrik, tingkah spontan, hingga kostumnya yang unik sering kali menjadi sumber gelak tawa penonton. Menurut saya, hal-hal tak terduga seperti inilah yang membuat suasana konser terasa menyenangkan dan membantu kita sejenak melupakan penat.
Hal tersebut pun saya rasakan di konser “Lost in the Jungle”. Saat konser dimulai sekitar pukul 20.00 WIB, penonton sempat bertanya-tanya dari mana ia akan muncul. Maklum, King Nassar memang dikenal suka menghadirkan cara-cara nyentrik saat membuka penampilan. Kali ini, siapa sangka, ia akan membuka konsernya dengan bergelantungan di atas panggung. Dengan latar visual hutan yang dipenuhi pepohonan, dedaunan, serta sulur-sulur tanaman merambat berwarna hijau, vibes King Nassar pun jadi terlihat seperti Tarzan yang sedang bergelantungan di tengah hutan. “Gejolak Asmara” menjadi lagu pembuka yang langsung memancing penonton untuk bernyanyi bersama. Bayangkan, baru satu lagu dimainkan, suasana Istora sudah pecah oleh suara nyanyian dan sorakan penonton.
King Nassar juga tampak begitu totalitas dalam mempersiapkan penampilannya. Hampir setiap lagu memiliki konsep busana yang berbeda dan unik. Saat membawakan “Kecanduan Kamu”, misalnya, ia tampil dengan kostum bernuansa burung cenderawasih yang dilengkapi ornamen menyerupai bulu-bulu. Bahkan, ia juga sempat tampil dengan kostum menyerupai tawon hingga busana penuh hiasan bunga yang membuat penampilannya terkesan semakin mencolok.
Kejutan lainnya juga hadir lewat penggunaan properti pendukung. Nassar menghadirkan properti buaya saat membawakan lagu “Buaya Buntung” dan harimau ketika menyanyikan “Kucing Garong”. Perpaduan kostum nyentrik dan properti unik tersebut semakin menghidupkan tema “Lost in the Jungle” di atas panggungnya.
Kemegahan pertunjukan ini juga didukung oleh konsep tata panggung yang sesuai dengan tema. Pepohonan, ornamen dedaunan yang menjuntai, serta visual bernuansa hijau membuat Istora Senayan seolah disulap menjadi hutan sungguhan. Selain itu, lidah panggung yang membentang panjang juga menjadi nilai tambah karena memungkinkan Nassar tampil lebih dekat dengan penonton dari berbagai sudut. Belum lagi kehadiran Erwin Gutawa Orchestra yang membuat aransemen lagu-lagunya terdengar semakin megah. Perpaduan aksi panggung yang atraktif dan produksi pertunjukan yang apik pun membuat konser ini terasa seperti sebuah pertunjukan hiburan yang utuh.
3. Bernyanyi dan berjoget bersama bikin lupa sejenak beban pekerjaan

potret konser King Nassar “Lost in the Jungle” di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (7/11/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida) Menonton konser “Lost in the Jungle” membuat saya memahami mengapa King Nassar kerap disebut sebagai hiburan yang bisa membantu melepas stres. Sepanjang pertunjukan, ia benar-benar tampil energik dan tahu bagaimana cara menghidupkan suasana. Meski merupakan penyanyi dangdut, King Nassar tidak hanya mengandalkan lagu-lagu dangdut yang identik dengan irama mengajak bergoyang. Ia juga membawakan sejumlah lagu pop yang tak kalah familier. Salah satunya “Berharap Tak Berpisah” milik Reza Artamevia. Begitu intro lagu terdengar, penonton pun langsung menyambutnya dengan nyanyian bersama. Bahkan, penonton di area tribun yang biasanya bisa menikmati pertunjukan sambil duduk pun ikut berdiri. Tak sedikit yang melompat-lompat mengikuti irama sambil bernyanyi sekeras mungkin. Gokil.
Belum lagi saat membawakan “Teman Tapi Mesra”, misalnya, ia tiba-tiba memanjat tiang panggung hingga membuat penonton bersorak. Hal ini pun membuat saya semakin bertanya-tanya, dari mana Nassar mendapatkan energi sebesar itu? Gak ada habisnya!
Keseruan konser juga semakin lengkap dengan kehadiran sejumlah guest star. Raisa menjadi salah satu kejutan tak terduga malam itu. Ia tampil membawakan “Mantan Terindah”, kemudian berduet dengan King Nassar menyanyikan “Terajana”. Momen langka ketika Raisa ikut berjoget dan membawakan lagu dangdut tersebut pun sukses memancing sorakan penonton.
Tak hanya Raisa, King Nassar juga menghadirkan Siti Nurhaliza, lho. Penampilan keduanya saat membawakan “Betapa Ku Cinta Padamu” dan “Cindai” terasa begitu istimewa sekaligus membawa penonton bernostalgia. Di samping itu, ada juga Lesti Kejora dan Elvi Sukaesih yang turut memeriahkan konser. Kehadiran para penyanyi dari lintas genre dan generasi ini memberikan warna tersendiri bagi konser “Lost in the Jungle.” Perpaduan musik pop, dangdut, hingga Melayu membuat pertunjukan terasa semakin beragam dan menjadi kejutan menyenangkan bagi penonton.
Pada akhirnya, saya merasa konser “Lost in the Jungle” menawarkan ruang untuk sejenak melepaskan diri dari rutinitas. Ada energi panggung yang menular, lagu-lagu familier yang bisa dinyanyikan bersama, aksi tak terduga yang mengundang tawa, hingga penampilan spesial dari para guest star. Selama beberapa jam, penonton pun seolah memiliki alasan untuk melupakan sejenak pekerjaan dan tenggat waktu, lalu menikmati momen yang ada. Mungkin inilah yang membuat healing jalur King Nassar begitu menarik dan bikin suasana hati jadi terasa lebih ringan.




















