Bene Dion Tegaskan Pulang Kampung Proyek Mandiri: Tulus Bukan Pesanan

- Bene Dion menegaskan film musikal Pulang Kampung diproduksi mandiri tanpa dukungan pemerintah, dengan tujuan tulus mengenalkan alam dan budaya Sumatera Utara.
- Film yang dibintangi Vanesha Zee dan Axelo Nababan ini mengambil gambar di 21 titik, termasuk 17 lokasi di lima kabupaten Sumatera Utara.
- Co-director Kristo Immanuel terharu melihat budaya Batak dan berharap film ini mendorong pariwisata Danau Toba-Pulau Samosir serta lahirnya lebih banyak musikal budaya daerah.
Jakarta, IDN Times - Pulang Kampung ternyata tidak hanya hadir sebagai film musikal, tetapi juga membawa misi untuk memperkenalkan kekayaan alam dan budaya Sumatera Utara kepada masyarakat luas. Bene Dion selaku sutradara bersama Kristo Immanuel sebagai co-director ingin mengajak penonton mengenal lebih dekat keindahan Danau Toba, Pulau Samosir, hingga budaya Batak yang telah menjadi bagian dari kekayaan Indonesia.
Mengingat film ini turut membawa misi promosi pariwisata daerah, dukungan pemerintah setempat tentu menjadi salah satu aspek yang menarik untuk diketahui. Lantas, bagaimana keterlibatan pemerintah dalam proses produksi Pulang Kampung? Nah, berikut penjelasan Bene Dion.
1. Bene Dion tegaskan film Pulang Kampung digarap mandiri tanpa libatkan dukungan pemerintah

potret Bene Dion saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (5/11/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida) Dibintangi oleh Vanesha Zee dan Axelo Nababan, Pulang Kampung mencetak rekor sebagai film produksi Imajinari dengan lokasi syuting terbanyak. Selain 4 titik di Jakarta, film ini juga melakukan pengambilan gambar di 17 titik yang tersebar di 5 kabupaten di Sumatera Utara.
Nah, banyaknya lokasi syuting dalam film ini tidak hanya bertujuan menghadirkan latar visual yang beragam, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan keindahan alam dan kekayaan budaya Sumatera Utara kepada masyarakat yang lebih luas. Melalui berbagai lanskap dan destinasi yang ditampilkan di layar lebar, tim produksi berharap penonton semakin mengenal potensi wisata daerah tersebut.
Mengingat film ini juga membawa misi promosi pariwisata daerah, tentu dukungan pemerintah, terutama pemerintah daerah menjadi salah satu aspek yang menarik untuk diketahui. Terkait hal tersebut, Bene Dion menegaskan bahwa film Pulang Kampung digarap secara mandiri tanpa melibatkan dukungan pemerintah. Bahkan menurutnya, tim produksi memang tidak berharap ada dukungan pemerintah, karena tidak ingin upaya tersebut justru terkesan dilakukan karena adanya dukungan atau permintaan dari pihak tertentu.
“Gak, kita justru pengin mandiri. Jangan sampai bahkan ada dukungan, kita malah ngerasa kalau didukung nanti kesannya dibikin karena di-support, bukan karena dari hati. Jadi semua sendiri,” ungkap Bene Dion saat ditemui di Jakarta Selatan, Kamis (5/11/2026).
Bene kemudian melanjutkan, keinginan untuk mengenalkan berbagai keindahan alam dan budaya Sumatera Utara melalui film ini murni berangkat dari ketulusan tim produksi, bukan karena adanya permintaan atau pesanan dari pihak tertentu.
“Dibikin karena kita tulus pengin mengenalkan tempat-tempat itu. Bukan karena request-an.”
2. Banyak adegan yang membekas, Kristo Immanuel terharu hingga nangis selama syuting

potret tim produksi film musikal Pulang Kampung saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (5/11/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida) Sebagai co-director Pulang Kampung, Kristo Immanuel mengungkapkan bahwa awalnya ia tertarik bergabung dalam proyek ini karena konsep musikal yang ditawarkan, bukan semata-mata karena budaya Batak yang diangkat. Namun, setelah membaca naskah dan mendengarkan penjelasan dari Bene Dion, pandangannya mulai berubah. Meski bukan berasal dari suku Batak, Kristo justru merasakan kebanggaan tersendiri saat menyadari betapa kayanya budaya yang dimiliki Indonesia. Ia pun mengaku semakin memahami tentang pentingnya menjaga dan melestarikan kekayaan budaya agar tidak hilang begitu saja.
Perasaan bangga tersebut bahkan membuat Kristo sampai beberapa kali merasa terharu selama proses syuting berlangsung. Ia mengungkapkan ada banyak adegan yang begitu membekas hingga membuatnya menitikkan air mata ketika melihat keindahan budaya yang ditampilkan.
“Mungkin akan terdengar klise banget, tapi beneran, pas nonton dan menjalani proses ini, rasanya kayak, 'Gila ya, ternyata kita punya budaya yang seluar biasa ini.' Sayang sekali kalau ini tidak dilestarikan. Jadi pas ngelihatnya bangga banget dan terharu. Adegan-adegannya tuh banyak banget yang pas lagi syuting bikin air mata ngembeng, bahkan sampai nangis karena kayak, ‘Gila, indah banget.’”
3. Kristo Immanuel berharap Pulang Kampung membuka peluang lahirnya musikal daerah

potret tim produksi film musikal Pulang Kampung saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (5/11/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida) Setelah melihat langsung keindahan alam dan kekayaan budaya Batak selama proses penggarapan film, Kristo berharap Pulang Kampung dapat membawa dampak positif bagi pariwisata Sumatra Utara, khususnya kawasan Danau Toba dan Pulau Samosir. Ia mengaku takjub dengan pesona kedua destinasi tersebut yang menurutnya masih kurang mendapat perhatian di media sosial.
“Gue tuh pengin banget setelah film ini tayang, pariwisata di daerah Sumatra Utara, terutama Danau Toba dan Pulau Samosir, naiknya jauh banget. Karena pas ngelihat, ‘Gila, indah banget. Kok jarang FYP?’ Dan harapannya juga makin banyak orang yang jatuh cinta dengan budaya Batak, pun budaya Indonesia lainnya.”
Gak cuma itu, Kristo Immanuel juga berharap Pulang Kampung bisa membuka peluang bagi lahirnya lebih banyak film musikal yang mengangkat budaya daerah lain. Ia membayangkan musikal Jawa hingga musikal etnik lainnya dapat semakin berkembang dan memiliki ruang tersendiri.
“Malah gue berharap gara-gara film Pulang Kampung jadi banyak musikal Jawa, musikal etnik. Itu jadi kayak sesuatu yang setahun sekali ada lah minimal,” pungkasnya.






















