Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Sutradara Perempuan Jarang Menang Oscar?

Hamnet
Hamnet (dok. Focus Features/Hamnet)
Intinya sih...
  • Sutradara perempuan kurang dukungan finansial karena stereotip gender
  • Oscar cenderung memberi penghargaan pada film berbujet besar, sulit bagi sutradara perempuan
  • Sutradara perempuan lebih sering berkecimpung di skena film arthouse yang tidak dijagokan oleh Oscar
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Nominasi Sutradara Terbaik Oscar kembali minim perwakilan perempuan. Pada edisi 2026, hanya Chloe Zhao yang berhasil dapat nominasi, padahal sebagian berharap bakal lebih banyak representasi perempuan di kategori itu. Mengingat ada Hikari (Rental Family) dan Lynne Ramsay (Die My Love) yang juga mencuri perhatian setahun terakhir.

Sebenarnya dominasi sutradara pria di kategori Best Director Oscar 2026 tidak terlalu mengagetkan. Sepanjang tahun 2025, mereka pula yang mendominasi box office dan tiap tahunnya, pola ini berulang. Masalahnya mengapa peluang sutradara perempuan di Oscar masih minim dan tak menunjukkan perubahan berarti dari tahun ke tahun?

1. Sutradara perempuan tak dapat dukungan finansial setara dengan sineas pria

Hamnet
Hamnet (dok. Focus Features/Hamnet)

Dukungan finansial sebenarnya berkaitan erat dengan riwayat keterlibatan sutradara perempuan di industri film yang sebenarnya terlambat dibanding sutradara pria. Dalam sejarah, sutradara pria lebih dulu berkarier dan membangun nama, membuat studio besar pun tak ragu untuk berinvestasi pada proposal dari sutradara dan penulis naskah pria. Ini yang bikin selisih dukungan finansial cukup kentara dan masuk akal.

Riset Ranjeeni dan Nadu berjudul ‘Do Investors Undervalue Female Directors Due to Gender Role Stereotypes? Evidence from the United States’ untuk jurnal Abacus, mengamininya. Dalam riset tersebut, mereka menyimpulkan bahwa stereotip gender adalah salah satu faktor yang membuat rumah produksi yang memperkerjakan sutradara perempuan cenderung undervalued (dipersepsikan valuasinya lebih rendah) dibanding rumah produksi yang semua sutradaranya laki-laki, setidaknya dalam studi kasus Amerika Serikat. Diskriminasi ini memang mulai berkurang sejak 2007 karena liputan media yang positif terhadap kontribusi sutradara perempuan, tetapi tidak serta menghilangkan diskriminasi sistemik yang ada.

2. Oscar lebih sering memberi penghargaan pada film-film berbujet besar

The Piano 1993
The Piano (dok. Criterion/The Piano)

Sejalan dengan itu, penyelenggara Oscar atau Academy Awards juga punya kecenderungan yang sampai sekarang tidak berubah saat memilih nomine. Mayoritas film yang dapat nominasi di kategori favorit seperti Best Picture, Best Director, Best Actor, Best Actress, dan Best Screenplay adalah film epik yang biasanya menelan anggaran besar. Cek saja anggaran produksi film yang dapat nominasi di kategori-kategori tersebut. Lebih mudahnya pakai sampel nomine Oscar edisi 2026 saja, yakni Bugonia, Frankenstein, F1, Hamnet, Marty Supreme, One Battle After Another, Sinners. Semuanya kompak di angka puluhan sampai ratusan juta dollar AS. Hanya Sentimental Value, The Secret Agent, dan Train Dreams yang bujetnya di bawah 10 juta dollar AS (Rp 167 miliar).

Jumlah anggaran sebesar itu umumnya rela digelontorkan investor kepada sutradara-sutradara kawakan yang sudah pernah meraih penghargaan atau memang memiliki riwayat membuat film yang sukses secara komersial. Tak pelak, laki-laki mendominasi daftar tersebut. Hanya Chloe Zhao yang bergender perempuan. Itu pun didukung oleh sepak terjangnya menyabet 2 piala Oscar untuk film Nomadland (2020). Nasib Zhao mengingatkan kita pada Jane Campion yang akhirnya bisa dapat pendanaan besar untuk The Power of the Dog (2021) karena sejarahnya menggondol piala Oscar atas film The Piano (1993).

Masalah bujet ini sebenarnya gak hanya dihadapi sutradara perempuan. Quentin Tarantino dan Martin Scorsese juga memulai kariernya dengan bikin film dengan anggaran terbatas sebelum dapat investor besar. Namun, akselerasi perolehan proyek dan peningkatan bujet produksi mereka relatif lebih cepat dibanding rekan sejawat mereka yang perempuan.

3. Sutradara perempuan lebih sering berkecimpung di skena film arthouse yang tidak begitu dijagokan

Anatomy of a Fall (dok. NEON/Anatomy of a Fall)
Anatomy of a Fall (dok. NEON/Anatomy of a Fall)

Faktor genre juga berpengaruh. Kathryn Bigelow misalnya dapat perhatian penyelenggara Oscar karena film aksi epik macam The Hurt Locker (2009) dan Zero Dark Thirty (2012). Ia berbeda dengan rekan sejawatnya yang lebih sering berkecimpung di genre arthouse. Sutradara perempuan memang lebih sering bermain di skena film indie. Kelly Reichardt misalnya bisa dikategorikan sineas senior bila menilik sepak terjangnya. Namun, ia belum pernah meraih nominasi Oscar. Ini sepertinya berkaitan erat dengan kecenderungannya bikin film minimalis yang umumnya memang tak diunggulkan dapat nominasi utama di ajang bergengsi itu.

Memang ada cerita sukses dari skena independen yang ditorehkan sutradara perempuan. Ingat Sofia Coppola dengan Lost in Translation (2004), Greta Gerwig lewat Lady Bird (2017), Zhao dengan Nomadland (2020), Justine Triet lewat Anatomy of Fall (2023), dan Coralie Fargeat dengan The Substance (2024). Namun, tetap saja jumlah mereka kalah dibanding sutradara pria yang membuat film berbujet fantastis dengan plot yang terbukti lebih sukses secara komersial: perang, suspense, aksi. Terbukti pada perolehan nominasi edisi 2026 yang didominasi film-film dari genre tersebut.

Bagaimana menurutmu? Apakah kamu setuju kalau diskriminasi sistemik dan adanya genre unggulan berpengaruh dalam perolehan nominasi Best Director Oscar? Adakah argumen lain yang bisa menyempurnakan artikel ini? Boleh bagikan, ya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Diana Hasna
EditorDiana Hasna
Follow Us

Latest in Hype

See More

Daftar Film dan Serial Jepang Baru Original Netflix 2026

28 Jan 2026, 15:07 WIBHype