Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Miniseri Perang yang Kurang Populer, tapi Layak Ditonton

4 min read
5 Miniseri Perang yang Kurang Populer, tapi Layak Ditonton
The Narrow Road to the Deep North (dok. Prime Video/The Narrow Road to the Deep North)
  • Artikel menyoroti lima miniseri perang yang kurang populer namun menawarkan cerita intens dan personal, melampaui fokus aksi pertempuran besar.
  • Catch-22 mengkritik absurditas birokrasi militer, sementara We Were the Lucky Ones mengikuti keluarga Yahudi Polandia yang tercerai-berai selama Holocaust.
  • The Narrow Road to the Deep North, Birdsong, dan Gallipoli menggambarkan trauma perang jangka panjang, pengalaman tawanan, serta beratnya bertahan hidup di medan konflik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Miniseri perang biasanya menawarkan cerita intens, mulai dari kehidupan para tentara di medan pertempuran hingga kisah warga sipil yang harus bertahan di tengah konflik. Beberapa judul seperti Band of Brothers atau The Pacific sudah sangat dikenal oleh penggemar genre ini. Namun, sebenarnya masih banyak miniseri perang berkualitas yang tidak mendapatkan perhatian sebesar judul-judul populer.

Menariknya, sejumlah miniseri yang kurang dikenal justru menawarkan pendekatan cerita yang lebih personal dan tidak selalu berfokus pada aksi. Jika sedang mencari tontonan bertema perang yang mungkin belum terlalu sering dibahas, lima miniseri berikut layak masuk daftar tontonan.

  1. 1. Catch-22 (2019)

    Diadaptasi dari novel klasik Joseph Heller, Catch-22 mengikuti Kapten John Yossarian, seorang bombardir Angkatan Udara Amerika Serikat yang ditempatkan di Italia selama Perang Dunia II. Yossarian berusaha mencari berbagai cara agar bisa dibebaskan dari tugasnya, tetapi justru terjebak dalam aturan militer yang absurd.

    Serial enam episode ini dibintangi oleh George Clooney yang juga terlibat sebagai sutradara dalam beberapa episode. Alih-alih hanya menunjukkan keberanian dan kepahlawanan di medan tempur, serial ini memperlihatkan betapa tidak masuk akalnya birokrasi militer dan bagaimana sistem tersebut bisa menghancurkan orang-orang di dalamnya.

  2. 2. We Were the Lucky Ones (2024)

    We Were the Lucky Ones
    We Were the Lucky Ones (dok. Hulu/We Were the Lucky Ones)

    We Were the Lucky Ones membawa penonton ke masa Perang Dunia II melalui kisah keluarga Kurc, sebuah keluarga Yahudi Polandia yang tercerai-berai ketika Holocaust berlangsung. Kelima saudara dalam keluarga tersebut harus menghadapi situasi yang semakin berbahaya sambil berusaha bertahan hidup dan menemukan satu sama lain. Serial ini diadaptasi dari novel Georgia Hunter yang terinspirasi dari kisah nyata keluarganya sendiri.

    Miniseri ini terasa kuat karena perang tidak hanya dilihat dari sudut pandang pertempuran, tetapi juga dari pengalaman orang-orang biasa yang berusaha mempertahankan hidup dan keluarga mereka. Ceritanya memang menyakitkan untuk disaksikan, tetapi masih menyisakan ruang untuk harapan di tengah berbagai tragedi.

  3. 3. The Narrow Road to the Deep North (2025)

    Miniseri Australia ini diadaptasi dari novel pemenang penghargaan karya Richard Flanagan dan menghadirkan Jacob Elordi sebagai Dorrigo Evans muda. Ceritanya bergerak melalui tiga periode waktu dalam kehidupan Dorrigo, mulai dari masa mudanya sebagai mahasiswa kedokteran, pengalamannya sebagai tentara dalam Perang Dunia II, hingga kehidupannya ketika sudah menjadi dokter bedah terkenal.

    Salah satu bagian terberat dalam kisahnya terjadi ketika Dorrigo menjadi tawanan perang dan dipaksa bekerja di proyek Burma Railway. Ciarán Hinds kemudian memerankan Dorrigo dalam fase kehidupannya yang lebih tua. Serial lima bagian ini tidak sekadar menggambarkan kekejaman perang, tetapi juga bagaimana pengalaman tersebut dapat terus menghantui seseorang selama puluhan tahun.

  4. 4. Birdsong (2012)

    Birdsong
    Birdsong (dok. BBC/Birdsong)

    Birdsong merupakan drama perang Inggris yang diadaptasi dari novel Sebastian Faulks. Ceritanya berpusat pada Stephen Wraysford, seorang pemuda Inggris yang mengalami Perang Dunia I setelah sebelumnya menjalani hubungan cinta yang rumit dengan seorang perempuan yang sudah menikah.

    Kisah tersebut disampaikan melalui kilas balik, sehingga pengalaman Stephen di medan perang bercampur dengan ingatan tentang kehidupan dan cintanya sebelum konflik. Daya tarik Birdsong terletak pada fokusnya terhadap dampak psikologis perang terhadap seorang individu. Pertempuran tidak hanya digambarkan sebagai rangkaian aksi, tetapi sebagai pengalaman traumatis yang perlahan mengubah cara Stephen melihat kehidupan.

  5. 5. Gallipoli (2015)

    Gallipoli mengangkat pertempuran di Semenanjung Gallipoli, Turki. Miniseri Australia ini mengikuti Thomas "Tolly" Johnson, remaja berusia 17 tahun yang mendaftar secara ilegal agar bisa bergabung dengan saudaranya, Bevan. Bersama para tentara lainnya, Tolly harus menghadapi kondisi medan yang berbahaya sambil belajar bertahan hidup dalam kampanye militer yang berlangsung berbulan-bulan.

    Serial yang dirilis bertepatan dengan peringatan 100 tahun Kampanye Gallipoli ini sebenarnya punya pendekatan yang cukup menarik. Alih-alih menampilkan perang sebagai kisah kepahlawanan yang penuh kemenangan, Gallipoli memilih gaya yang lebih tenang dan memperlihatkan betapa melelahkannya serta mengerikannya pengalaman para tentara.

    Lima miniseri perang ini menunjukkan bahwa tontonan bertema konflik militer tidak selalu harus dipenuhi dengan adegan pertempuran besar. Dari lima miniseri tersebut, mana yang paling menarik untuk masuk watchlist?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More