Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Film tentang Male Entitlement, Peminat Studi Gender Wajib Tonton!

4 min read
5 Film tentang Male Entitlement, Peminat Studi Gender Wajib Tonton!
Raise the Red Lantern (dok. New Zealand International Film Festival/Raise the Red Lantern)
  • Xala mengkritik sikap laki-laki berkuasa yang merasa berhak mendominasi keluarga dan lingkungan sekitarnya.

  • The Mastermind menggambarkan laki-laki yang membebankan tanggung jawab keluarga kepada istrinya.

  • Marriage Story menyoroti sikap Charlie yang mengabaikan otonomi dan keinginan Nicole.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernahkah kamu kesal melihat publik figur pria yang lolos dari cancel culture? Impunitas macam itu ini bisa dijelaskan lewat kerangka pikir male entitlement yang dipopulerkan oleh penulis sekaligus akademisi bernama Kate Manne. Dalam buku berjudul Entitled: How Male Privilege Hurts Women, ia menjelaskan berbagai ketidakberuntungan yang menimpa perempuan dan mengaitkannya dengan hak-hak istimewa yang dimiliki pria secara sadar maupun tidak.

Dalam buku itu, ia berargumen bahwa selama ini pria, terutama pria heteroseksual, sering membuat tuntutan terhadap perempuan tanpa memberi timbal balik yang setimpal. Kerugian yang harus diterima perempuan antara lain victim blaming dalam berbagai konteks kekerasan berbasis gender, pelimpahan beban ganda di sektor domestik maupun publik, sampai hambatan bagi perempuan untuk mengisi posisi-posisi yang secara tradisional dikuasai pria. Meski sering ada meme yang menggunakan slogan “perempuan gak pernah salah”, realitas di lapangan menyatakan sebaliknya. Lewat kerangka pikir male entitlement ini, prialah yang tak pernah salah. Masih susah membayangkannya? Tonton lima film tentang male entitlement berikut biar melek.

  1. 1. Xala (1975)

    Xala
    Xala (dok. Criterion/Xala)

    Xala adalah film lawas Senegal yang bisa bikin kamu melek karena kocak dan pedas kritiknya. Simbolisme male entitlement di dalamnya juga menarik buat dikupas. Film ini berlakonkan El Hadji. Ia seorang pejabat dan pebisnis yang menemukan dirinya mengalami impotensi jelang pernikahannya dengan istri ketiga. “Musibah” ini sempat membuatnya curiga terhadap dua istri tertuanya yang memang sejak awal tak merestui rencana itu. Namun, ada yang gak kalah penting buat diurus. Ada kasus penggelapan uang yang mencatut dirinya dan mengancam semua yang sudah ia raih sejauh ini.

    • Genre: satire, etnofiksi
    • Pemain: Thierno Leye, Younouss Seye
    • Sutradara: Ousmane Sembene

  2. 2. The Mastermind (2025)

    The Mastermind
    The Mastermind (dok. Film Science/The Mastermind)

    James adalah pria kelas menengah yang hidup di Amerika Serikat era 1970-an bersama istri dan dua anaknya. Cukup jelas kalau ia tipe pria pemalas. Istrinya, Terri, adalah pencari nafkah sekaligus pengasuh utama dua anak mereka. James di sisi lain tak berhasil membangun bisnis kayunya dan justru tergoda untuk dapat uang cepat dengan cara tak halal. Meminjam uang ibunya dengan dalih mengembangkan bisnis, James justru menggunakan uang itu guna merekrut orang untuk mencuri lukisan mahal di sebuah museum.

    • Genre: satire, heist
    • Pemain: Josh O’Connor, Alana Haim
    • Sutradara: Kelly Reichardt

  3. 3. Marriage Story (2019)

    Marriage Story
    Marriage Story (dok. Netflix/Marriage Story)

    Marriage Story merupakan sebuah cerita perceraian yang ditulis dari dua sisi, baik suami dan istri. Namun, kalau kamu telaah lebih jauh, ada elemen male entitlement yang menjangkiti karakter si suami, Charlie. Ini terlihat dalam beberapa adegan ketika ia memang mendominasi proses pengambilan keputusan di rumah tangga dan seolah mengabaikan kesejahteraan istrinya, Nicole. Sang istri memang tak sempurna, tetapi dari Charlie kita bisa melihat kerangka pikir male entitlement yang kerap dianggap wajar. Sebagai contoh, ekspektasi Charlie terhadap Nicole untuk terus ada di sisinya dan mendukung ambisinya melupakan fakta bahwa Nicole juga manusia yang punya otonomi dan mimpi sendiri.

    • Genre: drama domestik
    • Pemain: Scarlett Johansson, Adam Driver
    • Sutradara: Noah Baumbach

  4. 4. Le Bonheur (1965)

    Le Bonheur
    Le Bonheur (dok. Criterion/Le Bonheur)

    Protagonis pria dalam film Le Bonheur adalah Francois yang diceritakan sudah menikah dan punya anak bersama istrinya, Therese. Satu hari, ia tak sengaja bertemu dengan Emilie di kantor pos dan jatuh cinta saat itu juga. Sama-sama tertarik, keduanya menjalin hubungan gelap sampai Francois mengakui perselingkuhan itu pada istrinya. Sang istri yang kecewa memutuskan untuk mengambil keputusan fatal yang mirisnya tak membuat Francois menyesal. Film ini lebih cocok disebut horor karena menyadarkan kita betapa rapuhnya ikatan pernikahan, bahkan yang tampak ideal di tengah masyarakat. Pemilihan Emilie yang punya banyak kemiripan dengan Therese seperti sebuah hinaan tak langsung terhadap pasangan hidup yang sudah menemani pria itu bertahun-tahun.

    • Genre: drama, tragedi
    • Pemain: Jean-Claude Drouot, Marie-France Boyer
    • Sutradara: Agnes Varda

  5. 5. Raise the Red Lantern (1991)

    Raise the Red Lantern
    Raise the Red Lantern (dok. New Zealand International Film Festival/Raise the Red Lantern)

    Satu film lain tentang male entitlement yang bisa bikin kamu merinding adalah Raise the Red Lantern. Film klasik asal China ini mengikuti perspektif Songlian, perempuan 19 tahun yang karena kematian ayahnya terpaksa putus kuliah dan akhirnya dinikahkan dengan seorang pria kaya. Sesuai dugaan dan kultur yang berlaku saat itu, Songlian adalah istri keempat alias selir ketiga untuk pria itu. Di “rumah” barunya tersebut, Songlian memang diberi fasilitas dan materi, tetapi dituntut pula untuk menekuni peran barunya yang benar-benar terpaku pada si suami. Apa pun yang dilakukannya harus berdasarkan apa yang kiranya bakal memercikan kebahagiaan dan validasi dari pria tersebut, layaknya selir-selir lain. Film ini berhasil mengangkat realitas yang harus dihadapi perempuan selama sistem patriarki diamini.

    • Genre: drama
    • Pemain: Gong Li, He Saifei
    • Sutradara: Zhang Yimou

    Tidak salah ketika Kate Manne bilang bahwa male entitlement menyakiti perempuan. Pada dasarnya, itu semua memang kepanjangan tangan sistem patriarki yang melihat perempuan tak lebih dari pendamping dan pendukung pria. Sudah mulai paham, kan? Yuk, cari film-film lain yang menambah wawasan!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎

Related Articles

See More