trailer Moana (YouTube.com/Disney)
Moana live action resmi tayang di bioskop Indonesia lebih awal pada 8 Juli 2026. Di hari yang sama, Disney Indonesia juga menggelar special screening di Plaza Senayan, Jakarta dan saya pun berkesempatan hadir bersama rekan-rekan media yang lain.
Saat itu, studio dipenuhi anak-anak dan keluarga. Selama film diputar, saya beberapa kali melihat anak-anak larut dalam cerita, bahkan ada yang tampak berkaca-kaca di sejumlah adegan emosional.
Sebagai seseorang yang mengikuti perjalanan Moana sejak pertama kali dirilis, saya tidak memungkiri bahwa versi live-action ini memang sangat setia pada film animasinya. Banyak adegan, dialog, hingga alur cerita yang dipertahankan hampir sama sehingga tidak banyak kejutan bagi penonton yang sudah mengenal versi aslinya. Dari sudut pandang penonton dewasa, hal tersebut kemungkinan akan membuat pengalaman menonton terasa kurang menarik, karena jalan ceritanya sudah ketebak.
Saya juga memahami kritik dari Germain Lussier yang menyebut remake ini hadir terlalu cepat. Jarak sekitar 10 tahun dari film animasinya membuat perbandingan antara kedua versi nyaris tidak terhindarkan. Ketika versi orisinal masih begitu melekat di ingatan, ekspektasi terhadap versi live-action pun otomatis menjadi lebih tinggi.
Namun, bukan berarti film ini sama sekali tidak memiliki daya tarik. Justru saya merasakan kembali nostalgia saat mendengar lagu-lagu ikonik, seperti “How Far I'll Go” yang dibawakan kembali oleh Catherine Laga'aia. Rasanya juga menyenangkan ketika melihat Dwayne Johnson membawakan secara langsung lagu “You’re Welcome” dengan karakternya sebagai Maui.
Terlepas dari kritik soal minimnya perubahan cerita, saya juga cukup terpukau dengan visual yang ditawarkan. Dunia Moana yang sebelumnya hanya hadir lewat animasi kini terasa lebih nyata dalam versi live-action. Salah satu yang paling menarik perhatian saya adalah penggambaran Motunui, desa tempat Moana berasal, yang berhasil menghadirkan suasana pulau tropis dengan detail yang lebih hidup.
Pemandangan laut, lingkungan desa, hingga elemen magisnya terasa menghadirkan pengalaman sinematik yang berbeda. Meski beberapa kritikus menyoroti penggunaan CGI yang cukup dominan, bagi saya unsur tersebut berhasil menjaga sisi fantasi yang menjadi identitas Moana.
Pada akhirnya, skor kritikus hanyalah sebuah sudut pandang. Moana versi live-action mungkin bukan remake Disney yang paling inovatif. Tapi menurut saya, film ini tetap berhasil menghidupkan kembali kenangan dari versi animasinya dan memberikan kesempatan bagi generasi baru untuk mengenal kisah Moana.