Moana Live-Action Debut 32 Persen di Rotten Tomatoes, kok Bisa?

Sebelum resmi tayang di Amerika Serikat pada 10 Juli 2026, film Moana live action sudah lebih dulu menjalani sesi press screening yang dihadiri oleh para kritikus film dari berbagai media internasional. Setelah Disney mencabut embargo, ulasan mereka mulai dipublikasikan dan dihimpun oleh Rotten Tomatoes.
Hasilnya cukup mengejutkan. Moana hanya mengantongi skor 32 persen di Rotten Tomatoes berdasarkan ulasan para kritikus. Angka tersebut pun menjadikannya remake live-action Disney dengan skor kritikus terendah sejauh ini.
Meski begitu, skor Rotten Tomatoes sebenarnya bukanlah penentu mutlak kualitas sebuah film. Lalu, kenapa banyak kritikus memberikan penilaian yang kurang memuaskan? Benarkah Moana live-action gak seru?
1. Moana debut dengan skor 32 persen di Rotten Tomatoes, terendah dalam sejarah remake live-action Disney

Di tengah tingginya antusiasme penggemar, Moana justru mendapatkan respons kurang memuaskan dari para kritikus. Film ini bahkan mencatatkan rekor rendah di jajaran remake live-action Disney.
Berdasarkan agregasi ulasan para kritikus di Rotten Tomatoes, Moana hanya memperoleh skor debut 32 persen. Angka ini menempatkannya di posisi terbawah dalam daftar remake live-action Disney. Sebelumnya, posisi tersebut ditempati oleh Maleficent dengan skor 39 persen dan Dumbo dengan 45 persen.
2. Banyak kritikus yang mempertanyakan urgensi remake ini, karena dinilai terlalu mirip dengan versi animasi

Salah satu kritik terbesar terhadap Moana versi live-action adalah karena film ini dinilai terlalu mirip dengan versi animasinya, bahkan banyak adegan dan dialog yang dibuat hampir sama persis sehingga banyak yang mempertanyakan kenapa film ini perlu dibuat ulang.
Salah satu kritik datang dari Casey Chong dari Fortress of Solitude. Dalam ulasannya, ia menilai, Moana live-action pada dasarnya hanya mengulang versi animasi 2016. Menurutnya, alih-alih menghadirkan kembali keajaiban film aslinya, remake tersebut justru terasa seperti upaya untuk meraup keuntungan semata.
Robbie Collins dari The Daily Telegraph (Inggris) juga menyoroti minimnya kreativitas dalam remake ini. Menurutnya, hampir tidak ada momen yang terasa benar-benar orisinal, karena banyak adegan seolah hanya merupakan hasil pembuatan ulang versi animasi ke format live-action.
Sementara itu, Germain Lussier dari io9 menilai, remake Moana ini dirilis terlalu cepat. Akibatnya, penonton sulit menghindari perbandingan dengan versi animasi sehingga kekurangan film live-action ini menjadi lebih mudah terlihat.
3. Apakah Moana versi live-action benar-benar gak menarik?

Moana live action resmi tayang di bioskop Indonesia lebih awal pada 8 Juli 2026. Di hari yang sama, Disney Indonesia juga menggelar special screening di Plaza Senayan, Jakarta dan saya pun berkesempatan hadir bersama rekan-rekan media yang lain.
Saat itu, studio dipenuhi anak-anak dan keluarga. Selama film diputar, saya beberapa kali melihat anak-anak larut dalam cerita, bahkan ada yang tampak berkaca-kaca di sejumlah adegan emosional.
Sebagai seseorang yang mengikuti perjalanan Moana sejak pertama kali dirilis, saya tidak memungkiri bahwa versi live-action ini memang sangat setia pada film animasinya. Banyak adegan, dialog, hingga alur cerita yang dipertahankan hampir sama sehingga tidak banyak kejutan bagi penonton yang sudah mengenal versi aslinya. Dari sudut pandang penonton dewasa, hal tersebut kemungkinan akan membuat pengalaman menonton terasa kurang menarik, karena jalan ceritanya sudah ketebak.
Saya juga memahami kritik dari Germain Lussier yang menyebut remake ini hadir terlalu cepat. Jarak sekitar 10 tahun dari film animasinya membuat perbandingan antara kedua versi nyaris tidak terhindarkan. Ketika versi orisinal masih begitu melekat di ingatan, ekspektasi terhadap versi live-action pun otomatis menjadi lebih tinggi.
Namun, bukan berarti film ini sama sekali tidak memiliki daya tarik. Justru saya merasakan kembali nostalgia saat mendengar lagu-lagu ikonik, seperti “How Far I'll Go” yang dibawakan kembali oleh Catherine Laga'aia. Rasanya juga menyenangkan ketika melihat Dwayne Johnson membawakan secara langsung lagu “You’re Welcome” dengan karakternya sebagai Maui.
Terlepas dari kritik soal minimnya perubahan cerita, saya juga cukup terpukau dengan visual yang ditawarkan. Dunia Moana yang sebelumnya hanya hadir lewat animasi kini terasa lebih nyata dalam versi live-action. Salah satu yang paling menarik perhatian saya adalah penggambaran Motunui, desa tempat Moana berasal, yang berhasil menghadirkan suasana pulau tropis dengan detail yang lebih hidup.
Pemandangan laut, lingkungan desa, hingga elemen magisnya terasa menghadirkan pengalaman sinematik yang berbeda. Meski beberapa kritikus menyoroti penggunaan CGI yang cukup dominan, bagi saya unsur tersebut berhasil menjaga sisi fantasi yang menjadi identitas Moana.
Pada akhirnya, skor kritikus hanyalah sebuah sudut pandang. Moana versi live-action mungkin bukan remake Disney yang paling inovatif. Tapi menurut saya, film ini tetap berhasil menghidupkan kembali kenangan dari versi animasinya dan memberikan kesempatan bagi generasi baru untuk mengenal kisah Moana.




















