potret tim produksi film musikal Pulang Kampung saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (5/11/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)
Viky Sianipar turut menuangkan pengalaman personalnya dalam meracik musik film Pulang Kampung. Ia mencoba menerjemahkan perasaan yang ia rasakan saat pertama kali melihat keindahan alam Batak dan perlahan jatuh cinta pada tanah leluhurnya. Nah, bagi Viky, kata yang paling tepat untuk menggambarkan pengalamannya tersebut adalah magical.
“Kisahnya kan tentang anak Jakarta pertama kali pulang kampung dan melihat sesuatu yang luar biasa. Kebetulan ini pengalaman hidupku juga. Jadi aku tahu banget sebagai yang gak ngerti Batak atau mungkin cenderung anti-Batak malah. Pertama kali melihat alam Batak itu kayak gimana, terus yang fall in love-nya kayak gimana. Nah, buat aku, wording yang pas tuh magical,” kata Viky.
Oleh karena itu, Viky pun memilih pendekatan musikal ala Disney untuk menerjemahkan perasaan tersebut. Ia ingin menghadirkan nuansa magical fantasy yang ceria dan sedikit childish, sesuai dengan karakter utama Uli yang centil dan penuh semangat. Setelah berdiskusi, Viky pun menjadikan Frozen sebagai salah satu referensi untuk membangun suasana musikalnya.
“Aku translate ke bahasa musik yang model kayak dunia Disney, magical fantasy, jadi childish banget. Kebetulan karakternya si Uli kayak begitu, centil, ceria. Akhirnya aku propose ke Bene dan ke Dipa, ‘Kita ke Disney-Disney aja, ya.’ Akhirnya secara sound-nya, aku ke Frozen,” lanjut Viky.
Gak cuma menghadirkan nuansa ceria ala film animasi Disney, Viky juga menyiapkan warna musik yang lebih gelap pada bagian tertentu dan menyebut The Greatest Showman sebagai referensinya untuk menghadirkan musik dengan karakter yang dinamis serta enerjik.
“Karena ada bagian yang harus lebih dark, itu musiknya modelnya kayak The Greatest Showman yang bumpy banget.”