Pandangan Ryan Adriandhy Soal Alasan Film Lokal Sulit Mendunia

- Ryan Adriandhy menyebut hambatan film lokal menuju pasar global adalah kesenjangan infrastruktur, terutama distribusi, subtitle, pemasaran, dan kemudahan audiens internasional menemukan karya Indonesia.
- Menurut Ryan, identitas budaya lokal tidak perlu dikurangi demi universalitas; interaksi karakter, pakaian, dan humor justru dapat membawa kebenaran manusiawi yang lintas batas.
- Ryan menerapkan prinsip storytelling berfokus pada emosi dasar manusia dalam Jumbo, terinspirasi film Pixar; tokoh Don digambarkan sebagai anak yang ingin dilihat, didengar, dan dicintai.
Jakarta, IDN Times - Sutradara dan komika Ryan Adriandhy hadir sebagai salah satu pembicara dalam World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta. Dalam sesi Platforming Creativity Through Our Screen di Kempinski Grand Ballroom, Jumat (23/10/2026), Ryan membahas tantangan membawa cerita lokal agar bisa menjangkau audiens yang lebih luas.
Dikenal lewat film Jumbo (2025) dan Na Willa (2026), Ryan menilai persoalan utama dalam membawa karya ke pasar global bukan terletak pada perbedaan budaya. Menurutnya, cerita lokal tetap bisa diterima secara universal selama memiliki sisi kemanusiaan yang kuat.
1. Ryan soroti gap infrastruktur, alih-alih budaya dalam film lokal

Ryan Adriandhy saat bicara dalam World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Kempinski Grand Ballroom, Jumat (23/10/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana) Ryan menilai kesenjangan terbesar yang membuat film lokal sulit menjangkau audiens internasional bukanlah perbedaan budaya, melainkan infrastruktur. Menurutnya, sebuah cerita lokal dapat membawa kebenaran universal yang bisa dipahami oleh penonton dari berbagai latar belakang.
"Menurut saya, kesenjangan yang paling nyata bukanlah jarak budaya, melainkan jarak infrastruktur. Saya yakin sebuah cerita lokal bisa menyampaikan sesuatu yang sangat manusiawi dan mengandung kebenaran universal. Hanya saja, mungkin sebagian penonton di belahan dunia lain belum berkesempatan untuk menjumpai cerita tersebut," ucapnya.
Menurut Ryan, pembuat film terkadang sering keliru ketika berusaha membuat cerita lokal terlihat lebih universal dengan mengurangi identitas budaya di dalamnya. Padahal, unsur lokal bukanlah penghalang untuk menjangkau audiens global.
"Sebagai contoh, jika sebuah cerita dari Indonesia hadir di belahan dunia lain, identitas keindonesiaan di dalamnya bukan sekadar hiasan. Identitas itu tercermin dalam cara karakter berinteraksi, pakaian yang mereka kenakan, atau humor yang ditampilkan. Melalui elemen-elemen inilah cerita tersebut dapat menjangkau audiens yang lebih luas, karena di dalamnya terkandung kebenaran universal yang tidak terbatas hanya untuk dipahami oleh audiens lokal saja; cerita tersebut mampu melampaui batasan itu," lanjutnya.
Ryan kemudian menyoroti persoalan discoverability atau keterjangkauan. Menurutnya, audiens internasional mungkin sebenarnya sudah memiliki ketertarikan terhadap cerita dari Indonesia, tetapi belum mendapatkan kesempatan untuk menemukannya. Hal tersebut berkaitan dengan distribusi, ketersediaan takarir (subtitle) yang memadai, hingga bagaimana konteks cerita disampaikan melalui pemasaran dan promosi.
"Itulah kesenjangannya, bukan jarak budaya, melainkan jarak infrastruktur. Di sinilah peran platform menjadi penting. Audiens mungkin sebenarnya sudah ada, mereka hanya belum memiliki kesempatan untuk menemukan film kita," tutur Ryan.
2. Ryan pede dengan Jumbo karena fokus pada storytelling, ambil contoh film Pixar

Ryan Adriandhy saat bicara dalam World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Kempinski Grand Ballroom, Jumat (23/10/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana) Keyakinan Ryan terhadap Jumbo juga berangkat dari prinsip yang sama. Ia percaya bahwa kekhasan sebuah cerita tidak otomatis membuatnya sulit diterima oleh penonton dari negara lain.
"Saya cukup yakin bahwa Jumbo pada akhirnya akan menjadi seperti yang saya harapkan, bahwa kekhasan dalam penceritaan tidak akan membuat kisahnya menjadi kurang bermakna," ujarnya.
Ryan kemudian mengingat kembali bagaimana film-film animasi Pixar yang ia tonton sejak kecil membentuk pandangannya terhadap storytelling. Menurutnya, Pixar tidak selalu membutuhkan karakter manusia untuk menyampaikan cerita yang sangat dekat dengan pengalaman manusia. Ia menyebut sejumlah film Pixar yang menggunakan karakter nonmanusia sebagai pusat cerita.
"Film pertama mereka bercerita tentang mainan (Toy Story), yang kedua tentang semut (A Bug's Life), lalu ada kisah seekor ikan yang kehilangan anaknya di lautan (Finding Nemo), serta cerita tentang mobil balap (Cars)," tutur Ryan.
3. Alasan Ryan lebih tertarik menggali sisi manusia dalam film

Ryan Adriandhy saat bicara dalam World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Kempinski Grand Ballroom, Jumat (23/10/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana) Lantas, apa yang membuat Ryan tetap bisa mengikuti kisah tentang mainan, semut, ikan, hingga mobil balap? Jawabannya terletak pada sisi "manusia" yang ada di balik karakter-karakter tersebut.
"Karena mereka (film-film Pixar) sebenarnya menceritakan kisah manusia, meskipun karakter-karakternya bukan manusia," ucapnya.
Menurut Ryan, film yang kuat mampu menyentuh emosi dasar yang dimiliki manusia tanpa harus mengandalkan kesamaan budaya. Bahkan, dalam contoh Pixar, batasannya bukan lagi sekadar perbedaan budaya, melainkan perbedaan spesies.
"Saya bisa mengikuti kisah seekor semut atau mobil balap. Mungkin saya bukan boneka koboi plastik seperti Woody, tetapi saya memahami rasa cemburu," tambahnya.
Prinsip tersebut juga menjadi salah satu fondasi Jumbo. Meski film tersebut menghadirkan dunia yang kental dengan arsitektur, kuliner, serta cara berinteraksi khas Asia Tenggara, Ryan percaya penonton tetap bisa menemukan sesuatu yang universal di dalamnya.
"Sosok Don, karakter utamanya, pada dasarnya hanyalah seorang anak yang ingin dilihat, didengar, dan dicintai. Dan menurut saya, emosi semacam itu tidak perlu diterjemahkan lagi," pungkasnya.























