Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Penjelasan Ending Marty Supreme Menurut Sutradara Josh Safdie

Penjelasan Ending Marty Supreme Menurut Sutradara Josh Safdie
Marty Supreme (dok. A24/Marty Supreme)
Intinya Sih
  • Film “Marty Supreme” menggambarkan perjalanan Marty Mauser, atlet pingpong sekaligus penipu di New York 1950-an, yang berjuang demi ambisi pribadi hingga akhirnya menemukan makna sejati dari kemenangan.
  • Tokoh Milton Rockwell digambarkan sebagai simbol kapitalisme abadi, sosok “vampir” yang mengisap semangat generasi muda ambisius seperti Marty, menegaskan kritik sosial dalam narasi film.
  • Sutradara Josh Safdie menafsirkan ending film sebagai transformasi Marty dari sosok egois menjadi dewasa dan bertanggung jawab, mencerminkan pergeseran makna mimpi serta nilai keluarga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Selama 150 menit, Marty Supreme (2026) membawa kita menelusuri 9 bulan paling kacau dalam hidup Marty Mauser, jagoan pingpong sekaligus penipu ulung di New York era 1950-an, yang diperankan dengan apik oleh Timothée Chalamet. Demi mimpi menjadi juara pingpong dunia, Marty mengorbankan hampir segalanya: reputasi, relasi, bahkan jiwanya sendiri.

Meski berlatar di masa lampau, film garapan Josh Safdie ini terasa sangat relevan hari ini. Khususnya, sebagai potret tentang ambisi tanpa rem dan obsesi untuk jadi "seseorang." Ending-nya pun meninggalkan banyak pertanyaan. Apakah Marty menang? Atau justru kehilangan harga dirinya? Mari kita bedah satu per satu.

Artikel ini mengandung spoiler Marty Supreme!

1. Marty akhirnya mendapatkan "kemenangan" atas Endo

Apakah Film Marty Supreme Punya Post-credit Scene.jpeg
Marty Supreme (dok. A24/Marty Supreme)

Setelah satu jam lebih menipu, merayu, dan memanipulasi orang-orang di sekitarnya, Marty akhirnya berhasil berangkat ke Jepang untuk satu pertandingan ekshibisi. Ironisnya, dunia tenis meja sudah berkembang tanpa dirinya. Ia bukan lagi pusat perhatian, hanya catatan kaki dalam sejarah kecil yang nyaris tak diingat siapa pun.

Namun harga diri Marty menolak tunduk. Meski sempat berpura-pura kalah, ia menantang Endo sekali lagi. Bahkan, ia masih nekat setelah diperingatkan Milton Rockwell bahwa ia akan ditelantarkan di Jepang jika memaksa tanding ulang. Marty tetap maju. Ia mengerahkan seluruh kemampuannya dan benar-benar mengalahkan Endo.

Di sinilah inti karakter Marty terlihat jelas. Ia boleh menipu demi tiket pesawat, boleh merendahkan diri di pesta para miliarder, tapi ia tak sanggup mengkhianati keyakinannya sebagai atlet. Kemenangan itu mungkin tak berarti secara publik. Namun bagi Marty, itu adalah pembuktian eksistensi. Sebuah potret American Dream versi Safdie.

2. Kenapa Milton Rockwell menyebut dirinya sebagai vampire?

Rockwell vampire.jpg
Marty Supreme (dok. A24/Marty Supreme)

Salah satu momen paling aneh (sekaligus paling filosofis) datang dari pengakuan Milton Rockwell, sang industrialis kaya, saat ia bersama Marty di Jepang. Saat Marty ingin rematch dengan Endo, ia berkata:

"Aku lahir tahun 1601. Aku seorang vampir. Aku sudah ada sejak lama. Aku telah bertemu banyak Marty Mauser selama berabad-abad. Beberapa dari mereka mengkhianatiku, beberapa dari mereka tidak jujur."

Kalimat ini terdengar absurd. Apakah Rockwell benar-benar vampir? Anehnya, Safdie pernah mengungkap di podcast A24 kalau versi awal ending-nya menampilkan Marty (kini berusia 50-an) mengenakan riasan wajah tua, membawa cucunya ke konser, lalu digigit Rockwell.

"Kami membuat prostetik untuk Timmy dan segalanya, lalu Mr. Wonderful (Rockwell ) muncul di belakangnya dan menggigit lehernya, dan itu adalah adegan terakhir film," ungkap Safdie kepada Sean Baker (Anora), dilansir dari The Playlist (14/1/2026).

Rockwell sendiri adalah metafora kapitalisme tua yang abadi. Ia telah "meminum darah" generasi demi generasi anak muda ambisius seperti Marty. Jika Marty masih punya empati, Rockwell sudah sepenuhnya dingin. Ia adalah sistem. Dalam tafsir ini, Marty hanyalah satu dari sekian banyak korban. Seperti kata Karl Marx, "kapitalisme adalah vampir," dan Rockwell adalah personifikasinya.

3. Apakah Marty ayah dari bayi Rachel?

Apakah Marty ayah dari bayi Rachel.jpg
Marty Supreme (dok. A24/Marty Supreme)

Kehamilan Rachel menjadi poros emosional film ini. Narasi sangat mengarah bahwa Marty adalah ayahnya. Bahkan adegan awal menyiratkan momen itu terjadi di toko sepatu tempat mereka bekerja. Namun, Safdie sengaja menyisakan ambiguitas.

Sepanjang film, Rachel sudah menikah dengan Ira. Ia juga terbukti mampu berbohong, sama lihainya dengan Marty. Jadi, secara teknis, bayi itu bisa saja bukan darah daging Marty.

Namun adegan terakhir menutup semua keraguan secara emosional. Marty, yang akhirnya dipulangkan ke Amerika oleh tentara, berlari ke rumah sakit dan menatap bayi itu dengan mata berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar tersentuh oleh sesuatu yang bukan tentang dirinya sendiri.

Terlepas dari hal biologis, Marty memilih menjadi ayah. Dan di dunia Marty Supreme, pilihan itu jauh lebih penting daripada fakta medis di baliknya.

4. Arti ending Marty Supreme menurut sutradara

Marty Supreme 2.jpeg
Marty Supreme (dok. A24/Marty Supreme)

Selama menonton, kita paham kalau Marty adalah representasi kelas bawah yang putus asa untuk sukses. Ia adalah orang yang menjual dirinya di setiap kesempatan, sambil benar-benar percaya pada mimpi yang ia kejar. Terdengar familier, bukan? Lalu apakah akhir film ini bahagia, Safdie punya pendapatnya sendiri.

"Setelah saya menyelesaikan (Uncut) Gems dan merasakan kekosongan itu, saya menoleh dan melihat orang-orang yang optimis. Saya punya istri (sekarang), belahan jiwa saya, dia percaya. Dan mimpi saya menginspirasinya," kata Safdie kepada GQ Magazine.

Tak cuma lahir dari refleksi pribadinya setelah Uncut Gems (2019), Safide juga menemukan makna lewat keluarga dan kelahiran anak.

"Perasaan saat bertemu putri pertama saya, itu adalah perasaan kosmik. Kita semua dilahirkan, dan kita diingatkan dengan awalan dari diri kita sendiri. Memiliki anak itu seperti... satu mimpi (Marty) harus berakhir agar mimpi yang lain bisa dimulai. Ini tentang melihat (Marty) yang benar-benar tumbuh dari anak laki-laki menjadi pria dewasa," tambahnya.

Bagi Safdie, Marty Supreme bukan tentang kemenangan atau ketenaran. Film ini adalah tentang transisi dari ambisi narsistik menuju tanggung jawab. Dari anak laki-laki yang hanya mengejar validasi dunia, menjadi pria dewasa yang akhirnya menemukan sesuatu yang lebih besar dari egonya sendiri.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zahrotustianah
EditorZahrotustianah
Follow Us

Latest in Hype

See More