Mother Mary (dok. A24/Mother Mary)
Di sinilah film bermain dengan pikiran penonton. Ia tidak memilih satu jawaban, dan justru membiarkan keduanya berdampingan. David Lowery sendiri menjelaskan dengan gamblang.
"Saya tidak ingin mengganggu interpretasi orang lain saat mereka menonton film ini. Saya percaya pada apa yang dikatakan Sam dan juga apa yang dikatakan Mother Mary, yaitu bahwa dia tahu apa yang dilihatnya, tetapi dia juga tahu itu tidak nyata. Kedua hal itu bisa benar," kata Lowery pada Inverse (18/4/2026).
Pendekatan ini membuat film terasa seperti mimpi setengah sadar. Kita tahu ada sesuatu, tapi tidak bisa sepenuhnya memastikan bentuknya. Lalu, mengapa hantu? Lowery sendiri selalu terpesona dengan kematian dan sifat fana dari segala sesuatu. Jadi, ia coba mengejawantahkan hal itu dalam bentuk visual.
"Apa yang ingin dibicarakan para karakter tidak lagi dapat diungkapkan melalui bahasa, dan perlu mengambil bentuk yang lebih abstrak. Jadi, ketika mereka mulai menggali masa lalu mereka dan membicarakan kenangan masing-masing tentang masa yang sangat traumatis dalam hidup mereka, saya tahu bahwa kata-kata saja tidak cukup, dan kami membutuhkan representasi visual dari emosi yang mereka sampaikan bolak-balik," lanjutnya.
Mungkin penjelasan paling jujur datang dari cara ia memaknai "hantu" itu sendiri. Hantu dalam Mother Mary adalah perasaan yang terlalu besar untuk diucapkan. Jadi ia memilih untuk "menampakkan diri." Bagi Lowery, ia adalah energi negatif yang ditransfer ke orang lain, dan seolah merasuki tubuhnya.
"Ia dapat berubah bentuk. Dan saya merasa bahwa bahasa film horor, rumah berhantu, cerita hantu, adalah metafora yang sempurna untuk penyampaian energi (negatif) tersebut," imbuhnya