Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Penjelasan Ending Film Mother Mary, Apa Maksud dari Hantu Merah?
Mother Mary (dok. A24/Mother Mary)
  • Film Mother Mary karya David Lowery menghadirkan kisah emosional tentang Mary dan Sam yang dipersatukan kembali oleh masa lalu, dengan visual puitis dan narasi ambigu seputar kehilangan serta rekonsiliasi.
  • Roh merah dalam film ini menjadi simbol luka batin dan trauma yang belum sembuh, bukan sekadar entitas horor, melainkan representasi emosi manusia yang sulit diungkapkan lewat kata-kata.
  • Adegan tari Mary terinspirasi sebagian dari Possession (1981), menggambarkan ekspresi mentah kondisi batinnya melalui gerakan tubuh sebagai bahasa baru ketika kata-kata tak lagi mampu berbicara.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak pertanyaan yang muncul setelah menonton Mother Mary (2026). Apa sebenarnya yang menghantui Mother Mary? Apakah roh gaib, atau luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh? Pertanyaan itu menggema selama hampir 2 jam, seolah mengajak penonton menyusuri relung kehilangan, penyesalan, dan rekonsiliasi dua karakter utamanya.

Disutradarai oleh David Lowery, Mother Mary memadukan keindahan visual dengan narasi yang ambigu, mengingatkan pada pendekatan puitisnya di A Ghost Story (2017). Di pusat cerita ada Mary (Anne Hathaway) dan Sam (Michaela Coel), dua sosok yang dipersatukan kembali oleh masa lalu yang belum selesai. Bagimu yang bingung, simak penjelasannya di bawah ini!

Artikel ini mengandung spoiler film Mother Mary!

1. Apa makna sebenarnya dari roh berwarna merah?

Mother Mary (dok. A24/Mother Mary)

Sosok hantu atau roh merah dalam Mother Mary bukan sekadar entitas horor. Ia bergerak seperti luka yang punya tubuh sendiri. Bagi Sam, entitas ini adalah metafora dari cinta yang patah. Ia menggambarkannya seperti gigi yang retak, terus sakit bahkan saat tidak disentuh. Namun bagi Mary, roh itu lebih dari sekadar metafora. Ia melihatnya, merasakannya, bahkan "menampungnya" di dalam dirinya.

Satu hal yang menarik adalah, film ini tidak pernah benar-benar mengunci arti roh tersebut. Ia bisa dibaca sebagai manifestasi rasa bersalah, depresi, atau trauma yang berpindah dari satu orang ke orang lain. Bahkan ketika ada unsur ritual dan kejadian yang terasa supranatural, semuanya tetap berakar pada emosi manusia.

Alih-alih menjadi ancaman eksternal, roh merah ini terasa seperti akumulasi rasa sakit yang tidak pernah diproses. Ia bukan jahat, tapi juga tidak jinak. Ia hanya ada. Ketika Mary dan Sam akhirnya "mengusirnya" bersama-sama, momen itu terasa seperti terapi emosional yang divisualkan dengan apik. Layaknya proses trauma healing yang selama ini tertunda.

2. Apakah hantu itu nyata? Atau hanya metafora saja?

Mother Mary (dok. A24/Mother Mary)

Di sinilah film bermain dengan pikiran penonton. Ia tidak memilih satu jawaban, dan justru membiarkan keduanya berdampingan. David Lowery sendiri menjelaskan dengan gamblang.

"Saya tidak ingin mengganggu interpretasi orang lain saat mereka menonton film ini. Saya percaya pada apa yang dikatakan Sam dan juga apa yang dikatakan Mother Mary, yaitu bahwa dia tahu apa yang dilihatnya, tetapi dia juga tahu itu tidak nyata. Kedua hal itu bisa benar," kata Lowery pada Inverse (18/4/2026).

Pendekatan ini membuat film terasa seperti mimpi setengah sadar. Kita tahu ada sesuatu, tapi tidak bisa sepenuhnya memastikan bentuknya. Lalu, mengapa hantu? Lowery sendiri selalu terpesona dengan kematian dan sifat fana dari segala sesuatu. Jadi, ia coba mengejawantahkan hal itu dalam bentuk visual.

"Apa yang ingin dibicarakan para karakter tidak lagi dapat diungkapkan melalui bahasa, dan perlu mengambil bentuk yang lebih abstrak. Jadi, ketika mereka mulai menggali masa lalu mereka dan membicarakan kenangan masing-masing tentang masa yang sangat traumatis dalam hidup mereka, saya tahu bahwa kata-kata saja tidak cukup, dan kami membutuhkan representasi visual dari emosi yang mereka sampaikan bolak-balik," lanjutnya.

Mungkin penjelasan paling jujur datang dari cara ia memaknai "hantu" itu sendiri. Hantu dalam Mother Mary adalah perasaan yang terlalu besar untuk diucapkan. Jadi ia memilih untuk "menampakkan diri." Bagi Lowery, ia adalah energi negatif yang ditransfer ke orang lain, dan seolah merasuki tubuhnya.

"Ia dapat berubah bentuk. Dan saya merasa bahwa bahasa film horor, rumah berhantu, cerita hantu, adalah metafora yang sempurna untuk penyampaian energi (negatif) tersebut," imbuhnya

3. Lowery jelaskan salah satu adegan terinspirasi oleh Possession (1981)

Possession (dok. Gaumont/Possession)

Ada satu momen yang sulit dilupakan, yakni ketika Mary menari tanpa musik. Ketika Mary menunjukkan kepada Sam koreografi tari untuk lagu barunya, "Spooky Action," tubuhnya seperti kehilangan kendali. Gerakannya patah, liar, hampir seperti sedang bertarung dengan sesuatu yang tak terlihat. Sekilas, ini mirip dengan adegan ekstrem dalam Possession karya Andrzej Żuławski.

"Yang luar biasa bagi saya sekarang adalah bahwa hal itu bukanlah pengaruh pada adegan tari, tetapi merupakan pengaruh pada begitu banyak hal yang terjadi setelah adegan tari," tegasnya, kalau referensi itu adalah iya sekaligus tidak.

Alih-alih homage, adegan itu lebih terasa seperti ekspresi mentah dari kondisi batin Mary. Gerakan yang dibuat bersama koreografer Dani Vitale menjadi semacam bahasa baru, bahasa tubuh untuk emosi yang tidak bisa diucapkannya. Di titik ini, film seakan berkata, "ketika kata-kata gagal, tubuh lah yang akan berbicara."

"Kita tidak pernah mendengar lagu itu, tetapi apa yang ingin dia (Mary) sampaikan? Apa yang ingin dia komunikasikan? Apa yang ingin dia ungkapkan? Dan kami membangun seluruh kosakata ekspresi melalui tarian yang dapat digunakan Anne (Hathaway)," pungkasnya.

Editorial Team