Review Mother Mary, Kisah Melodrama Mistik Sang Diva Anne Hathaway

Ada film yang mengajakmu berpikir, ada yang mengajakmu merasa. Ada pula film seperti Mother Mary (2026), yang pelan-pelan menarikmu masuk ke dalam labirin emosi tanpa tahu harus keluar di mana. Di tangan David Lowery, kisah tentang diva pop ini berubah menjadi pengalaman sinematik yang terasa seperti mimpi setengah sadar.
Dibintangi Anne Hathaway dan Michaela Coel, film terbaru rilisan A24 ini bukan sekadar drama tentang comeback bintang pop. Mother Mary adalah meditasi tentang dampak ketenaran, luka batin, dan hubungan yang terlalu rumit untuk dijelaskan dengan kata-kata sederhana. Apa saja kelebihan dan kekurangannya? Mari simak di bawah ini!
Table of Content
Sinopsis Mother Mary (2026)
Mother Mary (2026) mengikuti perjalanan seorang diva pop ikonik bernama Mother Mary (Anne Hathaway) yang tengah bersiap melakukan comeback setelah lama menghilang dari sorotan. Dalam prosesnya, ia kembali bertemu dengan Sam Anselm (Michaela Coel), seorang desainer yang pernah menjadi bagian penting dalam membentuk identitas panggungnya.
Pertemuan ini bukan sekadar reuni biasa. Di baliknya tersimpan luka lama, obsesi yang belum selesai, serta konflik emosional yang perlahan terkuak. Seiring waktu, hubungan mereka berubah menjadi konfrontasi intens yang membahas soal seni, ketenaran, dan trauma masa lalu. Hal itu pun membawa keduanya ke titik di mana batas antara realitas dan mimpi mulai kabur.
| Producer | David Lowery, Toby Halbrooks, Jeanie Igoe |
| Writer | David Lowery |
| Age Rating | D17 |
| Genre | Drama, thriller, music |
| Duration | 112 Minutes |
| Release Date | 24 April |
| Theme | Costume drama, psychological drama, epic pop melodrama |
| Production House | A24 |
| Where to Watch | Cinema XXI, CGV, Cinépolis Indonesia |
| Cast | Anne Hathaway, Michaela Coel, Hunter Schafer, Sian Clifford, Atheena Frizzell, FKA twigs, Jessica Brown Findlay, Kaia Gerber, Alba Baptista |
Trailer Mother Mary (2026)
Cuplikan film Mother Mary (2026)
1. Slowburn emosional yang menuntut kesabaran hampir 2 jam
Sejak menit pertama, Mother Mary sudah memberi sinyal bahwa ini bukanlah tontonan konvensional. Film ini bergerak dengan tempo lambat, nyaris meditatif, dengan dialog yang sering kali terdengar seperti teka-teki. Lowery tidak tertarik pada plot yang padat peristiwa, melainkan pada pergulatan emosi di antara dua karakter utamanya.
Jadi, jangan heran kalau sebagian besar durasi film hanya diisi percakapan antara Mother Mary dan Sam. Sering kali percakapan ini tidak langsung, penuh metafora bahkan cenderung menghindari "makna" yang sesungguhnya. Menonton film ini terasa seperti membaca puisi yang membingungkan. Hanya mengandalkan penonton untuk mengisi celah-celah makna yang ada.
Namun, pendekatan ini juga menjadi pedang bermata dua. Bagi penonton yang tidak terbiasa dengan gaya slow cinema, ritme film ini bisa terasa melelahkan, bahkan membosankan. Tidak banyak "kejadian" dalam arti konvensional. Latarnya juga sebagian besar hanya di satu lokasi. Mirip dengan A Ghost Story (2017), dengan selipan konser bintang pop gabungan Taylor Swift + Lady Gaga.
2. Relasi dua perempuan sebagai pusat gravitasi emosional
Jika ada satu hal yang benar-benar menjadi jantung film ini, itu adalah hubungan antara Mother Mary dan Sam. Ini bukan sekadar relasi antara artis dan desainer, melainkan hubungan yang lebih kompleks. Antara pencipta dan ciptaan, antara identitas asli dan persona publik.
Michaela Coel tampil sangat dominan di sini. Ekspresi wajahnya mampu menyampaikan konflik batin yang tidak terucapkan, dari hangat menjadi getir hanya dalam hitungan detik. Ia seperti jangkar emosional film ini, seolah membumi di tengah narasi yang sering mengawang-ngawang.
Sementara itu, Anne Hathaway menghadirkan sosok Mother Mary sebagai figur yang rapuh di balik kemegahannya. Meski secara emosional terkadang terasa tertahan, secara fisik ia tampil total. Ada satu adegan tarian tanpa musik yang benar-benar mencuri perhatian. Gerakannya terlihat seperti seseorang yang sedang melepaskan beban, tapi juga seperti orang yang sedang kerasukan oleh alter egonya sendiri.
Relasi keduanya tidak pernah benar-benar nyaman. Ada jarak, ada luka lama, ada sesuatu yang tidak pernah selesai. Namun, justru di situlah film ini menemukan kekuatannya. Ada ketegangan yang tidak pernah sepenuhnya terurai hingga akhir. Minusnya, nyaris 80 persen film berfokus pada mereka. Karakter lain seperti Hilda (Hunter Schafer) jadi tak banyak mendapat sorotan.
3. Sinematografi yang atmosferik, tapi plot terasa ruwet
Secara visual, Mother Mary adalah pengalaman yang nyaris menghipnotis. Kamera sering kali diam, mengamati, memberi ruang bagi wajah dan tubuh karakter untuk "bercerita." Komposisinya bersih, tapi tidak pernah terasa dingin. Malah ada aura mistis yang menyelimuti setiap frame.
Lowery menciptakan dunia di mana ketenaran terasa seperti ritual spiritual. Mother Mary bukan hanya artis, tapi semacam entitas, figur yang dipuja, tapi juga terperangkap dalam citranya sendiri. Hal ini mengingatkan kita pada bagaimana publik memperlakukan ikon pop seperti Madonna atau Beyoncé. Bukan sekadar manusia, tapi simbol. Bukan sekadar artis, tapi sosok "ibu."
Namun, di balik keindahan visual itu, ada masalah mendasar. Film ini terlalu sibuk membangun atmosfer daripada menyampaikan cerita. Banyak adegan terasa seperti potongan video musik. Indah, tapi tidak memperkuat narasi. Musik EDM bernuansa trance dari Jack Antonoff dan Charli XCX memang membantu membangun mood, tapi tidak cukup untuk menutupi kelemahan struktur cerita yang terasa bertele-tele.
4. Ambiguitas yang berani, tapi berisiko menjauhkan penonton dari kisahnya
Lowery jelas menganut prinsip "show, don't tell" sepanjang film. Masalahnya, ia mungkin terlalu jauh melangkah ke arah "show… and don’t explain at all." Film ini penuh dengan simbolisme. Mulai dari kain merah, kehadiran yang terasa sebelum terlihat, hingga hubungan yang nyaris supranatural. Namun, tidak semuanya terhubung dengan jelas.
Alih-alih membangun emosi secara organik, beberapa momen terasa seperti potongan ide yang belum sepenuhnya matang. Film ini seperti sengaja membiarkan penonton tersesat, berharap mereka menemukan makna sendiri. Dan memang, bagi sebagian orang, ini justru menjadi daya tarik utama. Tapi bagi yang lain, pengalaman ini bisa terasa seperti mencoba memahami mimpi orang lain.
5. Apakah film Mother Mary layak ditonton?
Mother Mary bukan film untuk semua orang, dan tampaknya memang tidak ingin menjadi film untuk semua orang. Ini adalah karya yang berani, eksperimental, dan kadang terasa terlalu percaya diri dengan ambiguitasnya sendiri.
Jika kamu menyukai film yang lebih mengutamakan atmosfer, simbolisme, dan eksplorasi emosi ketimbang cerita yang jelas, film ini bisa jadi pengalaman yang memikat. Tapi jika kamu mencari narasi yang solid dan mudah diikuti, Mother Mary akan terasa seperti perjalanan yang terlalu melelahkan.
Pada akhirnya, Mother Mary adalah film yang lebih mirip pengalaman spiritual ketimbang tontonan biasa. Ia tidak menawarkan jawaban, hanya pertanyaan yang terus menggema bahkan setelah lampu bioskop menyala kembali. Mother Mary bisa ditonton mulai 24 April 2026.













![[QUIZ] Tebak Member Team Dream JKT48 di MV Wakaka People, Buktikan Kalau Kamu Fans!](https://image.idntimes.com/post/20260423/upload_6bd63518cc6adaabff78eedffc2513a6_07ec447a-d1ee-4127-a8a0-64daf409363c.jpg)




