Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Penjelasan Ending Return to Silent Hill, Mirip Seperti Versi Game-nya?

Return to Silent Hill.jpg
Return to Silent Hill (dok. Cineverse/Return to Silent Hill)

Return to Silent Hill (2026) sudah resmi tayang di Indonesia. Secara garis besar, kisahnya mengikuti James Sunderland (Jeremy Irvine), seorang seniman yang dihantui rasa bersalah setelah kehilangan kekasihnya, Mary Crane (Hannah Emily Anderson). Suatu hari, ia mendapat surat dari Mary, membawanya ke Silent Hill. Namun seperti kota itu sendiri, film ini menolak memberi jawaban sederhana.

Film ini memang sebagian besar mengikuti alur game Silent Hill 2, tapi pilihan ending yang diambil sutradara Christophe Gans membuat banyak penonton bertanya-tanya: apakah ini benar-benar setia pada game-nya? Terutama ketika film memasuki fase terakhirnya, di mana kebenaran tentang Mary, James, dan dosa yang mengikat mereka akhirnya terungkap. Berikut penjelasan lengkapnya!

Awas, artikel ini mengandung spoiler!

1. Apa yang terjadi di akhir Return to Silent Hill?

Return to Silent Hill 4.jpeg
Return to Silent Hill (dok. Cineverse/Return to Silent Hill)

Dalam game Silent Hill 2, pemain bisa mendapatkan enam ending berbeda, ditambah dua ending baru di versi remake tahun 2024. Tidak ada satu pun yang dikonfirmasi sebagai kanon atau true ending. Namun, film Return to Silent Hill dengan tegas memilih jalur paling kelam.

Di akhir film, James akhirnya berhadapan dengan wujud terakhir Mary yang mirip ngengat. Di momen inilah ingatan James runtuh sepenuhnya. Ia mengingat kebenaran yang selama ini ditekan. Dalam penderitaan yang tak tertahankan, Mary memohon agar James mengakhiri hidupnya. Meski menolak dan hancur secara emosional, James akhirnya menuruti permintaan itu.

Akhir ini secara langsung meniru ending "In Water," atau yang sering disebut Suicide Ending dalam game Silent Hill 2. Banyak penggemar percaya bahwa sejak awal James datang ke Silent Hill dengan niat bunuh diri, karena ia tak sanggup hidup dengan rasa bersalah atau hidup tanpa Mary. Karena itu, "In Water" sering dianggap sebagai akhir yang paling masuk akal bagi James. Namun, film ini belum selesai.

Setelah tenggelam, James justru terbangun kembali di awal cerita. Ia kembali ke momen pertama bertemu Mary di pinggir jalan, saat kopernya tak sengaja tertabrak mobil James. Bedanya, kali ini James membuat pilihan berbeda. Ia tidak membawa Mary kembali ke Silent Hill, melainkan mengajaknya pergi menjauh dari kota terkutuk tersebut.

2. Persamaan ending film dengan versi game-nya

Persamaan-ending-film-dengan-versi-gimnya.jpg
Return to Silent Hill (dok. Cineverse/Return to Silent Hill)

Keunikan Silent Hill 2 terletak pada fakta bahwa tidak ada akhir yang sejati. Banyak penggemar meyakini semua ending valid secara bersamaan. Artinya, James tidak pernah benar-benar keluar dari Silent Hill, baik hidup maupun mati. Teori populer menyebutkan bahwa Silent Hill menjebak James dalam siklus tanpa akhir.

Setiap kali James mencapai sebuah akhir, ia kembali ke awal perjalanan, mengulangi pencarian Mary lagi dan lagi. Game aslinya memberi petunjuk lewat banyak mayat yang menyerupai James, seolah menunjukkan bahwa dirinya telah gagal berkali-kali. Versi remake bahkan menambahkan 26 foto Polaroid misterius yang tampak seperti fragmen dari siklus-siklus sebelumnya.

Akhir Return to Silent Hill mengadopsi gagasan yang sama. Meski secara permukaan tampak lebih penuh harapan karena James memilih menjauh dari Silent Hill, kenyataannya ia tetap kembali ke titik awal. Semua penderitaan yang ia alami tidak benar-benar berakhir. James tidak dibebaskan. Ia hanya diberi kesempatan untuk mengulang penyangkalannya sekali lagi.

3. Penjelasan ending Return to Silent Hill menurut pemeran Mary/Maria

Penjelasan ending Return to Silent Hill menurut pemeran MaryMaria.jpeg
Return to Silent Hill (dok. Cineverse/Return to Silent Hill)

Dalam wawancara dengan ScreenRant, pemeran Mary dan Maria, Hannah Emily Anderson, memberikan sudut pandang yang lebih emosional. Ia mengaku sebagai sosok yang romantis dan melihat ending film sebagai kesempatan kedua bagi James. Anderson juga menjelaskan bahwa karakter Maria adalah manifestasi trauma Mary yang terdistorsi.

"Maria menggunakan seksualitas dan sensualitasnya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, dan itulah bagaimana trauma Mary termanifestasi dalam diri Maria," ujarnya.

Interpretasi ini membuka ruang bahwa akhir film bukan sekadar hukuman, melainkan ujian terakhir. Apakah James benar-benar belajar dari penderitaannya, atau ia hanya akan mengulang kesalahan yang sama dalam lingkaran waktu berikutnya? Tulis pendapatmu di kolom komentar, ya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Triadanti N
EditorTriadanti N
Follow Us

Latest in Hype

See More

Respon Naya Anindita Soal Persaingan Film Lebaran: Harus Bersaing Sehat!

03 Feb 2026, 19:41 WIBHype