potret Prilly Latuconsina di kantor IDN, Jakarta, Jumat (4/9/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)
Tidak hanya jumlah layar, Prilly juga menyoroti pentingnya dukungan pemerintah agar film Indonesia bisa lebih dikenal di pasar internasional. Menurutnya, pemerintah dapat berperan dalam mendukung distribusi hingga kampanye film Indonesia agar mampu bersaing di panggung global.
Ia mencontohkan Korea Selatan yang dinilai aktif memberikan dukungan bagi karya filmnya untuk menembus pasar internasional. Menurut Prilly, membawa film Indonesia ke ajang bergengsi seperti Oscar membutuhkan proses panjang, termasuk kampanye dan biaya yang tidak sedikit.
“Untuk bisa masuk Oscar, kita harus menjalani campaign dan perlu biaya. Biayanya dari mana gitu? Kalau Korea dari government. Kalau kita ada dari government, tapi belum sebanyak itu anggarannya,” lanjut Prilly.
Prilly juga berharap pemerintah dapat melihat potensi besar industri film Indonesia, bukan hanya sebagai sektor hiburan, tetapi juga sebagai salah satu cara untuk memperkenalkan Indonesia sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, ia menilai dukungan dari pemerintah sangat diperlukan agar film Indonesia dapat berkembang dan semakin dikenal di pasar internasional.
“Semoga pemerintah bisa melihat bahwa film ini adalah cara yang sangat efisien untuk mempromosikan Indonesia. Untuk menaikkan ekonomi di negara kita juga, karena itu yang sudah dilakukan sama Korea.”
Prilly menyadari bahwa berbagai perubahan yang diharapkannya untuk industri film Indonesia bukanlah perkara mudah. Pembenahan sistem kerja, perluasan akses layar, hingga dukungan terhadap distribusi film ke pasar internasional membutuhkan proses panjang dan keterlibatan berbagai pihak, terutama para pemangku kebijakan. Ia pun berharap berbagai keresahan tersebut dapat menjadi perhatian bersama demi menciptakan ekosistem perfilman Indonesia yang lebih sehat dan berkembang.