Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Review Film Baby Udon: Kisahnya Haru, tapi Cerita Kurang Dieksplorasi

Review Film Baby Udon: Kisahnya Haru, tapi Cerita Kurang Dieksplorasi
Poster film Baby Udon (dok. Sumargo Film & LYTO Pictures/Baby Udon)
  • Baby Udon mengangkat kisah nyata Fanny dan Hajime Kondoh, dari pertemuan di restoran Jepang, pernikahan, perjuangan memiliki anak, hingga ujian kanker yang dialami Hajime.

  • Film dinilai menghadirkan cerita haru, tetapi alurnya kerap melompat dan transisi konflik terlalu cepat, sehingga sulit mendalami tiap persoalan mereka.

  • Caitlin Halderman dan Denny Sumargo membangun chemistry yang mengalir; tetapi, sudut pandang Fanny mendominasi, sehingga cerita karakter Hajime kurang dieksplorasi secara mendalam.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Sebagian orang mungkin tidak asing dengan sosok Fanny Kondoh. Sebelumnya, Fanny sempat viral karena kisah hidup dan perjalanan cintanya bersama mendiang sang suami, Hajime Kondoh. Kini, cerita tersebut diangkat ke layar lebar lewat film Baby Udon yang disutradarai Fajar Bustomi.

Sebagai sebuah film yang diangkat dari kisah nyata, tentu tidak sedikit yang ingin tahu bagaimana Baby Udon menerjemahkan perjalanan Fanny dan Hajime ke dalam sebuah cerita di layar lebar. Lalu, apakah Baby Udon mampu mengemas kisah tersebut menjadi film yang menarik untuk disaksikan? Berikut review film Baby Udon dari IDN Times.

  1. Sinopsis Film Baby Udon (2026)

    Baby Udon mengikuti kisah Fanny Kondoh (Caitlin Halderman), seorang perempuan asal Indonesia yang bekerja di sebuah restoran Jepang yang dipimpin oleh pengusaha bernama Hajime Kondoh. Semesta mempertemukan mereka saat Hajime datang ke outlet resto tempat Fanny bekerja untuk urusan pekerjaan.

    Pertemuan itu nyatanya membuat Fanny jatuh cinta pada Hajime sehingga mereka kemudian menjalin hubungan dan membawanya sampai ke jenjang pernikahan. Ketika sudah menikah, Fanny dan Hajime mulai menjalani kehidupan rumah tangga dengan segala suka dan dukanya. Di tengah perjuangan mereka mewujudkan impian memiliki buah hati, berbagai cobaan datang silih berganti dan menguji kekuatan cinta mereka, terutama pada saat Hajime divonis mengidap kanker.

    Baby Udon
    2026
    2.9/5
    Directed by Fajar Bustomi
    Producer

    Denny Sumargo, Marcella Daryanani, Olivia Allan Sumargo

    Writer

    Oka Aurora

    Age Rating

    13+

    Genre

    Drama, Percintaan

    Duration

    115 Minutes

    Release Date

    03-09-2026

    Theme

    Terinspirasi kisah nyata, cinta, keluarga, pasangan suami-istri

    Production House

    Sumargo Film, LYTO Pictures

    Where to Watch

    Cinema XXI, Cinepolis, CGV

    Cast

    Caitlin Halderman, Denny Sumargo, Vonny Anggraini, Naufal Samudra, Ayya Renita

  2. Trailer Film Baby Udon (2026)

    Cuplikan Film Baby Udon (2026)

  3. 1. Hadirkan kisah haru, tapi dikemas dengan alur cerita yang lompat-lompat

    Setelah menonton sampai habis, kisah yang dihadirkan dalam film ini terbilang cukup haru. Saya harus akui hati terasa tersentuh ketika melihat bagaimana lika-liku perjalanan rumah tangga yang dihadapi Fanny dan Hajime hingga harus menghadapi berbagai ujian berat. Namun, kisah yang disuguhkan dalam film hanya sebatas membuat perasaan tersentuh dan belum mampu mengundang saya benar-benar larut hingga menitikkan air mata.

    Selama menonton dari bangku bioskop, hal yang cukup terlihat adalah alur cerita yang terasa melompat-lompat. Sebenarnya, alur semacam ini bukan hal yang aneh di dunia perfilman, apalagi jika kisahnya diangkat secara langsung dari buku maupun kisah nyata. Saya pun bisa mengerti film ini menggunakan alur jumping untuk membuat penonton lebih fokus mengikuti momen-momen penting Fanny dan Hajime. Terlebih lagi, cerita film ini harus merangkum perjalanan rumah tangga mereka selama bertahun-tahun ke dalam durasi hampir dua jam.

    Walau demikian, saya merasakan transisi dari satu konflik ke konflik lainnya berlangsung terlalu cepat. Saat mulai memahami satu persoalan yang dihadapi Fanny dan Hajime, film sudah berpindah ke permasalahan berikutnya, seolah-olah keduanya harus menghadapi berbagai masalah secara bertubi-tubi.

    Keputusan untuk menyorot banyak momen penting memang membuat perjalanan Fanny dan Hajime terasa lengkap dalam cerita film. Di sisi lain, cara tersebut justru membuat alurnya menjadi kurang mengalir. Pada akhirnya, saya sebatas memahami beratnya perjalanan yang mereka lalui, tetapi tidak selalu mendapatkan kesempatan untuk benar-benar terlarut dalam setiap konflik yang disuguhkan dalam cerita.

  4. 2. Cerita lebih banyak berpusat pada sudut pandang Fanny

    Selain alur yang melompat-lompat, film ini juga tampak terlalu banyak mengambil porsi dari sudut pandang Fanny. Hampir seluruh perjalanan yang dikisahkan dalam film Baby Udon lebih banyak dilihat dari sisi Fanny sebagai tokoh utama. Penggunaan sudut pandang tersebut memang membuat penonton lebih mudah mengerti apa yang dirasakan dan dihadapi Fanny.

    Namun, karakter Hajime terasa kurang memiliki space untuk berkembang dalam cerita. Menurut saya, karakter Hajime sebenarnya punya perjalanan dan persoalan tersendiri sehingga memiliki potensi untuk digali lebih jauh. Akibatnya, saya merasa Hajime dalam cerita lebih banyak hadir sebagai bagian dari perjalanan Fanny daripada sosok yang memiliki pergulatannya sendiri.

    Dari visualnya, film ini terkesan aman dan dieksekusi dengan cukup baik sehingga tidak ada elemen yang terlihat mengganggu. Begitu pula halnya dengan soundtrack yang dihadirkan, mulai dari dua lagu Yura Yunita berjudul "Harus Bahagia" dan "Tanda", serta lagu "Bahagia Lagi" yang dipopulerkan Piche Kota. Bagi saya, lagu-lagu tersebut sudah cukup menambah kesan drama sekaligus mendukung suasana adegan.

  5. 3. Chemistry Denny Sumargo dan Caitlin Halderman terasa mengalir

    Berbicara akting, karakter Fanny Kondoh dalam film Baby Udon diperankan Caitlin Halderman dengan cukup baik. Pembawaan emosi Fanny begitu terasa, sehingga penonton dapat memahami bagaimana rasanya menjadi Fanny ketika melewati fase-fase sulit. Ia pun mampu berbicara dengan logat medok ala Fanny serta membawakan gaya ceplas-ceplos yang menghidupkan karakter.

    Jujur saja, saya mungkin menjadi salah satu orang yang skeptis ketika mengetahui Denny Sumargo berperan sebagai Hajime Kondoh. Namun, persepsi itu agak berubah saat melihat secara langsung bagaimana Densu memerankan karakter tersebut. Menurut saya, Densu cukup mampu memainkan peran Hajime Kondoh, ia bahkan dapat berdialog dalam bahasa Jepang yang memang tidak mudah untuk diucapkan.

    Secara keseluruhan, akting Densu sudah cukup baik sebagai Hajime, tetapi, seperti yang saya katakan di atas, karakternya pada film ini kurang mendapatkan eksplorasi cerita yang lebih dalam. Sementara itu, chemistry Caitlin dan Densu sebagai pasangan suami-istri terlihat mengalir. Keduanya tampak profesional dan tidak canggung dalam memerankan adegan bersama.

    Selain Caitlin dan Densu, aktris Vonny Anggraini juga terbilang baik dalam memerankan karakter ibu Fanny. Ia mampu menerjemahkan perannya dan membawa saya merasa sebal saat karakternya meminta uang terus-menerus pada Fanny.

  6. 4. Apakah Baby Udon layak ditonton di bioskop?

    Setelah menonton sampai tuntas, saya dapat menarik kesimpulan kalau Baby Udon bukanlah film yang kurang bagus. Film ini tergolong oke dan masih layak ditonton di bioskop, apalagi jika kamu sebelumnya sudah mengikuti kisah Fanny dan Hajime.

    Namun, cerita yang mayoritas mengambil sudut pandang Fanny membuat Baby Udon terkesan menjadi filmnya Fanny Kondoh, sementara karakter Hajime Kondoh hanya sebagai pelengkapnya saja. Padahal bila perspektif dari Hajime turut dihadirkan, mungkin film ini mempunyai cerita yang terasa lebih kaya.

    Dari kisah perjuangan Fanny-Hajime yang dikemas dalam cerita, menurut saya, Baby Udon mungkin akan terasa dekat bagi mereka yang sedang berjuang memiliki anak, atau bahkan keluarga para penyintas kanker. Meski begitu, film ini tetap membawa pesan tersendiri kepada penonton tentang arti kesetiaan dalam cinta dan terus percaya serta menaruh harapan pada Tuhan yang memiliki rencana indah bagi setiap manusia.

    Baby Udon sudah tayang di bioskop Indonesia mulai 3 September 2026. Bagi kamu yang sudah nonton, seperti apa penilaianmu untuk film ini?

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More