10 Tahun Berkarya, Reality Club Stay True di Tengah Berbagai Tren

- Reality Club menegaskan mereka tidak mengikuti tren genre viral, tetapi tetap memanfaatkan teknologi baru dalam proses produksi musiknya.
- Grup ini mengutamakan kejujuran dan kebebasan berekspresi dalam berkarya, menciptakan lagu sesuai selera pribadi tanpa tekanan tren pasar.
- Mereka tetap adaptif di ranah promosi digital seperti TikTok untuk menjangkau pendengar baru, sambil menjaga idealisme musikal yang telah bertahan selama satu dekade.
Jakarta, IDN Times - Reality Club membagikan pandangannya tentang bagaimana tetap bisa relevan dengan tren yang terus berkembang. Meski gak harus mengikuti genre yang sedang naik, seperti hipdut yang belakangan viral, grup beranggotakan Chia, Faiz, Nugi, dan Era ini tetap update tren dalam hal lain.
Dalam wawancara bersama IDN Times pada Kamis (23/4/2026), Faiz mengakui kalau secara gak sadar, musik yang didengarkannya dari zaman ke zaman pasti berubah. Dari dulunya yang suka Arctic Monkeys, misalnya, kini playlist-nya lebih banyak Olivia Rodrigo, Sabrina Carpenter, dan Olivia Dean. Apakah itu memengaruhi musik yang mereka produksi, Faiz ingin menyerahkannya pada pendengar. Namun yang pasti, Reality Club, menurutnya, selalu membuat lagu yang sejujur-jujurnya.
1. Reality Club gak berpatok pada tren genre viral

Punya warna musiknya sendiri, Reality Club menjelaskan, mereka tidak pernah membuat musik berdasarkan tren yang sedang populer. Meski begitu, mereka masih terbuka dengan tren cara memproduksi lagu terbaru, misalnya menggunakan teknologi terkini.
"I think we're up to date with new technology atau new ways to record. Tapi in terms of trend, ‘Wah yang lagi naik nih hipdut, kita bikin hipdut yuk.' Kita gak pernah kayak gitu sih,” ujar Faiz selaku vokalis sekaligus gitaris Reality Club ini.
2. Reality Club berusaha stay true dengan menjadi diri sendiri

Faiz melanjutkan, Reality Club sendiri mengutamakan kejujuran dalam membuat musik. Mereka bebas mengeksplorasi genre apa pun selama itu sesuai dengan apa yang mereka sukai.
“Kita gak begitu ngikutin apakah orang-orang lagi suka apa. Jadi emang bikin lagu sebisa kita sejujurnya. Kayak pengen bikin tiba-tiba metal, metal yang lain. Selama kita seneng sama lagunya, ya udah itu kita,” lanjut Faiz.
"Aku cuma bisa jadi aku," tambah Nugi yang menegaskan bahwa mereka hanya ingin tetap menjadi diri sendiri.
3. Reality Club tetap adaptif walau idealis

Meski tegas dalam warna musik mereka, Reality Club tak menampik tetap realistis dalam urusan promosi. Mereka mengakui pentingnya mengikuti tren digital, termasuk di platform seperti TikTok, untuk bisa menjangkau pendengar yang lebih luas.
“Jadi idealisme kita, kita simpan secara utuh di musik. Tapi for marketing, kita sangat ngikutin. Karena we realize itu juga salah satu cara untuk stay relevant dan mendapatkan pendengar baru,” jelas Chia sang vokalis.
“Kita bukan yang menolak, kita menolak hanya di hal-hal tertentu doang. Tapi kita juga menyadari, sometimes we have to be adaptive sekarang,” tambah pemilik nama asli Fathia Izzati tersebut.
Dengan musiknya yang jujur itu, Reality Club pun berhasil bertahan selama satu dekade. Mereka kini bersiap menggelar konser "(10) years of Reality Club - Live in Jakarta" pada 6 Juni 2026 di GBK Basketball Hall, Senayan, Jakarta.


















