Review Film Ayah, Aku Mau Cerita..., Jangan Main-Main Sama Sinefil!

Seberapa jauh seorang ayah akan pergi demi melindungi keluarganya? Pertanyaan tersebut menjadi fondasi utama Ayah, Aku Mau Cerita... (2026), film terbaru Falcon Pictures adaptasi dari Drishyam (2013). Penonton yang sudah menyaksikan versi India mungkin tahu ke arah mana cerita ini bergerak. Namun, versi Indonesia tetap punya ruang untuk menghadirkan ketegangan lewat lokalisasi cerita dan karakter.
Disutradarai Danial Rifki, film ini juga menjadi panggung bagi Vino G. Bastian, Niken Anjani, dan Ziva Magnolya untuk menghidupkan sebuah keluarga yang perlahan terperangkap dalam kebohongan mereka sendiri. Dengan durasi hampir tiga jam, Ayah, Aku Mau Cerita... bukan thriller yang terburu-buru. Ia mengajak penonton menyusun puzzle sedikit demi sedikit, sebelum akhirnya memperlihatkan bagaimana sebuah "cerita" bisa menjadi senjata. Berikut ulasannya!
Sinopsis Ayah, Aku Mau Cerita... (2026)
Andi Budiman (Vino G. Bastian) dan Marini (Niken Anjani) menjalani kehidupan sederhana bersama dua putri mereka, Aisha (Ziva Magnolya) dan Ditta (Queen Lubis). Andi merupakan sosok ayah yang sangat memprioritaskan keluarganya, meski kehidupannya jauh dari kata mewah. Masalah bermula ketika Aisha menghadiri sebuah acara sebagai penari tradisional di Candi Prambanan.
Di sana, ia didekati Indra, pemuda yang kemudian diam-diam merekam Aisha saat sedang mandi dan menggunakan video tersebut untuk mengancamnya. Indra kemudian mengajak Aisha bertemu di belakang rumah. Marini yang mengetahui ancaman tersebut berusaha melindungi putrinya. Perkelahian pun terjadi hingga Aisha secara tidak sengaja memukul kepala Indra dengan kayu. Indra kemudian ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa.
Panik, Marini dan Aisha berusaha menyembunyikan jasad Indra. Ketika Andi pulang dan mengetahui apa yang terjadi, ia menyusun sebuah rencana untuk menciptakan alibi bagi keluarganya sekaligus mengaburkan jejak kejahatan tersebut. Namun, penyelidikan polisi perlahan mengarah kepada keluarga Andi. Ia pun harus menggunakan segala pengetahuan yang dimilikinya untuk menghadapi aparat penegak hukum dan mempertahankan cerita yang telah ia bangun.
Ayah, Aku Mau Cerita...20263.5/5Directed by Danial RifkiProducer Frederica
Writer Danial Rifki, Jeethu Joseph
Age Rating R13
Genre Drama, family
Duration 166 Minutes
Release Date 20 Agustus
Theme Suspense mystery, drama thriller, crime
Production House Falcon Pictures
Where to Watch Cinema XXI, CGV, Cinépolis Indonesia
Cast Vino G Bastian, Marsha Timothy, Niken Anjani, Ziva Magnolya, Gunawan Sudrajat, Pritt Timothy, Rizky Hanggono, Queen Lubis, Sadana Agung, Norman Akyuwen, Ibnu Gundul, Whani Darmawan, Faris Fadjar, Aksara Dena
Trailer Ayah, Aku Mau Cerita... (2026)
Cuplikan film Ayah, Aku Mau Cerita... (2026)
1. Drama keluarga dalam balutan crime-thriller
Hal paling menarik dari Ayah, Aku Mau Cerita... adalah bagaimana film ini tidak menjadikan kasus kriminal sebagai tontonan semata. Di balik misteri mengenai kematian Indra, ada drama keluarga yang menjadi jantung ceritanya.
Andi bukan seorang kriminal profesional. Ia hanya seorang ayah yang tiba-tiba harus menghadapi situasi yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan. Ketika polisi mulai mengumpulkan bukti, penonton ikut melihat bagaimana Andi menyusun potongan-potongan cerita untuk menyelamatkan keluarganya. Di sinilah durasi film yang mencapai sekitar 160 menit terasa masuk akal.
Paruh awal memang cukup panjang karena film harus memperkenalkan karakter, hubungan keluarga, kehidupan Andi, hingga kebiasaannya menonton film. Namun setelah kematian Indra terjadi, ritmenya mulai menemukan bentuk. Setiap petunjuk yang ditemukan polisi membuat ruang gerak Andi semakin sempit.
Menariknya, latar belakang Andi sebagai seseorang yang tidak memiliki pendidikan formal tinggi justru menjadi bagian penting dari karakter. SD saja tidak tamat. Ia bukanlah orang yang punya uang, jabatan, atau koneksi untuk melawan sistem. Senjatanya hanya satu: kemampuan memahami bagaimana sebuah cerita dapat dipercaya.
Andi menggunakan apa yang ia pelajari dari film untuk membangun alibi dan menciptakan kronologi alternatif. Ada ironi yang cukup menarik di sini. Film yang dikenal sebagai sarana hiburan justru berubah menjadi bekal bagi Andi ketika genre hidupnya mendadak berubah menjadi thriller kriminal.
2. Penampilan Vino G. Bastian solid, Ziva Magnolya mencuri perhatian
Kekuatan terbesar Ayah, Aku Mau Cerita... ada pada pemain utamanya. Vino G. Bastian benar-benar mampu membawa karakter Andi sebagai seorang ayah yang terdesak. Kepanikan, ketakutan, sampai instingnya untuk melindungi keluarga terasa alami. Ia tidak memainkan Andi sebagai sosok jenius yang selalu tahu apa yang harus dilakukan, melainkan seseorang yang terus beradaptasi di bawah tekanan.
Chemistry Vino dengan Niken Anjani juga menjadi salah satu elemen yang membuat drama keluarganya bekerja. Keduanya mampu menyampaikan rasa takut, marah, dan kasih sayang tanpa harus selalu mengandalkan dialog panjang.
Sementara itu, Ziva Magnolya memberikan kejutan lewat debut akting layar lebarnya. Sebagai Aisha, ia harus memainkan karakter yang berada dalam tekanan luar biasa setelah satu kejadian mengubah hidupnya. Beberapa adegan emosionalnya terasa meyakinkan dan menunjukkan perkembangan yang menarik dari seorang penyanyi menuju aktor film.
Marsha Timothy sebagai Kapolres Iriana juga menakutkan. Meski menjadi pasutri di dunia nyata, ia dan Vino benar-benar jadi lawan satu sama lain. Chemistry dan dinamika emosional mereka terasa hidup. Ada beberapa momen minim dialog, tapi ekspresi keduanya sudah cukup untuk menyampaikan rasa takut, marah, dan kasih sayang sebagai orang tua.
Dinamika keluarga Andi dan Iriana membuat konflik kriminal yang menjadi pusat cerita terasa memiliki konsekuensi emosional. Kita bukan sekadar menunggu apakah polisi akan menemukan kebenaran, tetapi juga ingin mengetahui apakah keluarga ini mampu bertahan setelah keputusan yang mereka ambil.
3. Setia dengan Drishyam, tetapi dibuat lebih melokal
Bagi yang sudah menonton Drishyam, tentu tidak banyak kejutan dari sisi plot. Ayah, Aku Mau Cerita... memang sangat setia terhadap materi sumbernya. Namun, lokalisasi yang dilakukan menjadi salah satu hal yang menarik.
Lewat tangan dingin Danial Rifki, cerita dipindahkan ke konteks Indonesia dengan berbagai dialog dan situasi yang terasa dekat dengan realitas sosial di sini. Beberapa sindiran mengenai pemerintahan, hukum, hingga relasi kuasa memberikan cita rasa lokal yang cukup efektif.
Film ini juga tetap mempertahankan salah satu gagasan paling menarik dari Drishyam, yakni bagaimana seseorang tanpa kekuasaan dapat menghadapi mereka yang memiliki status, uang, pendidikan, dan koneksi. Ada pula sejumlah dialog yang terasa sangat Indonesia banget dan membekas dibanding bagian dramanya. Salah satunya kalimat "ya ndak tau kok nanya saya" (YNTKTS) yang sukses membuat penonton tertawa terbahak-bahak, bahkan menempel lama setelah keluar dari bioskop.
Dari sisi produksi, Falcon Pictures juga terlihat memberikan perhatian lebih terhadap pembangunan dunia film. Kantor polisi, kendaraan, properti, hingga detail lokasi terasa fungsional, bukan sekadar tempelan visual. Sayang, aspek teknisnya belum selalu sekuat materi ceritanya.
Editing di beberapa bagian terasa terburu-buru, sementara teknik kamera cenderung monoton. Penggunaan OST di akhir juga terkesan kurang tepat karena justru mengurangi ketegangan yang sudah dibangun. Namun secara keseluruhan, keputusan untuk mempertahankan durasi dan struktur misterinya membuat Ayah, Aku Mau Cerita... bernapas seperti film aslinya.
4. Apakah Ayah, Aku Mau Cerita... recommended untuk ditonton?
Sangat direkomendasikan, terutama jika kamu adalah penggemar thriller misteri dan menyukai cerita dengan puzzle kriminal. Kalau kamu sudah menonton Drishyam, pengalaman menontonnya tentu tidak akan sepenuhnya mengejutkan. Namun, mengetahui apa yang akan terjadi tidak otomatis menghilangkan ketegangan. Justru menarik melihat bagaimana cerita yang sama diterjemahkan ke dalam konteks Indonesia.
Durasi hampir tiga jam memang bisa menjadi hambatan bagi penonton yang tidak terbiasa dengan thriller bertempo lambat. Akan tetapi, bagimu yang menikmati proses mengumpulkan petunjuk dan melihat sebuah alibi dibangun sedikit demi sedikit, durasi tersebut justru memberikan ruang yang cukup untuk ceritanya bernapas.
Kekuatan utama film ini tetap berada pada akting Vino G. Bastian, dinamika keluarga, serta keberhasilannya menerjemahkan konsep Drishyam ke dalam realitas Indonesia. Ia bukan sekadar remake yang plek ketiplek, tetapi paham mengapa ceritanya bekerja. Film ini menyoroti bagaimana narasi dapat menjadi alat untuk melawan realita, terutama ketika seseorang tidak memiliki kekuasaan untuk melawan sistem secara frontal.
Jika kamu penggemar Drishyam, The Body (2012), The Invisible Guest (2016), atau thriller serupa yang membuat penonton ikut menyusun puzzle bersama karakternya, film ini layak masuk daftar tontonanmu. Terlebih jika kamu adalah sinefil, mengingat Andi adalah sinefil juga. Siapa tahu, kamu bakal membutuhkan pengetahuan dari film saat menghadapi masalah di dunia nyata.

















![[QUIZ] Siapa Member Tim Love JKT48 yang Cocok Nemenin Kamu Nonton LaLaLa Festival 2026?](https://image.idntimes.com/post/20260819/img_8409_d6a26327-38ba-4b88-84e3-5a0b350df9c0.png)



