Review Film Khadam, Horor Slow Burn dengan Akting Solid Aghniny Haque

Film horor tidak selalu membutuhkan sosok hantu yang muncul tiba-tiba untuk membuat penonton bergidik. Khadam (2026) justru memilih jalan yang lebih perlahan dengan mengandalkan atmosfer, suara, dan situasi yang terasa semakin sesak dari waktu ke waktu. Gala premiere film ini pun sukses digelar di CGV Grand Indonesia, Jakarta, Senin (14/9/2026). Digadang-gadang sebagai salah satu film horor paling mencekam tahun ini, pemutaran perdana tersebut dibanjiri apresiasi dari para sineas, kritikus, dan penikmat horor tanah air.
Film kolaborasi Malaysia-Indonesia ini juga membawa persoalan keluarga, pengorbanan, hingga posisi perempuan dalam rumah tangga ke dalam cerita horornya. Dengan Aghniny Haque sebagai pemeran utama, Khadam menawarkan pengalaman horor yang tidak hanya membuat penonton takut, tetapi juga ikut merasakan kepedihan Melor. Seperti apa ulasannya? Simak di bawah ini!
Sinopsis Khadam (2026)
Khadam berlatar di Malaya era 1950-an. Ceritanya mengikuti Melor (Aghniny Haque), seorang perempuan tunawicara yang tinggal di sebuah rumah di tengah hutan bersama dua anaknya, Puteh (Zarra Zaff) dan Hitam (Karl El). Mereka juga merawat sang nenek, Nek Mak (June Lojong), yang semakin hari kondisinya memburuk akibat gangguan Khadam. Dalam kepercayaan yang menjadi bagian dari cerita film, Khadam merupakan makhluk gaib yang mendampingi manusia untuk membantu berbagai keperluan.
Masalah muncul ketika Khadam mulai memberontak. Keadaan tersebut membuat Melor dan keluarganya terus diteror. Karena situasi semakin sulit, Melor akhirnya memutuskan menerima dan menjadi tuan bagi Khadam tersebut. Awalnya, keputusan itu justru membawa kemudahan. Khadam membantu Melor merawat ternak dan kebun sayur kecilnya. Namun, kemudahan itu perlahan berubah menjadi petaka. Khadam mulai menggunakan wajah Melor, belajar dari dirinya, serta mengambil alih perannya sebagai ibu dan istri.
Ketika Manis (Siti Khadijah Halim) dan suaminya, Awang (Remy Ishak), kembali dari kota, mereka mulai menyadari adanya sesuatu yang tidak beres. Khadam pun semakin agresif ketika keberadaannya hendak diusir. Ia mulai menyakiti Manis, Puteh, Hitam, Awang, bahkan Melor sendiri. Lantas, apakah Melor mampu menyelamatkan keluarganya sebelum Khadam benar-benar mengambil alih kehidupannya?
Khadam20264/5Directed by Shamyl OthmanProducer Lina Tan, Ayu Amirrol, Linda Gozali, Charles Gozali
Writer Fariza Azlina Isahak
Age Rating D17
Genre Horror, drama
Duration 118 Minutes
Release Date 16 September
Theme Folk horror, supernatural horror, psychological horror, psychodrama
Production House Red Communications, Komet Productions, MAGMA Entertainment, VMS Studio
Where to Watch CGV Indonesia
Cast Aghniny Haque, Datuk Remy Ishak, Siti Khadijah Halim, Zarra Zhaff, Karl' El, June Lojong
Trailer Khadam (2026)
Cuplikan film Khadam (2026)
1. Aghniny Haque tampil luar biasa sebagai Melor
Salah satu kekuatan terbesar film Khadam terletak pada penampilan Aghniny Haque. Untuk debut layar lebarnya di perfilman internasional, ia mendapatkan karakter yang cukup menantang karena Melor merupakan perempuan tunawicara. Alih-alih mengandalkan dialog, Aghniny harus menyampaikan hampir seluruh emosi Melor melalui ekspresi wajah, gestur, bahasa isyarat, dan bahasa tubuh. Hasilnya terasa meyakinkan.
Menariknya, Aghniny juga untuk pertama kalinya memerankan seorang ibu. Chemistry dengan Zarra Zaff dan Karl El sebagai anak-anaknya terasa natural, terutama ketika Melor harus menunjukkan kasih sayang sekaligus ketakutan terhadap ancaman yang semakin dekat.
Perbedaan antara Melor dan Khadam juga menjadi tantangan tersendiri. Keduanya sama-sama diperankan melalui tubuh dan wajah Aghniny, tetapi memiliki energi yang berbeda. Melor terasa rapuh dan penuh tekanan, sedangkan Khadam perlahan menunjukkan sisi yang semakin mengganggu. Aghniny berhasil membuat penonton memahami apa yang dirasakan Melor bahkan ketika karakter tersebut tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ekspresinya menjadi bahasa utama sepanjang film diputar.
Zarra dan Karl juga tidak kalah mencuri perhatian. Keduanya terlihat natural sebagai anak-anak yang hidup di lingkungan pedesaan pada era tersebut dan tidak terasa seperti sedang memaksakan karakter. Sementara itu, Datuk Remy Ishak tampil menakutkan sebagai sang ayah. Siti Khadijah Halim juga solid sebagai Manis, karakter yang kontras dengan Melor.
2. Sinematografi dan scoring yang bikin atmosfer sesak
Khadam bukan tipe film yang setiap beberapa menit memberikan jumpscare. Film ini lebih tertarik membuat penonton merasa tidak nyaman secara perlahan. Sinematografinya banyak memanfaatkan kesunyian, ruang gelap, dan suasana yang terisolasi di tengah hutan. Pengambilan gambarnya sendiri dilakukan di Hutan Gopeng, Ipoh, Malaysia, dengan lanskap alam utuh yang mencakup area gua, sungai, hingga rimba yang kental dengan atmosfer aura mistis. Lokasi ini efektif untuk membangun perasaan terperangkap yang dialami Melor dan keluarganya.
Scoring dan desain suaranya turut memperkuat pengalaman tersebut. Musik dari Rendra Zawawi menjadi pemicu ketegangan, meski kesunyian justru sering terasa lebih menakutkan. Pendekatan ini membuat Khadam terasa seperti slow-burn horror yang sabar membangun teror. Penonton tidak langsung diberi semua jawabannya, tetapi diajak perlahan memahami bagaimana Khadam berubah dari sesuatu yang membantu menjadi ancaman bagi Melor dan keluarganya. Konsep utamanya pun menarik: siapa sebenarnya tuan dan siapa yang menjadi pelayan?
Khadam awalnya digunakan untuk membantu manusia. Namun, ketika ketergantungan semakin besar, hubungan tersebut justru berbalik. Pelayan menjadi tuan, sementara sang tuan perlahan kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Sebuah konsep yang unik, dengan isu yang tak kalah menarik di baliknya.
3. Horor supernatural yang membungkus isu patriarki dan KDRT
Di balik cerita tentang makhluk gaib, Khadam sebenarnya menyimpan drama keluarga yang cukup kuat. Film ini berbicara tentang perempuan yang berada dalam kondisi sulit dan harus mencari cara untuk bertahan hidup ketika bantuan dari lingkungan sekitar hampir tidak ada.
Melor adalah seorang ibu yang harus mengurus anak-anaknya, rumah, dan berbagai persoalan keluarga. Situasinya semakin berat karena suaminya tidak selalu berada di rumah. Dalam kondisi seperti itu, Khadam hadir sebagai jalan pintas yang menawarkan kemudahan. Namun, jalan pintas tersebut memiliki harga. Di sinilah horor Khadam terasa lebih menarik.
Ancaman terbesar bukan semata-mata sosok gaib, tetapi bagaimana Melor perlahan kehilangan kendali atas hidupnya sendiri. Khadam mengambil alih tugas, identitas, hingga perannya sebagai seorang ibu dan istri. Persoalan patriarki dan KDRT pun terasa menyatu dengan konflik supranatural. Ketakutan Melor tidak hanya datang dari sesuatu yang berada di luar dirinya, tetapi juga dari relasi kuasa yang membuatnya semakin terpojok.
Khadam terasa lebih dekat dengan drama keluarga yang dibungkus horor daripada sekadar film tentang hantu. Chemistry antarkarakter, baik antara kakak-adik, suami-istri, maupun ibu dan anak, membuat konflik tersebut terasa personal. Film ini memang memiliki tempo yang lambat. Bagi sebagian penonton, pendekatan tersebut mungkin terasa kurang menggigit.
Namun, bagi yang menikmati horor atmosferik dengan isu-isu domestik rumah tangga seperti Rosemary’s Baby (1968) atau Hereditary (2018), kesabaran Khadam dalam mengatur pacing-nya justru menjadi salah satu daya tariknya.
4. Apakah Khadam recommended untuk ditonton?
Khadam sangat direkomendasikan untuk ditonton, terutama bagi pencinta horor slow-burn yang lebih mengutamakan atmosfer, karakter, dan ketegangan dibanding jumpscare. Film ini memang bukan horor yang sempurna. Temponya cukup lambat dan beberapa penonton mungkin membutuhkan waktu untuk benar-benar masuk ke dalam ceritanya. Namun, konsep Khadam sebagai sosok yang perlahan mengambil alih identitas tuannya memberikan fondasi yang menarik. Tagline "Jangan Sampai Jadi Tuan" adalah kunci untuk memahami ceritanya.
Yang paling penting, Khadam tidak hanya menggunakan horor sebagai alat untuk menakut-nakuti. Ada cerita tentang ibu, keluarga, pengorbanan, patriarki, dan kehilangan kendali yang membuat terornya terasa lebih manusiawi. Ditambah akting, sinematografi, serta scoring yang kuat, Khadam berhasil menciptakan pengalaman yang sunyi, sesak, dan perlahan menyayat hati. Ia paham bahwa terkadang hal yang paling menyeramkan adalah ketika seseorang perlahan kehilangan dirinya sendiri.
Jika kamu penasaran dengan film horor yang lebih mengandalkan atmosfer dan drama keluarga ketimbang jumpscare, Khadam layak masuk daftar tontonanmu. Jangan lupa bagikan pendapatmu setelah menontonnya di bioskop, ya!


















