Review Film Monster Pabrik Rambut, Horor yang Beda dari Biasanya

Jakarta, IDN Times - Bagaimana jika kurang tidur akibat kerja berlebihan berubah menjadi teror yang mengancam nyawa? Premis tersebut diangkat dalam Monster Pabrik Rambut, film horor terbaru garapan Edwin yang memadukan kritik sosial dengan unsur mistis.
Sebelum tayang di Indonesia, Monster Pabrik Rambut lebih dulu diputar di Berlinale 2026 dalam program Special Midnight. Gak cuma itu, film ini merupakan hasil kolaborasi Indonesia, Singapura, Jepang, Jerman, dan Prancis. Dengan latar belakang produksi yang mendunia, apakah Monster Pabrik Rambut berhasil memenuhi ekspektasi?
Sinopsis Monster Pabrik Rambut
Putri kehilangan ibunya, yang meninggal setelah beberapa hari tak tidur karena bekerja siang dan malam. Menurut Maryati sang pemilik pabrik, ibunya mati bunuh diri. Awalnya ia percaya, tapi Ida, adiknya, mengatakan bahwa ibu mereka mati karena kesurupan. Untuk membuktikan omongannya, Ida memutuskan untuk lembur, tak tidur berhari-hari, demi melihat sendiri sosok hitam yang merebut tubuh ibunya.
Di sisi lain, adik bungsu mereka yang bernama Bona memiliki kemampuan spesial. Ia mampu meregenerasi bagian tubuhnya. Sosok hitam itu lalu berhasil menyandera Bona. Mampukah Putri dan Ida menyelamatkan Bona?
| Producer | Meiske Taurisia, Muhammad Zaidy |
| Writer | Eka Kurniawan, Edwin, Daishi Matsunaga |
| Age Rating | D17+ (Dewasa) |
| Genre | Kengerian, Fantasi |
| Duration | 96 Minutes |
| Release Date | 04-06-2026 |
| Theme | factory worker, factory, monster, supernatural, mystic, sister, industry, female protagonist, hair, haunted, dark, terror, power, youngest son |
| Production House | Palari Films, Giraffe Pictures, Hassaku Lab, In Good Company, Beacon Film |
| Where to Watch | Bioskop |
| Cast | Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, Didik Nini Thowok, Sal Priadi |
Trailer Monster Pabrik Rambut
Cuplikan film Monster Pabrik Rambut
1. Monster Pabrik Rambut tawarkan rasa horor yang berbeda
Monster Pabrik Rambut bukan jenis film horor yang mengandalkan jumpscare atau penampakan hantu untuk membuat penonton sulit tidur. Sebaliknya, film ini menebar rasa tidak nyaman dan gelisah secara perlahan lewat hal-hal yang terasa akrab dalam kehidupan sehari-hari. Alat-alat pabrik, mesin produksi, gunting, hingga jarum dihadirkan dengan cara yang membuat suasana terasa mencekam sepanjang film.
Menariknya, sosok monster yang muncul di layar justru bukan elemen paling mengerikan. Secara visual, figur hitam misterius tersebut bahkan terbilang sederhana dibanding banyak horor Indonesia lainnya. Kekuatan utama film ini terletak pada atmosfer dunia kerja yang dibangun dengan sangat meyakinkan.
Alih-alih mengandalkan hantu atau praktik mistis dukun, Monster Pabrik Rambut menghadirkan teror dari sistem kerja yang menguras tenaga manusia hingga batasnya. Jadi kalau kamu cari horor yang fresh, film ini bisa jadi pilihan pertama.
2. Konsep pabrik yang agak janggal
Monster Pabrik Rambut hadir dengan premis yang segar dan jarang diangkat dalam horor Indonesia. Namun, ada beberapa pilihan kreatif yang terasa kurang konsisten. Salah satunya adalah estetika retro yang diusung film ini. Meski berlatar masa kini, beberapa adegan seolah mengabaikan keberadaan teknologi yang sebenarnya bisa membantu para karakter menemukan jawaban dengan lebih cepat. Alih-alih memanfaatkan internet atau ponsel, mereka justru mengandalkan koran yang terasa lebih cocok untku latar waktu beberapa dekade lalu.
Di luar itu, karakter Maryati yang diperankan Didik Nini Thowok juga menjadi salah satu elemen yang mungkin memunculkan tanda tanya besar. Kehadirannya memang menambah nuansa misterius, tetapi cara karakter ini ditampilkan dan dijelaskan dalam cerita terasa kurang utuh. Akibatnya, ada beberapa momen yang berpotensi membingungkan penonton, terutama dalam memahami gender serta peran Maryati dalam keseluruhan narasi.
3. Penuh gore yang cukup bikin mual
Ada satu hal yang patut dipertimbangkan sebelum membeli tiket. Monster Pabrik Rambut tidak ragu menampilkan adegan gore dan potongan bagian tubuh yang cukup intens. Terornya bukan hanya hadir lewat atmosfer, tetapi juga melalui visual yang eksplisit dan berpotensi membuat sebagian penonton merasa tidak nyaman. Menjadi terasa lebih nyata, karena Edwin sebagai sutradara menggunakan efek praktikal dan bukan CGI.
Karena itu, film ini lebih cocok untuk penonton dewasa yang memang siap dengan sajian horor semacam ini. Sudah jelas, tidak boleh membawa anak di bawah usia semestinya untuk menonton ini, ya.
Pada akhirnya, Monster Pabrik Rambut menawarkan sesuatu yang berbeda di tengah maraknya horor Indonesia bertema hantu dan praktik mistis. Dengan memadukan kritik sosial, dunia kerja, dan teror psikologis, film ini menghadirkan ketakutan yang terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kamu bisa melihat kengerian yang berbeda dalam Monster Pabrik Rambut di bioskop Indonesia sejak 4 Juni 2026.


















