Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Review Film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa, Tegang, Brutal, Megah!

Review Film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa, Tegang, Brutal, Megah!
cuplikan film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa
Intinya Sih
  • Film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa menampilkan kisah balas dendam Suzzanna yang terjebak dalam dunia santet brutal, dengan fokus pada ketegangan emosional dan konflik batin antara dendam serta cinta.
  • Adegan klimaks film ini dipuji karena sinematografi megah, pergerakan kamera intens, serta visual luka dan ledakan realistis yang membuat penonton terpukau dan membuktikan kualitas produksi tinggi.
  • Nuansa nostalgia terasa kuat lewat gaya dialog, pola cerita khas Suzzanna klasik, serta elemen komedi ringan yang menjaga keseimbangan antara horor modern dan penghormatan terhadap versi legendarisnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Saat masuk ke studio bioskop, ekspektasi saya, film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa akan penuh dengan nuansa horor yang pernah menghantui masa kecil dulu. Namun, secara perlahan, film yang dibintangi oleh Luna Maya dan Reza Rahadian ini menggeser ekspektasi tersebut.

Bukan tentang teror jumpscare yang bikin bulu kuduk merinding atau music scoring yang memekakkan telinga, tapi film produksi Soraya Intercine Films ini justru lebih mengedepankan ketegangan yang terasa lebih kejam dan diam-diam membekas sepanjang durasi.

Saat menonton film ini dalam acara screening yang berlangsung di XXI Plaza Senayan, Sabtu (14/3/2026), saya dan beberapa penonton yang hadir cukup terkejut melihat bagaimana praktik santet ditampilkan secara lebih brutal dan detail dari yang dibayangkan. Berikut review film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa.

Artikel ini mengandung spoiler, ya!

Sinopsis Film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa (2026)

Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa mengikuti kisah balas dendam Suzzanna yang terpaksa mempelajari ilmu hitam demi menghabisi Bisman, penguasa desa kejam yang telah menyantet ayahnya. Dendam yang ia pelihara perlahan membawanya semakin dalam ke dunia kelam yang tak mudah untuk dilepaskan.

Konflik pun semakin memuncak saat Suzzanna justru jatuh cinta pada Pramuja, pria taat agama yang hadir sebagai kebalikan dari jalan yang ia pilih. Di titik inilah, Suzzanna dihadapkan pada pilihan paling sulit, melanjutkan dendam yang telah menguasai hidupnya atau meninggalkan segalanya demi cinta.

Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa
2026
4.6/5
Directed by Azhar Kinoi Lubis
Producer

Sunil Soraya

Writer

Jujur Prananto, Ferry Lesmana, Sunil Soraya

Age Rating

D 17+ (Adults)

Genre

Horor

Duration

135 menit Minutes

Release Date

18-03-2026

Theme

Santet, balas dendam

Production House

Soraya Intercine Films

Where to Watch

XXI, CGV, Cinepolis

Cast

Luna Maya, Reza Rahadian, Clift Sangra

Trailer Film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa (2026)

Cuplikan film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa (2026)

1. Minim jumpscare, tapi brutal dan bikin ngilu

Saat akan menonton Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa, ada satu hal yang terus menempel di pikiran saya, yaitu adegan horor penuh jumpscare yang menghantui masa kecil saya. Maklum, sebagai generasi milenial, saya tumbuh dengan bayangan film-film Suzzanna yang identik dengan teror jumpscare dan sosok ikonik yang sulit dilupakan.

Tapi, yang terjadi justru sebaliknya. Alih-alih horor, menurut saya film ini lebih terasa seperti thriller dengan balutan santet yang intens. Selama 2 jam 15 menit, filmnya gak mengandalkan teror berlebihan. Hampir gak ada jumpscare yang maksa. Scoring musiknya juga ditahan, gak lebay, jadi suasananya terasa lebih dingin dan tegang secara perlahan.

Bahkan, sosok Suzzanna di film ini lebih banyak ditampilkan sebagai seorang manusia malang yang tertindas. Bukan sekadar figur menyeramkan, melainkan karakter dengan luka dan alasan yang perlahan membuat penonton bersimpati pada pilihan-pilihannya.

Fokus utama film ini ada pada praktik santet itu sendiri yang ditampilkan dengan lebih berani dan tanpa banyak ditutup-tutupi. Cara Suzzanna menghabisi nyawa para targetnya tanpa ampun terasa sangat brutal. Gak cuma membangun suasana tegang, tapi juga bikin ngilu.

2. Adegan klimaks-nya stand out, buktikan klaim kemegahan sinematik!

Sepanjang penayangan film, terdapat cukup banyak adegan yang menarik. Namun, bagi saya, ada satu yang benar-benar membekas, yaitu adegan klimaksnya. Pada adegan tersebut, alurnya terasa berjalan sangat cepat, didukung pergerakan kamera yang solid dan intens, mengingatkan saya pada sensasi tak terduga ala Final Destination.

Posisi hingga detail luka di wajah karakternya juga ditampilkan begitu jelas, cukup membuat saya meringis dan ikut merasa ngilu. Tanpa aba-aba, ledakan muncul seketika. Di titik itu, saya dan sejumlah penonton langsung terdiam, seolah menahan napas bersama. Sampai akhirnya, suasana bioskop pun menjadi pecah karena riuh tepuk tangan penonton yang merasa takjub.

Bagi saya, adegan tersebut bukan sekadar klimaks, tetapi juga golden scene yang membuat saya paham kenapa tim produksi sering menyebut film ini mengedepankan kemegahan sinematik. Dan klaim tersebut terbukti.

Di sisi lain, film ini juga menyimpan cukup banyak detail yang diam-diam mencuri perhatian saya. Salah satunya terlihat dari set produksi yang menampilkan beberapa lokasi dengan lanskap indah, yang sempat membuat saya berpikir, “Ini CGI atau asli?” Dan ternyata, semuanya asli. Hal ini dikonfirmasi oleh sutradara Azhar Kinoi Lubis dalam sesi press conference yang berlangsung setelah screening.

Menurut saya, visual alam Indonesia yang ditampilkan di film ini terasa menyatu dengan sinematografinya sehingga mampu menghadirkan sentuhan autentik yang tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga memperkuat keseluruhan atmosfer visual film.

3. Ada nuansa nostalgia yang kerasa

Meski dikemas dengan teknologi yang lebih modern, penonton setia film-film Suzzanna pasti akan langsung merasa familier dengan sejumlah adegan, terutama pada pola cerita saat Suzzanna mencoba menghabisi nyawa para karakternya. Sadisnya, brutalnya, semuanya terasa khas dan tetap dipertahankan.

Selain itu, yang membuat film ini terasa kental dengan nuansa nostalgia adalah gaya dialog serta pesan moral yang dihadirkan. Keduanya terasa seperti bentuk penghormatan pada versi klasiknya. Elemen komedinya pun juga tetap diselipkan dengan porsi yang pas, namun tetap sukses mencairkan suasana dan membuat penonton tertawa lepas.

Secara keseluruhan, menurut saya, Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa bukan film yang menakutkan dalam arti konvensional. Sebaliknya, film ini lebih terasa sebagai thriller dengan ketegangan yang lebih terjaga, sinematik yang kuat, dan balutan nostalgia yang kental.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zahrotustianah
EditorZahrotustianah
Follow Us

Latest in Hype

See More