Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
cast dan sutradara film Serangan Balik (dok. Netflix)
  • Sutradara Sidharta Tata meriset taktik gerilya Perang Vietnam, termasuk pemanfaatan alam, jebakan, binatang, batang pohon, dan racun, untuk membangun adegan aksi Serangan Balik.

  • Rumah Eyang Hari dirancang sebagai hunian mandiri sekaligus sistem pertahanan; tim memilih lokasi di kaki gunung dan menyesuaikan jebakan dengan kondisi lingkungan.

  • Eyang Hari digambarkan sebagai mantan pasukan khusus berkemampuan tempur tinggi namun bermoral; profil karakternya dan strategi film dikembangkan melalui riset agar terasa autentik.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Sidharta Tata kembali mengeksplorasi genre action lewat film orisinal terbaru Netflix berjudul Serangan Balik yang menghadirkan adegan laga intens dan strategi bertahan hidup. Kali ini, ia tidak hanya mengandalkan koreografi laga untuk membangun ketegangan, tetapi juga merancang strategi pertahanan yang memanfaatkan kondisi lingkungan sekitar.

Film yang dibintangi oleh Lukman Sardi ini sendiri mengikuti kehidupan seorang mantan anggota pasukan khusus yang harus melindungi kedua cucunya dari ancaman sindikat kriminal. Nah, untuk menghadirkan rangkaian aksi tersebut, Sidharta Tata bersama tim produksi melakukan persiapan dan riset secara mendalam. Kepada IDN Times, Sidharta Tata mengungkapkan bahwa salah satunya terinspirasi dari taktik gerilya selama Perang Vietnam. Berbagai strategi pemanfaatan alam, mulai dari batang pohon, unsur binatang, hingga racun, menjadi referensi dalam merancang jebakan yang ditampilkan di film ini.

Menariknya, riset tersebut juga tidak diterapkan begitu saja. Sidharta Tata dan tim artistik harus terlebih dahulu menyesuaikannya dengan latar tempat serta karakter Eyang Hari yang memiliki latar belakang sebagai mantan anggota pasukan khusus. Lalu, seperti apa proses riset dan inspirasi di balik strategi bertahan di film Serangan Balik?

1. Berbagai strategi pertahanan di film Serangan Balik terinspirasi dari taktik gerilya Perang Vietnam

cast dan sutradara film Serangan Balik (dok. Netflix)

Strategi bertahan dengan memanfaatkan alam dan memasang jebakan untuk menghadapi musuh menjadi salah satu daya tarik film Serangan Balik. Rupanya, pendekatan tersebut tidak muncul begitu saja dari imajinasi tim produksi. Sidharta Tata selaku sutradara mengungkapkan bahwa ia menjadikan taktik gerilya tentara Vietnam selama Perang Vietnam sebagai salah satu referensi dalam mengembangkan cerita dan adegan aksinya.

Saat mengembangkan naskah, Sidharta Tata melakukan riset dengan mempelajari bagaimana tentara Vietnam memanfaatkan kawasan hutan untuk bertahan sekaligus menghadapi serangan pasukan Amerika Serikat. Menurutnya, salah satu strategi yang menarik adalah penggunaan jebakan berbahaya dengan memanfaatkan berbagai material dari alam.

“Pastinya kita melakukan riset. Jadi riset yang kami lakukan pada saat develop naskah adalah saya mempelajari soal teknik di masa perang Vietnam. Karena pada tahun itu, tentara Amerika tidak bisa mengalahkan Vietnam karena melakukan teknik serangan gerilya. Mereka bertahan di hutan tapi mereka juga menyiapkan jebakan-jebakan yang benar-benar super-duper membahayakan?” kata Sidharta Tata.

Ia melanjutkan, “Semua hal dari A sampai Z, bagaimana mereka mempersiapkan bahan bakunya dari alam, lalu kemudian elemennya apa saja, ada elemen binatang, ada elemen dari batang pohon yang kemudian dijadikan senjata, ada racun yang dimunculkan, dan banyak sekali yang tertuang di literasi perang Vietnam ini.”

2. Rumah Eyang Hari dirancang khusus untuk melumpuhkan musuh

cast dan sutradara film Serangan Balik (dok. Netflix)

Gak sampai di situ saja, rumah Eyang Hari di film Serangan Balik ternyata juga bukan sekadar tempat berteduh. Di balik desainnya yang terlihat seperti hunian biasa dan sederhana, ternyata ada konsep khusus yang membuat setiap sudutnya berpotensi menjadi bagian dari strategi pertahanan. Bahkan, rumah tersebut dirancang agar bisa menjadi senjata ketika Eyang Hari dan kedua cucunya berada di situasi terdesak.

Sidharta Tata menjelaskan bahwa ia bersama tim production design mengembangkan desain rumah tersebut menggunakan konsep caturanga yang dirancang khusus dengan tata letak yang memiliki identitas kehidupan dan kesuburan, seperti area peternakan serta tanaman sayuran. Dengan begitu, penghuni rumah bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari secara mandiri tanpa bergantung pada pihak luar. Namun, ketika ancaman datang, rumah itu juga dapat dimanfaatkan sebagai senjata untuk melumpuhkan musuh.

“Rumah itu kayak semacam puzzle, semacam tempat yang pada akhirnya ada banyak hal yang bisa dipersiapkan untuk melumpuhkan orang-orang yang mau menyerang Eyang Hari jika dibutuhkan. Dan hari itu terjadi, sehingga dari momentum kita menyiapkan plan desain bagaimana Eyang Hari sebagai mantan pasukan khusus yang kemudian punya rumah yang sudah dia desain sedemikian rupa, yang kemudian kita elaborasikan dengan Perang Vietnam beserta segala macam jebakan yang dipunya.”

Nah, untuk merealisasikan konsep tersebut, tim produksi juga melakukan survei ke sejumlah lokasi hingga akhirnya menemukan tempat di bawah kaki gunung. Kondisi lingkungan sekitar menjadi pertimbangan penting dalam menentukan jenis strategi pertahanan yang cocok untuk diterapkan.

3. Penjelasan Sidharta Tata soal latar belakang militer Eyang Hari

cast dan sutradara film Serangan Balik (dok. Netflix)

Di balik strategi bertahan dan berbagai jebakan yang telah disiapkan, karakter Eyang Hari sendiri memiliki latar belakang militer yang tidak biasa. Dalam Serangan Balik, ia digambarkan sebagai mantan anggota pasukan khusus yang memiliki kemampuan tempur di atas rata-rata. Untuk membangun karakter tersebut, Sidharta Tata mengungkapkan bahwa tim produksi bahkan sampai menyiapkan profil khusus yang mencakup latar belakang dan kemampuan militernya.

“Kita memang membuat konsep Eyang Hari itu sebagai mantan tentara, mantan pasukan khusus. Nah, kemudian ada satu momentum ketika kita bicara pasukan khusus, misi-misi yang mereka laksanakan tentu misi-misi khusus yang tidak bisa dilakukan oleh tentara pada umumnya,” lanjut sang sutradara.

Sidharta Tata melanjutkan, “Dia pasukan khusus yang bisa 1 versus 10. Itu minimal. Dia punya kemampuan itu.”

Nah, menurut sang sutradara, kemampuan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kekuatan fisik, tetapi juga teknik bertarung tingkat tinggi hingga kemampuan melumpuhkan lawan. Meski begitu, sang sutradara menegaskan bahwa Eyang Hari bukan sekadar karakter yang mengandalkan kemampuan militernya. Di balik sosoknya yang tangguh, ia tetap memiliki moral dan prinsip sebagai manusia.

“Kadang ada banyak hal-hal yang membuat dia merasa janggal dan tidak sesuai dengan tujuan dia sebagai manusia. Itulah kenapa ada keputusan besar yang harus dia lakukan untuk kemudian dia mundur dari satuannya dan memutuskan hidup sebagai manusia biasa untuk berkontemplasi untuk mencari makna dari hidup yang dia punya.”

Pada akhirnya, Sidharta Tata menegaskan bahwa meskipun Serangan Balik merupakan film fiksi, setiap strategi yang ditampilkan tetap memiliki landasan riset. Ia ingin seluruh elemen aksinya terasa autentik dan meyakinkan, terutama karena berkaitan dengan latar belakang Eyang Hari sebagai mantan anggota pasukan khusus.

Bahkan, Lukman Sardi sebagai pemeran Eyang Hari turut mendalami karakternya dengan mengamati lokasi syuting. Menurut Sidharta, sang aktor pun kerap berkeliling untuk memantau dan menganalisis kondisi di sekitarnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article