Rumus Sukses no na, Code-mixing dan Hiperfemininitas

- No na menjadi perbincangan setelah “rollerblade” dan “honk!” viral, menyusul percobaan lewat “shoot” dan “work” yang belum menciptakan gaung luas.
- Mereka memadukan bahasa Indonesia, Inggris, hingga Jawa dalam lirik dan panggung, memakai code-mixing untuk menonjolkan identitas budaya sebagai ciri khas pemasaran.
- Konsep hiperfeminitas dan fokus pada pasar Asia Tenggara, termasuk elemen budot, koplo, serta hipdut, menjadi strategi visual dan musik mereka sebelum menyasar pasar global.
Sejak dua lagu mereka yang berjudul “rollerblade” dan “honk!” viral, no na jadi perbincangan hangat warganet Indonesia. Mereka percaya girl group itu bisa jadi representasi baru Indonesia di industri hiburan global layaknya beberapa pendahulu mereka di bawah naungan label yang sama, macam Rich Brian dan NIKI.
Rumus sukses no na sepertinya terletak pada keberhasilan mereka memadukan kearifan lokal dengan tren musik masa kini. Ini menjadi keunikan yang susah ditiru. Namun, benarkah konsep dan rumus yang mereka pakai benar-benar baru dan orisinal? Coba kita telaah lebih jauh, yuk!
1. Rumus 1: Code-mixing

no na saat tampil di festival Head in the Clouds 2026 Los Angeles (instagram.com/nonawav) Lagu adalah elemen yang penting dalam perjalanan karier musisi seperti no na. Tak bisa dimungkiri, no na butuh beberapa percobaan sampai akhirnya viral seperti sekarang. Lagu debut mereka, “shoot”, tidak buruk, tetapi tak bisa menciptakan sensasi yang membuat mereka dikenal luas. Begitu pula dengan “work”.
Keajaiban baru terjadi ketika single ketiga mereka berjudul “rollerblade” dirilis pada April 2026. Tak seperti dua lagu sebelumnya, no na memasukkan bahasa Indonesia dalam lagu tersebut, mencampurnya secara luwes dengan bahasa Inggris.
Bahkan pada penampilan langsung mereka di festival Heads in the Cloud 2026 di Los Angeles, Amerika Serikat, no na menambahkan kalimat bahasa Jawa berbunyi, “Jenenge sopo?” pada akhir lagu "rollerblade II". Formula serupa mereka pakai untuk single berikutnya yang berjudul “honk!”. no na memasukkan beberapa kata dan frasa bahasa Indonesia seperti “angkot”, “kakak adek”, dan “centil” dalam lagu tersebut dan sesuai dugaan, status viral pun mereka raih.
Praktik memadukan beberapa bahasa sekaligus dalam lirik lagu dikenal dengan istilah code-mixing. Merujuk tulisan Picone berjudul ‘Lyrical Code-Switching, Multimodal Intertextuality, and Identity in Popular Music’ dalam jurnal Language, praktik ini pertama kali dipopulerkan oleh sejumlah musisi Amerika Latin. Mereka mencampur bahasa Spanyol ke dalam lagu bahasa Inggris dan sebaliknya. Hasilnya gak mengecewakan.
Kekhawatiran bahwa penggunaan bahasa asing selain bahasa Inggris bisa bikin pendengar menjauh dan pasar mereka jadi sempit terbantahkan. Shakira adalah salah satu musisi yang berhasil menjalankan praktik ini selama kariernya. Ini bahkan membuatnya menjadi langganan FIFA untuk mengisi soundtrack turnamen olahraga. Disusul oleh banyak musisi Hispanik lain, seperti Enrique Iglesias, Luis Fonsi, Becky G, J Balvin, dan Bad Bunny.
Musisi-musisi Korsel pun mengikutinya dan terbukti popularitas mereka tidak terpengaruh meski banyak pendengar mereka yang mungkin tidak berbahasa Korea. Saint Levant adalah contoh lain dari musisi yang melakukan praktik code-mixing dengan mencampurkan bahasa Inggris, Prancis, dan Arab dalam lirik-lirik gubahannya. Masih merujuk tulisan Picone, praktik ini berhasil bikin musisi lebih mudah dikenal karena punya ciri khas yang mereka ekstrak dari akar budaya masing-masing. Ciri khas tersebut pula yang mampu memfasilitasi upaya pemasaran lagu. Tampaknya, formula ini pula yang sedang dipakai no na.
2. Rumus 2: Hiperfeminitas

no na di video musik lagu "work" (instagram.com/nonawav) Rumus sukses kedua no na adalah konsep visual mereka yang matang. Gak asal feminin, no na terlihat sedang mempromosikan apa yang disebut dengan hiperfeminitas. Ini bukan sekadar tren, Roberta Fabbrocino dari Lampoon Magazine dan Caroline Reilly dari Nylon mengkategorikan hiperfemininitas sebagai gerakan sosial. Hiperfemininitas bukan cuma soal penampilan feminin atau girly biasa, ada pesan tersirat di baliknya.
Seperti kita tahu, beberapa dekade lalu, feminitas kerap dilihat sebagai bentuk konformitas terhadap nilai-nilai patriarki. Perempuan dengan label feminin identik dengan beberapa label ikutan seperti kekanak-kanakan, keibuan, lemah-lembut, penurut, manis. Bahkan femininitas sering ditabrakan dengan feminisme (emansipasi perempuan) dan kecerdasan intelektual, seolah perempuan feminin berarti tidak cerdas dan tidak melek sosial.
Kini hiperfeminitas bak sebuah gerakan yang mengeklaim kembali label feminin yang sempat tercemar oleh ide-ide patriarki. Perempuan bisa berdaya dan tetap tampil girly. Perempuan bisa tetap berpenampilan menarik dan cerdas sekaligus. Perempuan bisa centil dan tahu apa yang mereka mau. Hiperfeminitas juga berarti inklusi karena banyak dari konsep visual mereka terinspirasi oleh kultur drag yang diinisiasi oleh komunitas queer.
Girl group di bawah naungan 88rising ini cukup konsisten dengan konsep hiperfeminitas yang mereka adopsi. Mereka bukan hanya girl group dengan tampilan girly ala 2000-an, tetapi juga musisi yang setia menyuarakan inklusivitas dan keberagaman lewat lagu-lagu mereka. Bukan hanya numpang tren yang sudah diadopsi beberapa musisi lain, seperti Sabrina Carpenter, Naykilla, dan jebung, misalnya, mereka benar-benar menggunakannya untuk mempromosikan feminitas yang sehat dan profeminisme.
3. Rumus 3: memanfaatkan pasar Asia Tenggara yang potensial

no na (instagram.com/nonawav) Rumus berikutnya adalah kepiawaian no na menyasar pasar terdekat sebelum berambisi merebut atensi internasional. Tergabung dengan 88rising, pada dasarnya tujuan mereka adalah meraih pasar global, tetapi bisa kita lihat, no na tak tergesa-gesa melakukannya. Mereka tampak mencoba untuk fokus di pasar Asia Tenggara yang potensinya besar karena jumlah penduduk dan selera musik yang juga khas.
Tak gegabah menyasar pasar Barat dengan merilis musik EDM (electronic dance music) biasa, no na tampak menargetkan pencinta musik budot, koplo, dan hipdut. Ini terlihat dari beberapa tekstur dalam aransemen musik yang sudah mereka rilis sejauh ini. Mereka tahu keunikan itu adalah aset yang mahal dan susah ditiru. Ketimbang melompat jauh dengan ambisi yang tak realistis, mengapa tak memanfaatkan pasar terdekat dahulu? Itu mungkin salah satu rumus bisnis girl group satu ini.
Bagaimana menurutmu? Rumus apa lagi yang kiranya no na pakai untuk bisa sampai pada posisi ini? Apa tebakanmu tentang karier mereka ke depan? Menarik rasanya untuk membuat analisis lanjutan setelah album debut mereka dirilis.























