Ryan Adriandhy saat bicara dalam World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta, Jumat (23/10/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)
Ryan Adriandhy mengamini pandangan Mike mengenai posisi manusia dalam perkembangan teknologi AI. Sutradara Jumbo (2025) dan Na Willa (2026) tersebut menilai teknologi memang dapat memberikan banyak manfaat bagi industri perfilman, terutama dalam memperluas akses terhadap karya.
"Saya sangat setuju dengan Mike bahwa proses ini harus dipimpin oleh manusia. Teknologi memang telah sangat membantu kita, dan saya yakin akan terus demikian," ujar Ryan.
Menurut Ryan, teknologi dapat membantu berbagai aspek perfilman, termasuk distribusi, pelestarian film, hingga penyediaan takarir (subtitle). Teknologi juga memungkinkan karya dari Indonesia menjangkau audiens yang sebelumnya sulit dijangkau. Meski menyambut perkembangan AI, Ryan menekankan pentingnya melindungi sumber asli dari sebuah karya.
"Sebab, ketika kita berbicara tentang cerita, menurut saya cerita bukanlah sekadar data. Cerita bukan sekadar susunan informasi. Mungkin mesin bisa mengenali struktur atau pola sebuah cerita sehingga kita bisa menirunya, tetapi manusia, kita, menjalani hidup dan telah bercerita jauh sebelum teknologi ada," lanjutnya.
Ryan kemudian menghubungkan hal tersebut dengan berbagai peninggalan manusia dari masa lalu. Candi dengan relief di dindingnya hingga lukisan di gua merupakan bentuk bagaimana manusia meninggalkan cerita berdasarkan pengalaman hidup mereka.
"Kita menjalani hidup, merasakan malu, kehilangan orang yang dicintai, jatuh cinta, mengalami kesalahpahaman dengan orang tua, atau mungkin menjadi orang tua sendiri," ujarnya.
Menurut Ryan, pengalaman tersebutlah yang kemudian menjadi sumber lahirnya sebuah cerita. "Saya rasa, dari pengalaman-pengalaman (manusia) itulah cerita mulai muncul. Dan sisi kemanusiaan seperti inilah yang sangat berarti bagi saya," tegasnya.