Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Sekuel yang Jadwal Rilisnya Terlalu Jauh dari Film Pertama
Independence Day: Resurgence (dok. 20th Century Studios/Independence Day: Resurgence)
  • Tron: Ares hadir setelah jeda panjang, tetapi perpindahan estetika dunia digital ke dunia nyata dinilai mengurangi keunikan utama waralaba sci-fi tersebut.
  • Superman Returns, Terminator: Dark Fate, dan Dial of Destiny mencoba menghidupkan karakter ikonis lewat nostalgia, namun dinilai kurang menawarkan energi atau cerita baru yang segar.
  • Independence Day: Resurgence datang hampir dua dekade kemudian dengan skala lebih besar, tetapi perubahan latar, formula lama, dan absennya Will Smith mengurangi daya tarik film orisinal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ada film yang memang pantas mendapatkan sekuel karena ceritanya masih menyimpan banyak potensi. Namun, masalahnya adalah ketika sekuel tersebut baru dibuat setelah bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, saat antusiasme penonton terhadap film pertamanya sudah jauh berkurang. Nostalgia memang bisa menjadi alasan kuat untuk menghidupkan kembali sebuah waralaba.

Beberapa sekuel bahkan hadir ketika industri film sudah berubah cukup drastis. Karakter yang dulu populer mungkin sudah tidak lagi menjadi ikon, sementara gaya visual dan selera penonton juga berganti. Akibatnya, film yang seharusnya menjadi comeback besar justru terasa seperti proyek yang terlambat datang. Berikut lima sekuel film yang membutuhkan waktu terlalu lama hingga kehadirannya terasa kurang berarti.

1. Tron: Ares (2025)

Tron: Ares (dok. Disney/Tron: Ares)

Waralaba Tron memang punya tempat khusus di hati penggemar film sci-fi. Film pertamanya pada 1982 menjadi tontonan cult karena visual digitalnya yang unik, sementara Tron: Legacy pada 2010 kembali memperkenalkan dunia tersebut kepada generasi baru. Meski keduanya tidak selalu menjadi raksasa box office, waralaba ini berhasil mempertahankan basis penggemar yang cukup loyal.

Karena itu, Tron: Ares sebenarnya punya kesempatan untuk membawa konsep tersebut ke arah yang lebih menarik. Sayangnya, penantian panjang itu tidak menghasilkan sesuatu yang terasa istimewa. Salah satu daya tarik utama Tron justru berasal dari dunia digital dengan estetika permainan komputer yang khas, sementara Ares membawa lebih banyak unsur tersebut ke dunia nyata.

Akibatnya, keunikan yang membuat waralaba ini berbeda dari film sci-fi lain terasa semakin berkurang. Setelah menunggu begitu lama, sebagian penonton mungkin bertanya-tanya apakah film ini benar-benar membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menghasilkan cerita seperti ini.

2. Superman Returns (2006)

Superman Returns (dok. DC/Superman Returns)

Setelah Superman IV: The Quest for Peace pada 1987 mengakhiri era Superman versi Christopher Reeve dengan hasil yang mengecewakan, butuh waktu cukup panjang sebelum sang pahlawan super kembali ke layar lebar. Superman Returns mencoba menghidupkan kembali nuansa film-film klasik Richard Donner dengan Bryan Singer sebagai sutradara.

Brandon Routh bahkan dibuat tampil sebagai Superman dengan gaya yang mengingatkan pada Reeve. Sayangnya, pendekatan tersebut justru membuat film terasa seperti berada di antara nostalgia dan usaha untuk memulai sesuatu yang baru. Masalah lainnya adalah bahwa Superman Returns tidak benar-benar menawarkan energi baru yang dibutuhkan untuk menghidupkan kembali karakter tersebut.

Pada akhirnya, Warner Bros. memilih melakukan reboot dan beberapa tahun kemudian lahirlah Man of Steel, membuat Superman Returns terasa seperti persinggahan singkat dalam sejarah panjang sang Man of Steel.

3. Terminator: Dark Fate (2019)

Terminator: Dark Fate (dok. 20th Century Studio/Terminator: Dark Fate)

Kalau ada waralaba yang sepertinya tidak pernah benar-benar tahu kapan harus berhenti, Terminator adalah salah satunya. Setelah Terminator 2: Judgment Day menjadi penutup yang sangat kuat, seri ini terus mencoba melanjutkan kisahnya melalui Rise of the Machines, Salvation, hingga Genisys. Ketika Dark Fate diumumkan, kembalinya Linda Hamilton sebagai Sarah Connor sempat membuat penggemar kembali berharap.

Film ini bahkan mencoba mengabaikan beberapa sekuel sebelumnya dan menjadikannya sebagai kelanjutan langsung dari Terminator 2. Namun, keputusan tersebut tidak otomatis membuat ceritanya terasa segar.

Terminator: Dark Fate masih mengulang formula robot pembunuh dari masa depan yang mengejar manusia yang harus dilindungi. Bahkan, kematian John Connor di awal cerita justru membuat sebagian penonton merasa perkembangan dua film pertama menjadi kurang berarti.

4. Indiana Jones and the Dial of Destiny (2023)

Indiana Jones and the Dial of Destiny (dok. Lucasfilm/Indiana Jones and the Dial of Destiny)

Setelah Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull dirilis pada 2008, film tersebut sebenarnya sudah terasa seperti kesempatan yang cukup masuk akal untuk mengucapkan selamat tinggal kepada karakter Harrison Ford.

Film kelima baru hadir 15 tahun kemudian, ketika Ford sudah jauh lebih tua. Penantian panjang itu membuat tantangan terbesar film, yakni meyakinkan penonton bahwa Indiana Jones masih cocok berada di tengah aksi blockbuster.

Dial of Destiny memang mencoba mengakui usia Indy dan menjadikannya bagian dari cerita. Namun, beberapa adegan aksi terasa terlalu sulit dipercaya ketika dilakukan oleh karakter yang sudah tua. Absennya Steven Spielberg sebagai sutradara juga membuat film ini kehilangan sebagian identitas yang selama ini melekat pada seri tersebut. Alih-alih menjadi perpisahan yang benar-benar berkesan, film ini justru terasa seperti usaha terakhir untuk mempertahankan sebuah waralaba yang sudah lama selesai.

5. Independence Day: Resurgence (2016)

Independence Day: Resurgence (dok. 20th Century Studios/Independence Day: Resurgence)

Independence Day menjadi salah satu film terbesar pada era 1990-an. Perpaduan invasi alien, kehancuran kota-kota besar, humor, dan aksi bombastis membuat film tersebut menjadi tontonan blockbuster yang sangat mudah diingat. Karena itu, ketika sekuelnya diumumkan hampir 2 dekade kemudian, hal itu tentu membuat ekspektasi penonton cukup tinggi. Masalahnya, dunia perfilman sudah berubah banyak sejak film pertama dirilis pada 1996.

Resurgence mencoba memperbesar skala cerita dengan membawa manusia ke masa depan yang jauh lebih maju secara teknologi. Sayangnya, perubahan tersebut justru menghilangkan salah satu daya tarik utama film pertama, yaitu bagaimana manusia biasa menghadapi ancaman alien di dunia yang masih terasa familier. Selain itu, absennya Will Smith membuat film kehilangan salah satu wajah paling penting dari film orisinal.

Membuat sekuel setelah bertahun-tahun memang bukan hal yang otomatis buruk. Namun, film-film di atas menunjukkan bahwa nostalgia punya batas, terutama jika pembuat film hanya mengandalkan karakter dan formula lama. Dari kelima sekuel tersebut, mana yang menurutmu paling terasa datang terlambat?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article