5 Film Favorit Tim Burton, Ternyata Jadi Inspirasi Gaya Eksentriknya

- Gaya eksentrik Tim Burton dipengaruhi tontonan masa kecilnya, mencakup horor gotik, fantasi, film monster Jepang, dan fiksi ilmiah distopia.
- Burton tertarik pada kejanggalan Dracula A.D. 1972, atmosfer seperti mimpi The Wicker Man, serta efek stop-motion makhluk fantasi dalam The Golden Voyage of Sinbad.
- The War of the Gargantuas dan The Omega Man memperkuat ketertarikan Burton pada monster yang manusiawi, emosional, sekaligus terasa realistis dalam dunia gelap.
Tim Burton dikenal sebagai sutradara dengan gaya visual yang sangat khas. Film-filmnya sering dipenuhi karakter aneh, suasana gotik, monster yang justru terasa manusiawi, hingga dunia fantasi yang terlihat gelap tetapi tetap memiliki sisi jenaka. Tidak sedikit karyanya yang terasa seperti mimpi aneh, seolah berasal dari imajinasi seseorang yang tidak pernah takut menjadi berbeda.
Menariknya, gaya tersebut ternyata tidak muncul begitu saja. Burton tumbuh dengan menonton berbagai film yang kemudian memengaruhi cara pandangnya terhadap cerita, karakter, dan visual. Beberapa film favoritnya bahkan punya elemen yang terasa sangat dekat dengan karya-karyanya sendiri. Berikut lima film yang membantu memperlihatkan dari mana inspirasi gaya eksentrik Tim Burton berasal.
1. Dracula A.D. 1972 (1972)

Dracula A.D. 1972 (Dok. Warner Bros/Dracula A.D. 1972) Dracula A.D. 1972 mungkin bukan film yang paling dipuji dari deretan film Dracula produksi Hammer Horror. Film ini bahkan sempat mendapat respons kurang positif karena mencoba membawa sosok Dracula dari suasana Eropa abad ke-19 ke London pada era 1970-an. Christopher Lee kembali memerankan Dracula, sementara Peter Cushing menjadi Van Helsing.
Perpaduan horor klasik dengan budaya anak muda dan suasana London yang modern membuat film ini terasa campy dan cukup nyentrik. Meski begitu, justru ketidaksempurnaan itulah yang menarik perhatian Burton. Ia pernah melihat film tersebut sebagai contoh ketika sebuah studio mencoba mengikuti zaman dengan cara yang mungkin terasa janggal. Burton bahkan mengakui bahwa ia terkadang menyukai sebuah film justru karena kesalahannya.
2. The Wicker Man (1974)

The Wicker Man (Dok. Rialto Pictures/The Wicker Man) Kecintaan Burton terhadap karya Christopher Lee ternyata tidak berhenti pada film-film Dracula. Lee kemudian menjadi salah satu aktor yang sering bekerja sama dengannya dan tampil dalam beberapa film Burton. Karena itu, tidak mengherankan jika salah satu film Lee yang paling disukai Burton adalah The Wicker Man. Film horor ini menawarkan atmosfer jauh berbeda karena perlahan membangun rasa tidak nyaman sepanjang cerita.
Kisahnya mengikuti seorang polisi Kristen yang datang ke sebuah pulau terpencil di Skotlandia untuk menyelidiki hilangnya seorang anak perempuan. Dari luar, kehidupan masyarakat di sana terlihat cukup normal, tetapi semakin jauh penyelidikan berlangsung, semakin banyak hal ganjil yang terungkap. Burton menggambarkan film ini seperti mimpi aneh.
3. The Golden Voyage of Sinbad (1973)

The Golden Voyage of Sinbad (Dok. Columbia pictures/The Golden Voyage of Sinbad) Ketertarikan Burton terhadap animasi stop-motion sudah terlihat sejak awal kariernya. Ia kemudian terlibat dalam proyek seperti The Nightmare Before Christmas, Corpse Bride, dan Frankenweenie, yang semuanya memperlihatkan kecintaannya pada karakter dan objek yang dapat dibuat hidup melalui animasi. Salah satu sumber inspirasinya adalah karya animator legendaris Ray Harryhausen.
Karena itu, The Golden Voyage of Sinbad menjadi salah satu film favorit yang cukup masuk akal untuk Burton. Film ini mengikuti petualangan Sinbad dalam mencari Fountain of Destiny sambil berhadapan dengan penyihir bernama Koura. Daya tarik terbesarnya terletak pada makhluk-makhluk fantasi yang dibuat menggunakan teknik stop-motion, termasuk monster bersayap dan patung Kali dengan enam tangan.
4. The War of the Gargantuas (1970)

The War of the Gargantuas (Dok. Toho/The War of the Gargantuas) Jauh sebelum dikenal sebagai sutradara film-film gotik, Burton sudah terbiasa menonton film fiksi ilmiah Jepang. Salah satu yang paling membekas baginya adalah The War of the Gargantuas, film kaiju yang mempertemukan dua makhluk raksasa bernama Sanda dan Gaira. Keduanya memiliki penampilan menyerupai manusia sekaligus monster dan kemudian terlibat dalam kekacauan yang mengancam kawasan Tokyo Bay.
Film ini mungkin tidak seterkenal Godzilla, tetapi memiliki tempat khusus dalam ingatan Burton. Ada satu hal yang sangat menarik dari cara Burton melihat film monster Jepang. Baginya, makhluk-makhluk tersebut bukan sekadar monster yang harus ditakuti, tetapi juga bisa memiliki sisi manusiawi dan emosional. Pandangan itu kemudian menjadi salah satu ciri yang berulang dalam film-filmnya.
5. The Omega Man (1971)

The Omega Man (Dok. Warner Bros/The Omega Man) Film yang dibintangi Charlton Heston ini mengikuti seorang penyintas perang biologis yang hidup di tengah dunia yang telah hancur. Ia harus bertahan dari kelompok manusia yang mengalami perubahan akibat wabah tersebut. Situasi yang seharusnya terasa menyeramkan menjadi semakin menarik karena para mutan dalam film tersebut diperankan oleh manusia sungguhan.
Aspek inilah yang membuat Burton tertarik pada film tersebut. Ada kesan realistis sekaligus menyeramkan ketika sosok yang tampak seperti monster sebenarnya masih memiliki bentuk dan gerak manusia. Burton kemudian membawa nuansa serupa ke beberapa karyanya sendiri, termasuk Planet of the Apes (2001), yang turut menampilkan Charlton Heston dalam peran kecil.
Kelima film favorit Tim Burton tersebut memperlihatkan bahwa inspirasinya datang dari berbagai arah, mulai dari horor gotik,hingga fiksi ilmiah distopia. Dari lima film tersebut, mana yang paling ingin ditonton untuk melihat pengaruhnya terhadap gaya Tim Burton?




















