Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sutradara soal Nuansa 90-an di Laut Bercerita, Akui Sempat Kecolongan

5 min read
Sutradara soal Nuansa 90-an di Laut Bercerita, Akui Sempat Kecolongan
potret Yosep Anggi Noen (dok. IDN Times/Rani Asnurida)
  • Sutradara Yosep Anggi Noen memastikan detail era 1990-an dalam Laut Bercerita, dari kostum hingga logo, meski beberapa benda modern sempat lolos dan diperbaiki memakai CGI.
  • Tim melakukan riset arsip dan footage 1990-an, termasuk di Studio Audio Visual Puskat Yogyakarta. Desainer busana Retno Ratih Damayanti memakai dokumentasi pengalamannya sebagai aktivis mahasiswa.
  • Produksi melibatkan 400–500 figuran untuk demonstrasi, mendesain ulang pertokoan Semarang, serta membangun ladang jagung 2.000–3.000 meter persegi demi menghadirkan latar zaman.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Menghidupkan kembali nuansa Indonesia era 1990-an ternyata juga merupakan salah satu tantangan utama dalam produksi film Laut Bercerita. Hal tersebut diungkap langsung oleh sutradara Yosep Anggi Noen dalam agenda media visit di kantor IDN, Kamis (17/9/2026).

Anggi menjelaskan bahwa ia dan timnya harus memastikan setiap elemen yang tampil di layar tetap sesuai dengan zamannya, bahkan hingga detail terkecil. Bukan hanya kostum dan lokasi, berbagai benda yang mungkin luput dari perhatian penonton juga turut diperhatikan. Mulai dari model pakaian, aksesori, hingga logo yang muncul sekilas dalam frame, semuanya harus dipastikan tidak membawa nuansa masa kini ke dalam cerita.

Kendati demikian, proses tersebut tidak selalu berjalan sempurna. Di tengah persiapan dan riset yang cukup panjang, Anggi mengakui bahwa ia dan timnya juga sempat kecolongan beberapa detail yang ternyata tidak sesuai dengan latar waktu film. Lantas, bagaimana cara mereka mengatasinya?

  1. 1. Sempat kecolongan soal detail 90-an, Laut Bercerita andalkan CGI

    Potret Yosep Anggi Noen yang didokumentasikan oleh Rani Asnurida untuk IDN Times sebagai dokumentasi.
    potret Yosep Anggi Noen (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

    Menurut sutradara Yosep Anggi Noen, salah satu tantangan dalam menghidupkan kembali era 1990-an adalah memastikan tidak ada benda modern yang secara tidak sengaja masuk ke dalam frame. Namun, hal tersebut ternyata tidak selalu mudah untuk dikerjakan.

    Meski telah melakukan riset yang panjang dan persiapan matang, Anggi mengungkapkan bahwa ia dan timnya tetap sempat kecolongan. Salah satunya ketika menemukan seorang extras mengenakan kaus keluaran 2025. Walaupun desainnya terlihat seperti model lama, tahun produksinya tidak sesuai dengan periode yang digambarkan dalam film.

    “Kadang-kadang ada yang pakai kaus terbitan tahun 2025. Kayaknya memang desain lama, tapi kelihatan macam baru,” kata Yosep Anggi Noen sambil mengenang proses produksi film garapannya tersebut.

    Menurut Anggi, kecolongan detail juga sempat terjadi pada aksesori. Timnya pernah menemukan topi dari merek yang memang sudah eksis sejak era 1990-an, tetapi menggunakan logo versi terbaru. Namun, alih-alih melakukan syuting ulang, mereka memilih menghapus logo tersebut dengan menggunakan teknologi CGI.

    “Logo misalnya, kita harus hapus sama CGI,” lanjut sutradara asal Yogyakarta tersebut.

  2. 2. Wardrobe designer film Laut Bercerita ternyata eks aktivis 90-an, bongkar foto kuliah untuk dijadikan referensi

    Yosep Anggi Noen dan Reza Rahadian berpose bersama dalam potret dokumentasi IDN Times karya Rani Asnurida.
    potret Yosep Anggi Noen dan Reza Rahadian (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

    Sebelumnya, tim Laut Bercerita juga melakukan riset panjang untuk memahami seperti apa Indonesia pada era yang ingin mereka tampilkan. Anggi dan timnya menelusuri berbagai arsip dan footage dari tahun 1990-an, termasuk mendatangi Studio Audio Visual Puskat di Yogyakarta untuk mencari referensi visual.

    “Risetnya itu rumit. Kita harus bongkar arsip, termasuk kita juga ke lembaga-lembaga arsip. Beberapa di Jogja, misalnya ada Studio Audio Visual Puskat. Kita mulai lihat footage-footage video tahun 90-an itu kayak apa? Untuk mencari referensi visual,” ungkap Yosep Anggi Noen.

    Meskipun tidak mudah, sang sutradara merasa bahwa proses tersebut justru menjadi salah satu bagian menarik karena tim produksi, termasuk produser dan desainer juga ikut aktif dalam mencari berbagai referensi untuk memastikan setiap elemen dalam film sesuai dengan zamannya.

    Bagi Anggi Noen, kehadiran wardrobe designer, Retno Ratih Damayanti juga menjadi keuntungan tersendiri karena ia pernah menjadi aktivis mahasiswa pada era 1990-an sehingga memahami bagaimana gaya berpakaian para aktivis pada masa tersebut. Anggi menceritakan bahwa sang wardrobe designer sampai membongkar kembali foto dan dokumen saat masih kuliah untuk dijadikan sebagai referensi.

    “Itu di tahun 90-an dulu dia juga adalah aktivis mahasiswa. Jadi dia tahu betul bagaimana teman-teman aktivis yang diceritakan sama seperti yang ada di buku novelnya itu berpakaian. Bahkan dia ngeluarin foto-foto dokumen dia waktu dia kuliah. ‘Jadi kita nih, aku pas kuliah kayak gini nih. Muka-mukanya, makeup-makeupnya, terus baju-bajunya, gitu.’”

    Anggi Noen melanjutkan, “Jadi dia benar-benar pelaku, dia tahu bagaimana mendesain bajunya. Saya kira itu keuntungan yang besar sekali untuk tim ini, karena kita juga punya orang yang pernah mengalami masa itu.”

  3. 3. Libatkan 400-500 extras, bangun ladang jagung hingga desain ulang pertokoan di Semarang, seberapa besar skala produksi film Laut Bercerita?

    Yosep Anggi Noen berpose untuk potret berlatar belakang polos dalam dokumentasi IDN Times oleh Rani Asnurida.
    potret Yosep Anggi Noen (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

    Berbagai kebutuhan untuk menghidupkan film Laut Bercerita tentu tidak bisa dibilang sederhana. Dalam hal ini, tim produksi sampai melibatkan sekitar 400 hingga 500 extras hanya untuk adegan demonstrasi saja. Anggi mengungkapkan, mereka juga nekat mengubah sebuah area pertokoan di Semarang agar menyerupai kawasan di Yogyakarta pada era 1990-an. Sejumlah papan nama toko diganti dan berbagai elemen di sekitar lokasi ditata ulang untuk menyesuaikan kebutuhan cerita. Lokasi tersebut bahkan disebut memiliki panjang sekitar 200 hingga 300 meter dengan deretan toko di sisi kanan dan kiri, lho.

    “Bentuknya kayak letter S. Gak bisa diukur, mungkin ada puluhan toko. Ada jalan mungkin 200–300 meter. Mungkin ada sekitar 20 toko kiri-kanan, terdapat beberapa memang sudah tutup, terus kita desain lagi,” kata sang sutradara.

    Di samping itu, produksi film ini sampai membangun ladang jagung yang cukup luas sekitar 2.000 hingga 3.000 meter persegi untuk mendukung salah satu adegan dalam cerita Laut Bercerita.

    Walaupun membutuhkan berbagai kebutuhan produksi yang cukup kompleks, Anggi enggan menyebut Laut Bercerita sebagai film dengan skala produksi yang sangat besar. Di sisi lain, ia juga menegaskan bahwa skala produksi film ini tidak bisa dianggap sederhana. Menurutnya, tingkat kesulitan produksi lebih banyak dipengaruhi oleh kebutuhan untuk membangun kembali sebuah zaman. Selain adegan dengan ratusan extras dan lokasi yang harus didesain ulang, ada pula adegan-adegan yang berlangsung di dalam rumah dan memiliki kebutuhan produksi yang lebih sederhana.

    “Tentu ini skala yang cukup rumit. Rumit karena kita menciptakan zaman yang berbeda. Tapi juga sebenarnya di titik-titik tertentu film ini simple banget, karena berada dalam rumah. Orang yang menunggu dalam rumah, bercakap-cakap dalam rumah, makan malam keluarga.”

    Pada akhirnya, skala produksi film Laut Bercerita bukan hanya soal banyaknya orang yang terlibat atau luasnya lokasi syuting, tetapi bagaimana tim menyatukan berbagai detail agar suasana Indonesia era 1990-an terasa meyakinkan. Anggi mengatakan, kebutuhan tersebut tetap disesuaikan dengan anggaran yang tersedia dengan membuat perimbangan antara adegan yang membutuhkan skala besar dan bagian yang dapat dikerjakan secara lebih sederhana, sehingga produksinya pun tetap berjalan sesuai kemampuan tim.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More