Potret Nuya Susantono, sutradara teater musikal Senja Teduh Pelita, dijumpai usai pertunjukan pada Jumat (3/7/2026) (IDN Times/Juan Dwi)
Selain dari kemampuan akting hingga iringan instrumen lagu yang menarik, penonton juga dimanjakan secara visual lewat koreografi sampai tata artistik yang ciamik. Faktor-faktor itulah yang turut menciptakan suasana bagi penonton untuk ikut masuk ke dalam dunia kisah Arah di atas panggung.
Visual indah dalam pementasan nyatanya juga gak lepas dari kerja sama Nuya dengan tim yang terlibat di balik layar. Ia pun bersyukur karena telah memiliki tim yang sangat kompak diajak bekerja sama dalam project teater Senja Teduh Pelita kali ini.
"Aku punya partner artistic director untuk mikirin visualnya kira-kira gimana. Aku punya koreografer juga untuk mikirin konsep movement-nya seperti apa. Aku punya music director juga yang akan memikirkan konsep bunyinya seperti apa. Masing-masing departemen ini akan bawa ide apa, cocok gak dikawinkan dengan ide dari departemen lain. Bersyukurnya aku punya tim yang luar biasa dan kompak," pungkasnya.
Musikal Senja Teduh Pelita bercerita tentang dunia yang porak-poranda di masa depan akibat keserakahan manusia dan krisis yang tak kunjung selesai. Situasi itu membuat seorang anak bernama Arah bersama kawan-kawannya membentuk Pasukan Pelita, sekelompok anak cerdas yang mampu bertahan hidup dengan berbagai keahlian mereka. Ketika Arah mengajak Pasukan Pelita melanjutkan misi pencarian orangtua yang telah menghilang, timbullah perdebatan besar di antara mereka.
Pertunjukan teater musikal Senja Teduh Pelita masih dapat disaksikan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, sampai tanggal 12 Juli 2026. Tentunya, ini bisa menjadi salah satu alternatif pilihan hiburan menarik di masa liburan sekolah.