Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Topik Menarik di Anime Oshi no Ko S3 E3, Jadi Spotlight!
Oshi no Ko (dok. Doga Kobo/Oshi no Ko)
  • Episode 3 musim ketiga Oshi no Ko menyoroti sisi gelap industri hiburan lewat fokus pada dunia cosplay dan perjuangan karakter Ruby yang makin kompleks.
  • Anime ini membahas isu lisensi karya, doujin, serta dilema moralitas dalam produksi konten TV yang sering berbenturan dengan tuntutan rating dan keuntungan.
  • Penanganan skandal di industri hiburan digambarkan detail, menunjukkan strategi krisis seperti kompensasi korban hingga pengeditan konten demi menjaga reputasi pihak terkait.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Anime Oshi no Ko baru saja menayangkan musim ketiga untuk episode ketiganya. Arc yang berfokus pada perkembangan karakter Ruby ke arah negatif. Meski begitu, secara umum cerita ini masih konsisten dalam menguak sisi gelap industri hiburan yang penuh intrik.

Di episode terbarunya, dunia cosplayer akan menjadi pengikat utama ceritanya. Sebagai bagian dari konklusi konflik, ada lima topik menarik di anime Oshi no Ko S3 E3 yang sukses jadi spotlight, terutama di kalangan otaku. Mari bedah tiap poin-poinnya!

1. Cosplay

Oshi no Ko (dok. Doga Kobo/Oshi no Ko)

Cosplay merupakan aktivitas mengenakan pakaian, aksesori, hingga riasan wajah agar terlihat semirip mungkin dengan karakter tertentu. Paling lumrah adalah meniru karakter dari manga, anime, gim, film, atau serial terkenal. Akan tetapi, tak jarang ada juga yang bercosplay sebagai karakter original dengan vibe tertentu.

Kegiatan ini umumnya bersifat nonprofit dan justru cenderung menguras kantong pelakunya. Namun, sebagai bagian dari ekosistem industri kreatif, bukan hal mustahil untuk mencari celah bisnis dan memperoleh benefit tertentu. Contohnya dalam Oshi no Ko ketika kru TV berusaha menjadikannya konten.

Hal menarik yang ditekankan anime ini pada kegiatan cosplay yakni bagaimana para cosplayer umumnya menekuni bidang tersebut dengan penuh rasa cinta. Hanya untuk satu kostum saja, banyak waktu dan usaha yang harus dikerahkan. Benar-benar hobi yang tak boleh dipandang sebelah mata.

2. Lisensi Karya

Oshi no Ko (dok. Doga Kobo/Oshi no Ko)

Terkait dengan aktivitas cosplay, akhirnya disinggung juga mengenai lisensi karya. Dalam dunia wibu, kegiatan cosplay yang berada di zona hukum abu-abu sudah menjadi rahasia umum. Kegiatan tersebut masih bisa eksis berkat kebanyakan kreator asli yang memegang hak lisensi karya, membiarkannya sebagai toleransi khusus karena memandang cosplay sebagai ekspresi cinta penggemar.

Menjadi agak berbeda jika kegiatan cosplay dilakukan secara sadar untuk memperoleh profit. Jadi, pada episode 3 season 3 anime Oshi no Ko, dijelaskan bahwa kru TV perlu mengurus izin lisensi sebelum bisa syuting acara dengan memanfaatkan karakter Tokyo Blade. Hal tersebut berkaitan erat dengan perlindungan karya dan hak ekonomi pencipta aslinya yang bergantung pada royalti.

Pemberian izin juga umumnya harus mempertimbangkan kontrak sebelumnya seperti hak menjual merch, karakter figure, adaptasi, dsb. Akan menjadi masalah jika izin menjadi tumpang tindih dan merugikan pihak-pihak yang telah membeli lisensi secara resmi. Permasalahan mengenai lisensi karya juga pernah menjadi konflik krusial di Oshi no Ko season 2 terkait proses adaptasi Tokyo Blade menjadi pertunjukan teater.

3. Doujin

Oshi no Ko (dok. Doga Kobo/Oshi no Ko)

Ekosistem penggemar lain yang serupa dengan cosplay adalah doujin. Doujin mengacu pada karya yang diproduksi secara mandiri. Hanya saja, selain karya asli, banyak karya doujin yang berasal dari fanfiction. Dengan kata lain, pelakunya memanfaatkan ketenaran karya orang lain untuk keuntungan komersial secara sepihak.

Akibat mengejar keuntungan, terkadang ada saja produk doujin yang kurang menghormati karya aslinya, seperti mengubahnya menjadi konten vulgar 18+. Inilah yang dikritik secara khusus dalam anime Oshi no Ko season 3 episode 3. Namun seperti yang telah disinggung di awal bahwa aktivitas ini berada di zona abu-abu layaknya cosplay, jadi fan fiction yang masih menghormati karya asli seringnya tak terlalu dipermasalahkan.

4. Moralitas vs Rating TV

Oshi no Ko (dok. Doga Kobo/Oshi no Ko)

Layaknya konten medsos yang mengejar view, program acara TV juga mengejar angka statistik dari rating penonton. Umumnya lebih mudah memperoleh perhatian daripada konten yang bermain-main dengan batas moralitas. Menciptakan sensasi sesaat yang cukup negatif untuk memancing reaksi dan perdebatan publik, tetapi masih aman untuk menghindari kritik berlebihan.

Fenomena ini menciptakan dilema etis bagi para produser yang terjebak di antara idealisme dan tuntutan bisnis. Mereka terkadang menipu diri mereka sendiri untuk meringankan rasa bersalah. Strategi tersebut sering kali efektif meskipun pada akhirnya integritas program akan dipertaruhkan ketika batas moralitas benar-benar terlampaui, seperti kasus kepala sutradara Urushibara di anime Oshi no Ko.

5. Penanganan Scandal

Oshi no Ko (dok. Doga Kobo/Oshi no Ko)

Industri hiburan sangat rentan terhadap masalah skandal. Jika tidak ditangani dengan baik, maka akan sangat merugikan pihak terkait secara ekonomi. Mungkin itu sebabnya para pekerja kreatif yang terlibat secara bertahap mengembangkan kemampuannya dalam menangani krisis akibat skandal.

Memberikan kompensasi kepada korban, melakukan negosiasi tertutup, adanya individu konkret yang mengambil tanggung jawab untuk meredakan kritik, perubahan jadwal tayang dan pengeditan konten adalah sebagian kecil dari contoh penanganan skandal yang ditunjukkan anime Oshi no Ko pada episode 3 di season 3. Sebenarnya masih banyak contoh penanganan skandal yang dieksplorasi dalam anime ini, tergantung pada kasusnya.

Berkat konten maupun topik menarik di anime Oshi no Ko S3 E3, tak heran jika tontonan ini sering memicu diskusi panjang. Materinya jelas kaya akan wawasan yang membuat penonton internasional makin mengenal industri kreatif Jepang. Dari 5 poin yang telah dibahas, topik manakah yang paling menarik perhatianmu atau bahkan mengubah sudut pandangmu? Mari bagikan pendapatmu!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team