ilustrasi London, Inggris (pexels.com/Amandeep Singh)
Inggris melengkapi daftar 10 besar dengan skor matematika rata-rata 488 poin. Posisi ini menempatkan Inggris di atas sejumlah negara Barat lainnya dalam pemeringkatan terbaru. Kanada, misalnya, berada satu tingkat di bawah Inggris dengan skor 485 poin. Sementara itu, beberapa negara besar Eropa seperti Jerman, Prancis, Spanyol, dan Italia juga berada di bawah Kanada dalam daftar tersebut.
Hasil PISA 2025 yang dirilis pada 2026 memperlihatkan dominasi yang cukup kuat dari Asia, terutama Asia Timur, dalam kemampuan matematika pelajar. China berada di posisi teratas dengan skor 612, sedangkan Singapura, Macao, Taiwan, Jepang, Korea, dan Hong Kong juga berhasil masuk posisi 7 besar. Di luar Asia, Estonia menjadi negara Eropa dengan posisi tertinggi, disusul Swiss dan Inggris yang melengkapi 10 besar.
Namun, hasil ini juga memperlihatkan persoalan yang lebih luas karena rata-rata skor matematika negara-negara OECD turun 22 poin antara 2015 dan 2025, setara dengan sedikit lebih dari satu tahun pembelajaran. PISA juga menemukan adanya kaitan antara penggunaan perangkat digital untuk hiburan dan hasil belajar, terutama pada pelajar yang menghabiskan lebih dari 4 jam sehari untuk aktivitas digital di luar sekolah.
Jadi, pemeringkatan ini gak sekadar menunjukkan siapa yang paling tinggi nilainya, tapi juga memberikan gambaran tentang perubahan kemampuan matematika pelajar di berbagai negara.